Labels

Senin, 17 Desember 2012

NOVEL DIARY '02


1
 
MASA KECIL

Penghujung tahun 1990. Kampung Tambun Jaya di ujung utara kabupaten Bekasi. Ke arah utara, kurang lebih tiga kilometer, terdapat pasar Bojong, tempat pertemuan penjual dan pembeli untuk satu wilayah kecamatan Tarumajaya. Lebih ke utara lagi akan sampai ke ujung laut pulau Jawa. Di sini akan dijumpai satu monumen sejarah masyarakat Betawi yang kian terkikis, bukan hanya oleh deraan ombak laut, di sisi lain ritual pembangunan untuk program industri siap menggilas keberadaan rumah si Pitung, tokoh Robin Hoodnya masyarakat kecil suku Betawi tempo doele. Dari kampung Tambun Jaya ke arah barat akan ditemukan pembatas wilayah DKI Jakarta. Ke arah selatan, berdampingan langsung dengan batas wilayah kecamatan Medan Satria, kota Bekasi. Bila ingin terus menelusuri ke arah selatan akan sampai ke kabupaten Bogor. Sementara bila terus ke arah timur akan bertemu dengan kecamatan Babelan. Kemudian kecamatan Tambun Utara. Setelah itu kecamatan Cibitung. Berlanjut ke Cikarang Utara. Lalu masuk ke Cikarang Timur. Sampailah ke kabupaten Karawang.
Masyarakat Tambun Jaya baru mengenal dunia luar sekitar tahun 80-an. Saat itu pertama kali tiang-tiang listrik dipancangkan untuk mengaliri listrik ke rumah-rumah penduduk. Hanya dua kepala keluarga ketika itu yang mampu memiliki televisi, itupun berwarna hitam putih. Tempat para orang tua, remaja dan anak-anak berkumpul saat ada pertandingan olah raga kelas dunia, seperti sepak bola maupun tinju. Meskipun menjadi pembatas wilayah kota Jakarta, untuk mencapainya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kurang lebih lima kilometer untuk dapat menaiki mobil angkutan kota yang menuju terminal Pulo Gadung. Ojek menjadi satu-satunya sarana yang dapat dipergunakan untuk keluar masuknya kampung. Mobil kendaraan pribadi yang memasuki kampung ini sering menjadi tontonan menarik bagi anak-anak. Terlebih bila musim hujan tiba beberapa pemuda sengaja berdiri di pinggir jalan untuk membantu mendorong mobil-mobil pribadi yang terjebak lumpur jalan tak beraspal. Lumayan untuk sekedar membeli rokok hasil pemberian pemilik mobil. Pohon-pohon besar  berdiri kokoh di sepanjang jalan perkampungan. Pohon kelapa berbaris  di pinggir kampung. Menjadi pembatas  antara tempat perkampungan penduduk dengan lahan pertanian. Air jernih mengalir di sepanjang sungai-sungai kecil yang berada di luar kampung. Selain berfungsi sebagai tempat irigasi, sungai-sungai ini sebagai tempat penampung air hujan untuk dialirkan ke sungai besar yang membentang dari utara ke selatan menuju laut. Debit air di sungai meluap pada musim hujan sebab tidak dapat menampung kiriman air yang berasal dari kota Bekasi dari satu sisi dan dari arah barat mengalir tumpahan air asal kota Jakarta.    
Banjir saat musim hujan menjadi rutinitas tahunan. Tanggul yang menjadi pembatas pinggiran sungai tidak dapat menahan luapan air. Empang tempat ternak ikan lele maupun gurame yang berada di tengah-tengah perkampungan telah dikelilingi jaring pengaman oleh pemiliknya. Namun demikian tidak sedikit ikan-ikan tersebut keluar dari empang memasuki halaman-halaman rumah penduduk untuk kemudian menjadi ajang buruan oleh warga sekitarnya. Tidak ada yang aneh ketika air menggenangi rumah para warga. Aktivitas warga berjalan seperti biasa. Kegiatan mencuci pakaian oleh para ibu dan remaja putri beralih dari sungai kecil di ujung kampung ke halaman-halaman rumah. Penyakit sebab kutu air biasanya menjangkit. Tapi itu dianggap biasa. Tidak membuat aktivitas warga terganggu. Tidak ada keluh. Tidak juga resah. Senyum gembira mengembang dari bibir para warganya, baik kecil, remaja, maupun yang tua. Musim hujan tidak ubahnya seperti musim kemarau. Bila musim kemarau tiba adalah saat memanen padi. Maka musim hujan adalah saat memanen ikan-ikan yang berada di sungai-sungai yang berada di luar kampung. Balai desa menjadi alternatif bagi warga yang rumahnya tidak dapat ditempati sebab banjir. Tidak ada tenda penampung. Tidak ada posko tempat setiap makanan datang dari luar kampung. Tidak ada mantri kesehatan yang datang menjenguk. Mereka menyatu akrab dengan keadaan. Setelah subuh para laki-laki dan wanita dewasa keluar rumah menuju pinggir-pinggir sungai yang berada di pinggir kampung. Bagi para lelaki mereka membawa perlengkapan alat penangkap ikan seperti jala dan umbing. Sedangkan para wanitanya biasanya membawa tanggok dan anco. Mereka berada di pinggir sungai hingga senja menjelang. Tidak jarang dilanjutkan sampai larut malam. Berlimpah ikan-ikan yang diperoleh. Selain untuk dimakan sendiri, tidak jarang ikan-ikan tersebut dijual kepada orang luar kampung. Kegembiraan musim hujan juga dirasakan anak-anak kampung. Sungai yang mencapai kedalaman tiga meter menjadi tempat bermain mereka. Senyum, tawa dan canda berbaur dengan tubuh bugil mereka di sungai. Tidak ada rasa takut oleh kedalaman sungai. Tidak ada rasa khawatir dari para orang tua. Karena mereka yakin bahwa sungai akan menjaga anak-anak mereka. Sebagian anak-anak pergi ke pematang-pematang sawah yang tertutup air. Mereka menangkap burung dengan jangkrik sebagai umpannya. Lapangan sepak bola yang pada musim kemarau dijadikan ajang pertandingan sepak bola antar kampung. Pada musim hujan biasanya terendam oleh air dan dijadikan tempat mencari ikan oleh para warga.
Saat musim hujan berlalu. Tiba waktu menanam bibit padi. Beberapa sungai menjadi alat transportasi membawa bibit-bibit padi dari satu tempat ke tempat yang lain. Para lelaki terlihat sibuk membajak sawah, mengairi air, dan memperbaiki setiap galengan. Sementara para wanitanya sibuk menanam bibit-bibit padi. Selesai menanam bibit padi para wanita tersebut kembali untuk meneruskan pekerjaan rumahnya. Sementara yang lelaki tetap berada di pematang sawah hingga waktu senja.
Beberapa bulan kemudian hamparan tanah menghijau sepanjang mata memandang. Warna hijau juga menghiasi tanggul yang membentang mengikuti arus sungai. Di sini tumbuh berbagai macam pohon. Menjadi habitat berbagai macam burung untuk dapat berkembang biak. Ikut meramaikan suasana dengan berbagai corak lagu yang didendangkan. Menyumbangkan lagu untuk para petani di siang hari. Dan hanya menatap bisu melihat segerombolan tikus yang keluar dari sarangnya menuju pematang-pematang sawah di malam hari.
Padi mulai menguning. Senyum mengembang dari bibir-bibir para petani. Musim panen akan segera tiba. Burung-burung sawah ikut gembira beterbangan di atas sumpah serapah para petani. Pria dan wanita dewasa tumpah ruah menuju sawah yang siap dipanen. Kini tiba saat untuk mengumpulkan padi di lumbung-lumbung yang mulai kosong diambil saat musim hujan lalu. Perahu-perahu merapat di pinggir-pinggir sungai untuk mengangkut padi yang berada di hulu sungai. Sepanjang pinggir jalan sudah tampak bos-bos gabah, pengepul hasil panen para petani. Mereka berdiri bersama mobil yang siap mengangkut hasil panen yang dijual oleh para petani karena ada kebutuhan yang mendesak. Hasil pembelian dari para petani mereka jual kembali kepada pihak lain dengan harga yang lebih tinggi.
Padi hasil panen dibawa ke rumah masing-masing. Bagi petani penggarap terlebih dahulu dibagi untuk pemilik lahan. Ketika matahari pagi muncul, mereka keluarkan padi-padi tersebut dari dalam rumah untuk dikeringkan di halaman rumah atau di pinggir-pinggir jalan. Di sore hari, kembali mereka kumpulkan ke dalam rumah. Begitulah sampai beberapa hari. Sampai padi benar-benar sudah kering dan siap digiling. Hasil panen sebagian disimpan untuk persediaan makan sehari-hari, sebagian dijual untuk menutupi biaya sekolah anak-anak mereka. Alam menjadi anugerah. Karena ia didekati untuk menjadi sahabat manusia.
Ikatan emosional warga kampung teramat erat. Ketika seorang warga sakit maka tetangga rumah yang terdekat yang lebih dahulu mengetahui dan memberi pertolongan pertama. Setiap kali ada aroma lezat masakan yang tercium maka sudah dapat dipastikan akan disusul dengan kedatangan semangkok makanan lezat dari tetangga sebelah rumah. Baik buruk tingkah laku seseorang akan menjadi buah bibir warga sekampung. Sejuta pujian bagi sebuah keluarga bila salah satu anggota keluarganya dapat menjadi orang sukses. Sebaliknya, cap hina akan diberikan bagi sebuah keluarga yang salah satu anggota keluarganya ada yang melanggar norma-norma adat dan agama. Sikap gotong royong tampak pada setiap kegiatan seperti pada acara pesta perkawinan. Para lelaki mencari bambu untuk membuat tempat pesta. Sedangkan perempuannya saling membantu memasak segala macam makanan. Ketika ada seorang warga yang ingin membangun rumah, banyak warga ikut membantu menaikkan genting hingga selesai. Begitu juga saat salah seorang warga mengkhitankan anaknya, maka sudah pasti seluruh ibu-ibu kampung datang untuk berbagi suka cita.
Setiap malam minggu para pemuda berkunjung ke rumah remaja putri. Tidak ada acara pergi bersama. Keduanya biasanya hanya berbincang-bincang melepas rasa rindu. Bila tiba waktu untuk melepas masa lajang, pihak dari keluarga lelaki datang ke pihak perempuan untuk melamar. Baru di kemudian hari ditentukan hari pernikahan. Setelah itu pesta perkawinan digelar. Anak-anak ramai bermain permainan benteng, petak umpat serta galasin. Pagi harinya mereka sudah berkumpul di tanah lapang. Mereka melakukan beberapa permainan. Ada yang bermain kelereng, permainan gambar, tok kadal, maupun panggal. Yang perempuannya asyik bermain sasa, yaitu permainan melompat dengan menggunakan tali yang dibuat dari karet gelang. Di sore harinya, semua berkumpul di lapangan sepak bola di pinggir kampung untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antar kampung.
Saat musim panen telah berakhir merupakan saat gembira bagi Yazid  dan sebagian anak yang ada di kampungnya. Karena tidak terlalu membuat mereka sibuk untuk menjaga hewan ternak mereka dari tanaman padi milik para petani.
“Yazid, cepatlah bangun!” Baru saja tubuhnya disandarkan di bangku ruang tamu. Baju sekolah masih dikenakannya. Segera ia bangun menuju ruang tengah tempat biasa ibunya menyiapkan makan siang.
“Ibu, tadi aku dipanggil Bu Zubaidah. Katanya salam buat Ibu. Dia bertanya tentang kabar Ibu!” Tangan kanannya mengambil segelas air putih untuk melancarkan masuknya nasi dari tenggorokannya.
“Ibu Zubaidah adalah teman sekelas Ibu di sekolahmu dahulu. Dia teman paling akrab Ibu di sekolah. Dia dahulu sering berkunjung ke rumah kita ini. Ibu pun demikian, sering berkunjung ke rumahnya. Bila hari libur Ibu sering menginap di rumahnya. Kedua orang tuanya sangat baik kepada Ibu. Di kampungnya, mereka termasuk keluarga terpandang. Hingga sekolah selesai, ia melanjutkan sekolahnya ke pondok pesantren di Tasikmalaya. Ibu bertemu terakhir kali ketika dia hadir di pesta perkawinan Ibu dan ayahmu”.
Nasi yang hampir masuk ke mulut Yazid terhenti. Kata-kata ayah dari mulut ibunya membuatnya sejenak terdiam. Matanya menerawang jauh menembus pintu luar rumah. Entah apa yang terbersit di benaknya. Seperti menyimpan sejuta pertanyaan di balik wajah polosnya. Bertanya tentang separuh sayapnya yang hilang. Pergi bersama sejuta asa yang ikut bersamanya.
“Yazid…!”.
“Ibu…!” Suara ibunya membuyarkan lamunannya.
“Yazid, Ibu tahu engkau pasti sedang membayangkan almarhum ayahmu. Ibu dapat memahami bila engkau belum bisa menerima kenyataan hidup tanpa kehadiran seorang ayah.”
“Aku minta maaf Bu, bila kembali telah mengusik bayangan masa lalu Ibu. Entah sudah berapa kali Ibu cerita tentang ayah. Kisah tentang kesetiaan dan pengorbanan. Akulah serpihan masa lalu Ibu yang hilang. Ah, andai saja serpihan-serpihan itu tetap utuh. Alangkah bahagianya hidup kita!”.
Keduanya hanya diam. Suasana hening sesaat. Masing-masing mencoba menapaki masa lalu. Meraba kenangan yang hilang. Tidak lama berselang Yazid telah masuk dalam pelukan ibunya. Lembut belaian tangan sang bunda menyapa rambut kepalanya. Bila sudah demikian, sebutir air jernih keluar dari kelopak mata ibunya. Menyesal rasa hati Yazid sebab telah membuat ibunya kembali bersedih mengingat masa lalu.
“Selesaikan makanmu. Hari semakin siang!”.    
Selesai mengganti pakaian sekolah. Yazid menuju samping rumah, tempat beberapa ekor kambing miliknya yang terdengar saling bersahutan sudah tidak sabar ingin keluar dari kandang. Dia telusuri jalan kampung. Sebentar mengikuti arah laju kambing-kambingnya. Sesaat kemudian ia harus mendahului kambing-kambingnya untuk menjaga agar tidak memasuki halaman rumah penduduk yang dipergunakan untuk menjemur padi. Tidak jarang makian diarahkan kepadanya ketika moncong-moncong kambingnya menyentuh padi yang dijemur sepanjang perjalanan.
Beberapa saat kemudian sampailah Yazid di hamparan luas seperti tak berujung. Serempak kambing-kambing Yazid berhamburan mengais rumput-rumput di pematang sawah. Ada beberapa anak pengembala teman sekampung Yazid yang telah lebih dahulu sampai. Topi lusuh menjadi tempat berteduh dari terik sinar mentari.
“Yazid, ayo ke sini!!!” Asep memanggil ketika mengetahui kehadiran Yazid.
“Kita akan buat tempat berteduh dari terik sinar matahari!”.
Keduanya memanfaatkan ilalang serta sisa-sisa batang padi dari sawah yang bekas dipanen untuk dibuat tempat berteduh. Lumayan untuk ditempati. Meski hawa panas tetap memasuki tempat keduanya. Dari sini para pengembala biasanya sedikit dapat istirahat sambil mengamati keberadaan kambing-kambing mereka yang berada di kejauhan. Irama lagu dangdut mengalun dari radio kecil yang dibawa Asep.
“Asep, aku harus menghampiri kambingku yang sudah tampak semakin jauh!” Yazid bergegas keluar meninggalkan Asep. Dia telusuri jalan setapak di pinggir sungai menuju arah selatan. Katak-katak kecil berlompatan ke arah sungai sebab terusik oleh langkah Yazid. Katak-katak inilah yang sering dicari sebagai umpan untuk meneger, yaitu memancing ikan dengan katak kecil sebagai umpannya. Belalang ikut melompat dari satu batang rumput ke batang rumput yang lain ketika tersentuh kaki Yazid. Terlihat para capung beterbangan dari pohon-pohon kecil yang berada di pinggir-pinggir sungai. Seperti ingin mengajak bermain bergembira makhluk isi sungai. Burung-burung sawah juga tidak ketinggalan, terlihat mengais sisa-sisa padi di pematang sawah.
Alam punya keteraturannya tersendiri. Berjalan sesuai ekosistemnya. Saling mengisi antara yang satu dengan yang lainnya. Nyanyian burung sawah terkait dengan berlimpahnya makanan teruntuknya. Sorak ikan di sungai sebagai tanda syukurnya atas kejernihan air tempatnya tinggal. Lompatan katak di sisi-sisi sungai adalah rasa riangnya tinggal di hamparan rumput yang hijau. Ular, tikus, dan binatang sawah lainnya tampak genit dengan sesekali memperlihatkan tubuh mereka kepada manusia.
Sebagian besar hari-hari Yazid lebih banyak dihabiskan di pematang sawah. Di sini senyumnya mengembang. Tubuhnya menyatu dengan air. Berbaur dengan binatang-binatang sungai. Bernyanyi bersama burung-burung di atas pohon Lontorogung. Panas terik mentari beserta guyuran air musim hujan menjadi teman setia. Kulitnya terbakar saat musim kemarau. Tubuhnya sering menggigil kedinginan saat musim hujan tiba. Setelah usai sekolah, Yazid melepas puluhan ekor kambing dari kandangnya. Dan kembali setelah senja tiba. Ujung Monas yang tampak di kejauhan saat udara di sebelah barat cerah menjadi hiburan tersendiri ketika penat.
Ada suka yang kerap bisa dirasakan oleh Yazid, yaitu di saat hewan peliharaannya ada yang melahirkan, saat banyak ikan yang diperoleh dari kubangan sawah yang baru selesai dipanen, saat melihat burung-burung sawah yang terkena jaring penangkap, saat memperoleh telur dari bebek-bebek yang dilepas di pematang-pematang sawah. Dari bola mata indahnya terkadang mengalir air mata sesal sebab kematian kambingnya atau hilang terbawa arus sungai.
Hari telah masuk senja ketika Yazid kembali ke rumah. Anak-anak di kampungnya terlihat ceria sambil berlarian menuju masjid. Di pundak mereka tersangkil sebuah kantung berisi kitab suci al-Qur’an. Di masjid tempat Yazid dan teman-temannya mengaji kepada seorang ustadz. Ia baru dapat istirahat setelah usai mengaji. Tidak lama kemudian tubuhnya terbaring di atas tempat tidur. Rasa lelah membuat matanya cepat terpejam tidur. Ibunya menaruh selimut ke tubuh Yazid. Dia pandang wajah  Yazid. Tubuh kecil dengan beban berat yang harus dipikulnya. Wajah tampan tertutupi debu jalan. Jemari mungil tampak keras tersinari matahari. Telapak kaki pecah menghitam menginjak panas rongga tanah. Saat adzan shubuh berkumandang, Yazid sudah terbangun dari tidurnya, pergi ke masjid dan kembali mengaji. Setelah itu bersiap-siap pergi ke sekolah.
Begitulah Yazid kecil, menghabiskan masa kesehariannya dengan peluh keringat sebagai anak desa yang mempunyai impian untuk meraih masa depan yang lebih ceria.



























2
 
KEHILANGAN

Suara adzan ashar terdengar mengalun terbawa angin sore. Mengalir melewati dahan pohon di pinggir sawah yang telah habis dipanen. Yazid segera mengambil air wudlu di selokan kecil yang menyisakan sedikit air sebab musim kemarau. Di atas tumpukan jerami, di bawah rindang pohon Lontorogung, Yazid mengangkat tangan, bertakbir, mulai menunaikan shalat ashar.
Baru saja shalat ashar ditunaikan. Tiba-tiba salah seorang dari teman Yazid berteriak.
“Hai, sungai di pinggir kampung dituba!”
Serempak mereka semua berlari menuju sungai besar yang airnya menyusut mengering sebab musim kemarau yang telah lama berlangsung. Biasanya hampir semua orang di kampung keluar membawa berbagai macam alat penangkap ikan. Kesempatan ini jarang terjadi. Hanya sekali dalam setahun saat musim kemarau. Bersama-sama turun ke sungai menangkap ikan yang mabuk sebab diobati. Ikan-ikan berukuran kecil dapat diambil oleh penduduk. Sedangkan ikan-ikan yang besar diambil oleh pemodal yang membeli obat untuk membuat ikan mabuk. Mereka menyusuri sungai sampai jauh meninggalkan kampung.
“Ayo Yazid kita mencari ikan. Biarkan kambing-kambing kita disini.!”
Bergegas Yazid dan kawan-kawannya meninggalkan kambing-kambing mereka yang sedang asyik memakan rumput di pematang sawah.
Penduduk kampung sudah banyak yang datang. Ada yang langsung turun ke sungai. Ada pula yang hanya berada di pinggir sungai. Menunggu ikan merapat ke pinggir untuk selanjutnya ditangkap dengan menggunakan tanggok.
Boleh dibilang ini adalah pesta rakyat. Tua-kecil, pria-wanita, bersama bergembira mencari ikan-ikan yang berenang kian kemari, berlompatan sebab pengaruh obat yang memabukkan. Terkadang tawa berderai di saat ada ikan besar yang luput ditangkap. Tidak jarang bukan ikan yang diperoleh tapi ular. Mereka semua mengikuti arus sungai. Sampai hilang pengaruh obat sebab kedalaman sungai dan jauhnya jarak dari tempat semula.
Rasanya sudah cukup ikan-ikan yang diperoleh. Dengan kantong plastik sebagai tempat menaruh ikan. Dinaiki tanggul sebagai pembatas sisi pinggir sungai. Basah kuyup seluruh pakaian yang dikenakan. Lumpur membalut telapak kaki hingga betisnya. Hatinya bergembira sebab ibunya pasti senang dengan ikan-ikan yang diperolehnya.
“Yazid, waktu hampir maghrib!!! Segera kita menuju kambing-kambing kita!”
Yazid tersentak kaget. Tidak terasa waktu menjelang maghrib. Saat kambing-kambing semestinya sudah kembali ke kandangnya.
Mereka berlari menyusuri tanggul. Kurang lebih satu kilo meter jarak yang ditempuh. Sampailah mereka di pematang sawah. Tempat kambing-kambing mereka berada. Semua tampak sibuk mengumpulkan kambing-kambingnya untuk kemudian digiring menuju kampung. Hanya Yazid yang tampak kebingungan mencari kambing-kambingnya yang sebelumnya berada satu tempat dengan kambing milik teman-temannya.
“Yazid, sebaiknya kita pulang bersama. Mungkin kambingmu telah lebih dahulu kembali!”
“Tidak! Aku ingin mencari kambingku dahulu di sekitar sini. Sebaiknya kalian pulang lebih dahulu!”
Ditinggalkan Yazid menyendiri dalam kebingungan. Suara adzan maghrib menggema lewat corong masjid dan mushola-mushola di pelosok kampung. Yazid berusaha mencari kambing-kambingnya ditempat lain yang kemungkinan dapat dijumpai.
Aminah, ibu Yazid, baru saja menyelesaikan shalat maghrib. Dia heran mengapa Yazid belum juga pulang. Biasanya selesai maghrib Yazid telah berangkat mengaji di masjid. Aminah mencoba keluar rumah untuk bertanya kepada teman-teman Yazid yang kemungkinan sudah sampai ke rumah.

“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam!”
“Mpok, ada Asep?” Tanya Aminah.
“Ada tuh di dalam lagi makan. Emang ada apa?”
“Yazid belum pulang. Mungkin Asep tahu keberadaannya!”
Dipanggil Asep untuk menemui Aminah.
“Tadi memang bersama saya mencari ikan. Meninggalkan kambing-kambing di pematang sawah. Sekembalinya, hanya Yazid yang keberadaan kambingnya tidak diketahui. Dia saya ajak untuk pulang. Tapi ia tidak mau. Katanya ingin mencari kambingnya terlebih dahulu. Bi, apakah kambingnya telah pulang lebih dahulu?”
“Belum ada. Tapi sudahlah. Asep, kamu bisa antar Bibi ke tempat Yazid mencari kambingnya?”
“Bisa Bi. Sebentar saya cuci tangan dulu!”
Asep masuk kembali ke rumah. Sesaat kemudian keluar sambil mengikatkan sarung di pinggangnya. Kopiah hitam juga dipakainya.
Mereka menyusuri jalan kampung. Beberapa tetangga mencoba bertanya maksud kepergian Aminah. Setelah keluar dari kampung. Mereka berdua menuju sawah di mana Yazid sebelumnya berada.
Asep sedikit terkejut sebab tidak ditemukannya Yazid di tempat terakhir ia bersamanya.
“Tadi di sini Bi! Bersama saya dan teman-teman yang lainnya!”
“Lantas kemana perginya Yazid?”
“Mungkin ia takut dimarahi Bibi!”
“Ke tempat mana lagi biasa kalian mengembala?”
“Kita coba ke pinggir jalan yang menuju kampung sebelah!”
Aminah gelisah bercampur khawatir. Bukan sebab kambing-kambing miliknya yang hilang. Tapi dikarenakan keberadaan Yazid yang belum dijumpai.
Hari beranjak gelap. Keduanya berjalan di pematang-pematang sawah. Sesekali kaki Aminah terjerembab, masuk ke sela-sela tanah yang menganga sebab musim kering. Suara adzan isya telah berkumandang. Menyatu dalam dering jangkrik sawah. Tikus-tikus berlarian mencoba mencari peruntungan di malam hari. Si pemalu, burung Puyuh, terkadang juga melintas di hadapan mereka.
Keduanya sampai di pinggir jalan yang menghubungkan desa Tambun Jaya dengan kampung sebelah. Hanya sesekali kendaraan sepeda motor melintasi jalan. Lengang dan sunyi tanpa ada penerang jalan. Nyala lampu tampak di ujung kedua kampung.
“Bi, ada baiknya kita menuju Sawung. Tempat biasa kami beristirahat!”
Jalan berdebu. Sisi kanan kiri terbentang lahan sawah yang bekas dipanen. Sisi kanan jalan terselip sungai kecil, tempat irigasi saat musim hujan datang. Di kejauhan, di ujung pertigaan jalan, tampak berdiri Sawung, sebuah bangunan tanpa dinding beratapkan asbes, tempat para pejalan kaki atau pengendara sepeda motor istirahat sejenak dari terik panasnya matahari dan guyuran air di musim hujan.
Keduanya berjalan mendekat sawung. Terlihat dengan samar sebuah bayangan manusia. Alangkah terkejutnya Aminah ketika mengetahui bayangan tersebut adalah Yazid yang duduk sambil tangannya memegang ujung kaki. Mukanya tertunduk. Tubuhnya mengigil kedinginan.
“Yazid!!!” Aminah memanggil sambil mendekat.
“Ibu!” Wajahnya dipalingkan ketika suara Aminah terdengar memanggil.
Dia peluk tubuh Yazid dengan pakaian yang masih teramat basah. Air matanya membasahi pipi tanda haru melihat kondisi putranya.
“Sudahlah Yazid, tidaklah mengapa jikalau kambing tidak ada. Yang terpenting jiwamu selamat. Esok subuh kita bisa cari kembali!”
“Yazid minta ma’af Bu!”
“Ya, sekarang kita pulang!” Dituntun tangan kiri Yazid. Sementara tangan kanan masih menggenggam kantong plastik berisi ikan hasil tangkapannya.
Adzan subuh telah berkumandang. Terdengar suara khas engkong Syarif dari pengeras suara memanggil para warga kampung yang masih terlelap dalam tidurnya. Kakek yang telah lanjut usia ini tidak pernah luput mengingatkan para warga setengah jam sebelum waktu shalat subuh. Tidak ada satupun warga yang merasa terganggu. Sebaliknya banyak warga terutama para ibu terbantu untuk memulai aktivitas kesehariannya. Terutama Aminah yang sejak jam tiga dini hari sudah harus bangun untuk memasak bahan dagangannya. Suara engkong Syarif seperti menjadi teman sepi saat memasak. Sekali saja engkong Syarif tidak terdengar membangunkan warga, esok harinya pasti sudah menjadi pembicaraan warga.
Dibangunkan Yazid dari tempat tidurnya.
“Yazid, bangun, sudah subuh!”
Segera Yazid bangkit dari tempat tidurnya. Diambil sarung dan kopiah. Tidak lupa kantung berisi Al-qur’an disangkil di bahu kirinya.
“Ibu, selepas mengaji, aku akan mencari kambing-kambing kita bersama Asep!”
“Ia, tapi hati-hati!” Ucapannya terdengar dari dapur, tempatnya berkutat dengan barang dagangannya yang mesti disiapkan sejak pagi hari.
Ustadz Jamal masih setia duduk bersila di pojok masjid. Mengajar mengaji dengan bermodalkan lekar. Tempat kurang lebih lima puluh anak-anak kampung belajar kepadanya. Tidak ada hari libur. Tidak ada kewajiban bayar bulanan. Beberapa kilo gram padi biasanya dihadiahkan kepadanya saat musim panen. Bagi anak yang telah mencapai tingkat al-Qur’an akan langsung berhadapan dengan ustadz Jamal. Sedangkan yang masih pada tingkat juz amma diajarkan oleh anak yang usianya lebih dewasa yang telah lancar membaca al-Qur’an. Yazid sengaja lebih dahulu membaca agar segera dapat langsung mencari kambingnya yang hilang. Dirinya merasa sangat bersalah kepada ibunya.
Hampir dua jam telah berlalu. Dari kejauhan terdengar panggilan Yazid.
“Ibu ..!!!”
Aminah mencoba keluar rumah. Meninggalkan sebentar pembeli lauk pauk yang tampak heran dengan apa yang sedang terjadi.
“Yazid, ada apa?” Tanya Aminah ketika Yazid mendekat
“Aku telah menemukan kambing-kambing kita Bu!” Dia tunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah kambing-kambing yang digiring oleh Asep.
“Al-hamdulillah, di mana keberadaannya?”
“Di sawah. Di balik rimbunan batang padi yang rusak tidak dipanen!”
Aminah tersenyum. Yazid teramat bahagia. Bagi mereka, kambing-kambing tersebut adalah simpanan yang dapat dijual saat ada kebutuhan yang mendesak.
“Cepatlah engkau mandi. Lalu sarapan. Jangan sampai terlambat sekolah!” Segera Yazid menuju kamar mandi. Bersiap untuk pergi ke sekolah.             
        


















3
 
BIMBANG


Aktivitas warga telah dimulai. Para ibu dan remaja putri terlihat membawa bak dengan isi pakaian yang telah dicuci di sungai kecil, di ujung kampung. Sementara para suami menenteng pacul, ada juga arit, ke luar kampung untuk merapikan sawah-sawah mereka dari rumput liar yang mengganggu. Ada yang megoper alih sementara lahan yang baru dipanen untuk ditanami buah mentimun atau semangka. Sambil menanti musim hujan untuk kembali memulai masa menanam bibit padi. Hanya beberapa orang saja, lelaki dewasa yang keluar kampung, dengan sepeda bekerja di perusahaan-perusahaan di Jakarta. Anak-anak usia sekolah juga telah berangkat dari rumahnya masing-masing. Yang terdekat adalah sekolah dasar negeri. Berada di dalam kampung. Berdampingan dengan kantor kelurahan. Ada sekolah madrasah ibtidaiyah yang berlokasi di kampung sebelah. Untuk sekolah tingkat pertama dan sekolah menengah atas berada di luar kampung, kurang lebih berjarak enam kilo meter. Anak kampung yang sekolah ke luar harus berjalan kaki. Yang punya kelebihan uang bisa dengan sepeda.
“Aminah ..!” Suara seorang wanita memanggil Aminah yang sedang berada di dapur.
“Oh, Ibu Sa’diyah, mau beli lauk?” Tanya Aminah seraya mendekat.
“Tidak Aminah. Saya datang kemari karena ingin membicarakan sesuatu!”
“Ada apa yah .., mari masuk Bu!”
Dipersilahkan Sa’diyah masuk ke ruang tengah. Segelas air putih diambil dari dalam dapur.
“Sudah Aminah, tidak usah repot-repot. Saya hanya ingin bicara denganmu. Ini penting!”
Aminah mengerutkan dahinya. Bertanya dalam hati. Apa maksud kedatangan wanita yang termasuk dihormati di kampungnya itu. Dia dekati tempat duduknya dengan tempat duduk Sa’diyah.
“Aminah, ma’af sebelumnya bila maksud tujuan saya ini nanti menyinggung perasaanmu!”
Hati Aminah mulai gelisah. Berita apa yang akan disampaikan Sa’diyah?
“Begini Aminah. Tapi saya mohon sebelumnya jika apa yang akan saya sampaikan janganlah sampai orang lain tahu. Biarlah hanya saya dan kamu yang mengetahuinya!”
Sa’diyah diam sejenak. Kemudian melanjutkan kata-katanya.
“Aminah, kamu tahu kan, abang saya ustadz Jamal telah lama menduda. Anaknya yang terakhir perempuan telah menikah. Kini ia tinggal sendiri di rumah mengurus segala keperluannya sendiri. Sebenarnya telah lama perasaannya terhadap kamu disimpannya sendiri. Dia ingin menjadikan kamu sebagai pengganti almarhumah istrinya. Dia melihat kamu wanita yang baik!”
Aminah terkejut mendengar ucapan Sa’diyah. Memang bukan sekali ini saja ada lelaki yang ingin mempersunting dirinya. Beberapa orang laki-laki malah ada yang terang-terangan meminta dirinya untuk dijadikan istri. Bukan hanya para lelaki yang telah beristri, banyak pula lelaki yang masih lajang tertarik akan kecantikan dirinya. Janda kembang. Begitu kerap kali para lelaki menyebut-nyebut dirinya.
“Aminah, ada baiknya kamu pertimbangkan keinginan ustadz Jamal. Insya Allah dia bisa menjadi pendampingmu yang baik!”
Aminah hanya terdiam. Seakan bingung untuk menanggapinya. Tidak terbersit di dalam hatinya bila ustadz Jamal punya perasaan cinta kepada dirinya. Ada perbedaan usia sekitar dua puluh tahun antara dirinya dan ustadz Jamal. Anak perempuan tertuanya adalah teman semasa kecilnya. Memang sedikit ada ganjalan dalam dirinya selama ini. Pada pengajian mingguan para ibu-ibu kampung yang dibina oleh ustadz Jamal. Pernah sekali pandangan ustadz Jamal, entah disengaja atau tidak,  mengarah kepadanya. Itu mungkin yang membuat tingkah ustadz Jamal sedikit aneh ketika ada perjumpaan yang tidak disengaja antara dirinya dan ustadz Jamal. Perlakuan kepada Yazid pun seperti tidak wajar. Ada perhatian yang berlebih dari ustadz Jamal kepada Yazid saat mengajar.
“Bu Sa’diyah, saya minta ma’af karena tidak dapat menjawab apa yang menjadi maksud tujuan ustadz Jamal untuk saat ini. Berikan saya waktu untuk dapat merenung, mempertimbangkan yang terbaik bagi saya dan anak saya, Yazid!”
“Saya berharap janganlah terlalu lama engkau memberi keputusan!”
“Bila lama dapat membuat saya bahagia. Bukankah itu lebih baik? Kematian suami saya sudah tujuh tahun lamanya. Tapi terasa baru kemarin saya berpisah dengannya. Saya berharap hati ini bisa mencair, menerima kehadiran orang lain selain mantan suami saya!”
“Baiklah Aminah. Saya bisa memaklumi. Saya hanya penyambung lidah dari ustadz Jamal. Nanti saya akan sampaikan apa yang menjadi keputusanmu!”
Matahari telah bergeser tepat berada di atas ubun-ubun. Yazid baru saja tiba dari sekolah. Dilahap makanan yang disediakan Aminah. Setelah itu pergi shalat zuhur di masjid. Tidak berapa lama kemudian beberapa ekor kambing berhamburan keluar dari kandangnya. Seperti hari biasanya. Aktivitas Yazid berjalan mengikuti arah bandul jarum jam.
“Assalamu’alaikum!” Suara seseorang terdengar dari luar rumah.
“Walaikum salam. Oh, Bang Maralih. Silahkan masuk! Mau makan?”
“Iya, seperti biasa. Sayur pucung gabus. Sambal kacangnya yang banyak yah.. !?”
Aminah membuatkan satu porsi makan teruntuk pelanggan setianya. Minimal sekali dalam seminggu Maralih datang ke warung makan Aminah. Dia berasal dari kampung Taruna, sebelah timur kampung Tambun Jaya. Meskipun berasal dari luar kampung, hampir semua warga kampung Tambun Jaya mengenal dirinya. Dia dikenal dengan sebutan mandor. Dirinya dipercaya mengurus ratusan hektar sawah milik pengembang perumahan real estate. Darinya banyak warga menggantungkan hidup dengan meminta izin menyewa sawah untuk digarap. Kepadanya pula para makelar tanah berhubungan untuk menjual tanah warga kepada pihak pengembang. Uang hasil sewa serta komisi dari hasil penjualan tanah itulah yang membuat dirinya menjadi salah satu orang terpandang di kampungnya.
“Apakah benar, Bang Maralih ingin mencalonkan diri menjadi lurah?” Tanya Aminah berbasa basi sambil menaruh sepiring nasi dan semangkok sayur pucung ikan gabus.
“Kamu tahu dari mana?”
“Iya, orang-orang kampung sini banyak yang membicarakan soal itu!”
“Itu memang benar. Sebulan yang lalu di kediamanku, secara resmi diumumkan tentang pencalonanku sebagai kepala desa. Aku undang warga kampungku serta para tokoh masyarakat tetangga kampung. Banyak yang hadir. Seminggu lagi rencananya aku akan sosialisasi di kampung ini. Tempatnya di rumah Marudih, adikku yang menikah dengan orang sini. Untuk acara makan makannya aku akan memesan sayur pucungmu!”
Aminah terdiam mendengar ucapan Maralih. Bukannya tidak senang dengan acara yang nanti diadakan oleh Maralih. Karena itu berarti pemasukan yang tidak terduga baginya. Hanya saja dirinya khawatir dari warga kampungnya yang menganggap dirinya malah mendukung calon dari luar kampung sendiri.
“Aminah, kenapa engkau termenung?”
“Oh, tidak Bang. Aku hanya berpikir bagaimana cara mengumpulkan ikan-ikan gabus sebanyak itu?” Aminah berusaha memberi alasan yang logis agar tidak tampak kegalauan hatinya.
“Engkau tidak perlu khawatir, nanti anak buahku dapat membantu untuk mencari ikan yang engkau butuhkan!”
“Kalau demikian terima kasih Bang!”
Keringat tampak membasahi mukanya. Rasa pedas tidak membuat dirinya berhenti menghabiskan dua piring nasi dan semangkok sayur pucung ikan gabus. Badannya yang tinggi besar dengan kumis tebal menambah garang penampilannya. Wajahnya sesaat menoleh ke arah kanan. Sebentar kemudian pandangannya diarahkan ke arah kiri. Setelah yakin tidak ada orang di sekitarnya, Maralih mengarahkan pandangannya ke arah Aminah.
“Aminah…!”
Aminah yang sedang sibuk meracik bumbu masakan menoleh ke arah Maralih.
“Ini, aku ingin bayar!”
Aminah mendekat. Terlihat Maralih mengeluarkan beberapa lembar uang. Setelah Aminah mendekat.
“Aminah, sebelum aku pergi, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu!”
Tubuh Aminah mematung. Dadanya berdetak. Khawatir bila Maralih berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya. Bila itu terjadi maka dirinya siap untuk berteriak sekencang mungkin.
“Aminah, aku berjanji setelah pemilihan kepala desa nanti, aku akan melamarmu!”
Dirinya tidak menduga dengan apa yang baru didengarnya. Baru tadi pagi ada sesorang datang hendak memperistri dirinya. Kini datang lelaki lain yang punya keinginan sama. Bedanya yang pertama tidak mempunyai ikatan suami istri. Sedangkan yang kedua memiliki istri. Menikah dengan lelaki yang telah berisitri?. Itu tidak mungkin! Dirinya berjanji untuk tidak akan menikah dengan seseorang yang telah mempunyai istri. Sesulit apapun keadaannya, dia tidak akan menyerahkan dirinya. Sekaya apapun orang yang melamarnya, dia tidak akan menerimanya. Dirinya terpaku menatap beberapa lembar uang pemberian Maralih. Dia ingin mengembalikan kelebihan uang yang diberikan. Belum sempat dirinya mengembalikan sisa uang. Tubuh Maralih sudah menghilang dari hadapannya.             
Aminah duduk menyendiri. Hatinya masih gelisah memikirkan apa yang baru saja terjadi. Perihal keinginan ustadz Jamal memperistri dirinya. Dan Maralih yang ingin menjadikan dirinya istri keduanya. Dirinya telah bertekad tidak akan menerima Maralih sebagai pengganti almarhum suaminya. Tapi bagaimana caranya?. Apakah Maralih dapat menerima keputusannya dengan lapang dada. Bagaimana dengan ustadz Jamal? Bila sebelumnya banyak juga lelaki yang mengharapkan dirinya melepas masa janda. Itu baginya sebatas angin lalu. Yazid telah menjadi pelipur hari-hari sepi tanpa suami. Hidupnya sudah terasa bahagia meskipun hanya bersama seorang anak. Sebab kecintaannya kepada almarhum suami membuatnya tetap seperti itu. Kini hatinya bimbang. Bila menerima. Apa jaminan untuk kebahagiaan Yazid. Adakah rasa cinta dirinya terhadap ustadz Jamal? Ataukah sebatas rasa sungkan terhadap seseorang yang bukan saja telah menjadi guru baginya tapi juga bagi anaknya. Menolak? Bagaimana caranya. Apakah benar hatinya telah tertutup kepada semua lelaki? Apakah tidak dosa kepada dirinya sendiri yang secara naluriah butuh kasih sayang dari seorang lelaki yang kelak akan menjadi suaminya? Tetap bertahan dengan kondisi seperti ini. Bahagia menyendiri dengan Yazid. Atau menerima lamaran ustadz Jamal. Berspekulasi, akan ada bahagia yang ia akan dapatkan. Bukan semata-mata bagi dirinya. Namun teruntuk Yazidnya. Belahan jiwanya.               
















4
 
MALAM TAKBIR


Menjelang Ramadhan suasana kampung terlihat berbeda. Semua warga bersiap-siap menyambut datangnya bulan suci. Nyala lampu di masjid diganti dengan yang lebih terang. Suara bedug sudah mulai terdengar bertalu-talu. Malam awal bulan Ramadhan pengunjung masjid meluber sampai ke halaman masjid. Para orang tua, remaja, anak-anak, lelaki maupun perempuan menyatu meramaikan shalat taraweh. Orang tua dan remaja tidak kunjung balik ke rumah. Mereka tetap berada di masjid untuk tadarusan, membaca al-Qur’an sampai larut malam. Sedangkan anak-anak kampung ramai berlarian, bermain dengan petasan dan kembang api. Suasana malam meriah sepanjang bulan Ramadhan. Jam tiga dinihari suasana kampung sudah kembali ramai dengan suara pengeras suara, mengajak ibu rumah tangga dan remaja putri untuk bangun mempersiapkan makan sahur. Sementara anak-anak keliling kampung berteriak sambil menabuh bedug di sepanjang jalan.
Suasana gembira datangnya bulan Ramadhan menyisakan kegelisahan di hati sebagian warga kampung Tambun Jaya. Karena Ramadhan tahun ini beriringan dengan pelaksanaan pemilihan kepala desa atau Pilkades. Tepat satu bulan setelah hari raya Idul fitri akan dilaksanakan Pilkades. Wajar bila situasi sedikit memanas. Masing-masing calon kepala desa satu tahun sebelumnya sudah mulai mengumpulkan masa. Berbagai cara ditempuh untuk memikat hati warga. Setiap even perayaan hari- hari besar dijadikan lahan untuk pengenalan diri. Terjadi simbiosis mutualis. Saling menguntungkan. Penyelenggara mendapatkan sumbangan. Calon kepala desa dapat memperkenalkan diri. Setiap malam rumah kepala desa ramai didatangi warga masyarakat, baik yang simpati maupun yang cuma sekedar mencari gratisan rokok dan kopi. Saudara jauh didekati untuk mendulang suara. Warga desa terbelah sesuai dengan dukungan masing-masing. Fanatisme terhadap calon kepala desa menyebabkan tensi suhu konflik antar warga meningkat. Sedikit masalah dapat menjadi besar.
Bulan Ramadhan bukan berarti waktu istirahat bagi Aminah. Meski selama Ramadhan warung nasinya tutup, namun dia tetap menerima pesanan untuk acara-acara tertentu. Selagi tidak ada pesanan, dia membawa kue Cina yang diproduksi oleh salah seorang warga kampung. Kue yang hanya ada menjelang lebaran ini ia beli untuk kemudian ia jual kembali kepada pelanggan setianya di luar kampung. Tempat asal almarhum suaminya lahir menjadi lahan bisnis kuenya. Bersama istri Abdurahman ia menawarkan kuenya ke tetangga sekitarnya. Keuntungannya lumayan untuk tambahan membeli kue lebaran dan pakaian baru untuk Yazid dan dirinya.
“Ibu, tadi di masjid setelah shalat taraweh aku mendengar pembicaraan orang-orang tentang Ibu!” Yazid mengambil segelas es teh manis dari meja makan sisa buka puasa sore tadi.
“Apa yang mereka bicarakan?” Tanya Aminah.
“Mereka mengatakan bahwa Ibu sebagai penghianat kampung kita. Karena Ibu berpihak kepada calon kepala desa dari luar kampung!”
“Yazid, kita ini penjual yang wajib melayani setiap pembeli, siapapun dia dan dari manapun asalnya. Ibu tidak bermaksud mendukung calon dari luar kampung bila ada yang lebh baik dari kampung kita ini!”
“Apakah benar untuk acara buka puasa bersama di rumah kediaman pak Marudih minggu depan, Ibu yang mengurus makannya?”
“Iya, pak Marudih atas perintah pak Maralih memesan kepada Ibu kurang lebih lima puluh porsi. Uangnya sudah diserahkan ke Ibu, tinggal Ibu belanjakan nanti!”.
“Katanya banyak ibu-ibu pengajian ikut-ikutan marah ke Ibu. Pasalnya calon dari kampung kita ini pak Syarkawi adalah suami dari ibu Sa’diyah, adik kandung ustadz Jamal. Di pengajian aku juga sering menjadi sumber pembicaraan. Sebagai anak yang ibunya malah mendukung calon dari luar kampungnya sendiri!”
“Ibu secara pribadi sudah bertemu dengan ibu Sa’diyah. Ibu jelaskan posisi Ibu. Sepertinya beliau sangat memahami apa yang Ibu lakukan!”
“Oh iya Bu, kapan kita beli baju baru?”
“Hari minggu pagi saja. Sekalian Ibu belanja untuk keperluan pesanan buka puasa bersama!”
Minggu pagi. Aminah dan Yazid telah bersiap berangkat menuju pasar Bojong. Perjalanan kurang lebih setengah kilo meter menuju ke arah timur. Setelah itu dilanjutkan dengan menaiki mobil angkot menuju ke arah utara. Kemudian sampailah keduanya di pasar Bojong, pasar tertua yang berada di kecamatan Tarumajaya. Letak pasar persis di pinggir sisi kanan-kiri jalan yang menuju arah kantor kecamatan Tarumajaya. Semua keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup dapat dijumpai di pasar ini. Pasar tradisional ini satu-satunya pasar terbesar yang berada di satu wilayah kecamatan. Sebenarnya ada juga pasar rakyat di kecamatan Babelan, tapi letaknya jauh ke arah timur. Bila ingin lebih lengkap lagi maka dapat mendatangi pasar Bekasi kearah jalan raya menuju selatan.
Jam menunjukkan pukul sepuluh. Keringat membasahi pakaian Yazid. Kerumunan orang yang berjubel menambah panas suasana pasar.
“Yazid, bila engkau merasa tidak kuat sebaiknya batalkan puasamu!”
“Tidak Bu. Suasana seperti ini sudah biasa bagiku!”
“Jika begitu marilah kita lanjutkan untuk mencari pakaian lebaran untukmu. Semua keperluan untuk pesanan acara buka puasa telah lengkap!”
Keduanya keluar dari tempat khusus yang menjual segala kebutuhann bumbu masak yang berada di belakang pasar. Penjual berbagai macam pakaian lebaran memang banyak terdapat di muka pasar, di pinggir-pinggir jalan raya.
“Yazid, pilihlah baju dan celana yang engkau suka. Setelah ini kita beli sepatu untukmu. Sepatumu sudah rusak. Sudah waktunya diganti!”
“Aminah…!!!”
Suara itu membuat Aminah berpaling. Dibiarkan Yazid sibuk memilih pakaian yang sesuai dengannya.
“Bang Maralih..?”
Maralih tampak berdiri di antara kerumunan orang yang sibuk berbelanja untuk kebutuhan lebaran.
“Sedang berbelanja pakaian, Aminah?” Tanya Maralih sambil mendekat ke tempat Aminah.
“Iya Bang, sedang membelikan pakaian lebaran untuk Yazid. Sekalian belanja buat keperluan acara Abang nanti!”
“Bagaimana uangnya? Cukup tidak?”
“Cukup Bang, Bang Marudih sudah memberikan semuanya kepada saya. Abang sendiri sedang apa di sini?” Tanya Aminah.
“Anak buahku sedang membeli ikan bandeng yang akan aku bagikan ke warga. Jadinya aku yang mengantar dengan mobil!”
Maralih tampak diam sejenak. Pandangannya dialihkan ke sekelilingnya. Ketika Aminah mencoba kembali untuk menawarkan pakaian yang telah dipilih Yazid. Maralih kembali memanggil Aminah.
“Aminah, boleh bicara sebentar?”
Aminah terlihat tidak nyaman karena ada Yazid di dekatnya. Namun panggilan Maralih membuatnya terpaksa meninggalkan Yazid sebentar. Muka Yazid menampakkan ketidak sukaannya dengan Maralih.
 Aminah minta izin sebentar kepada Yazid untuk berbicara dengan Maralih. Kurang lebih sepuluh meter dari tempat Yazid memilih pakaian. Aminah sengaja menjauh agar pembicaraannya dengan Maralih tidak sampai terdengar oleh Yazid.
“Ada apa Bang?” Tanya Aminah mendahului pembicaraan.
“Aminah, aku ingin menyambung pembicaraan kita tempo hari di warungmu sebelum puasa. Aku bertekad melamarmu setelah pemilihan kepala desa, baik kelak aku yang akan terpilih atau tidak!”
“Maaf Bang Maralih, aku tidak dapat memenuhi keinginan Abang!”
“Memangnya kenapa? Jujur, sebenarnya telah lama perasaan ini aku simpan. Bila engkau sudah menjadi istriku, engkau tidak usah berdagang. Akan aku buatkan rumah yang bagus!”
“Aku minta maaf Bang. Aku tidak butuh itu semua. Aku merasa amat bahagia dengan keadaanku sekarang!”
“Apakah karena aku telah beristri?” Maralih berusaha mencari alasan mengapa Aminah tidak ingin menikah dengannya.
“Aminah, aku akan menceraikan istriku jika itu yang menjadi keberatanmu!”
“Maaf Bang, aku tidak dapat hidup bersama lelaki tanpa rasa cinta. Sebaiknya urungkan niat Abang untuk menikah denganku. Karena aku bertekad untuk kembali menikah dengan lelaki yang aku mencintainya dengan setulus hati!”
Keduanya terdiam sesaat di antara suara bising para pembeli dan penjual yang melakukan transaksi.
“Bang, maaf  aku harus menemui Yazid!” Aminah beranjak meninggalkan Maralih yang hanya terdiam menatap kepergian Aminah.
Suara adzan isya berkumandang lewat corong pengeras suara masjid. Aminah telah kembali dari rumah Marudih, tempat buka bersama untuk calon kepala desa Maralih. Yazid telah lebih dahulu berangkat ke masjid. Aminah mengunci pintu, keluar rumah untuk pergi ke masjid. Melaksanakan shalat taraweh berjamaah bersama dengan warga lainnya. Mereka dipersatukan dengan ritual ibadah di bulan Ramadhan. Mereka saling bertemu dalam lipatan amarah dan dengki di dada-dada mereka sebab adanya pemilihan kepala desa yang berlangsung lima tahun sekali. Pilkades, membawa kemaslahatan atau kehancuran bagi masyarakat? Atau masyarakat kita yang belum siap untuk berbeda pendapat? Bulan Ramadhan sebagai bulan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, tidak dapat menutupi api amarah dari masing-masing kader calon kepala desa. Segala cara, dari yang halal sampai kepada perbuatan musyrik dilakukan demi mendapatkan dukungan masyarakat.
Rona kembang api menyeruak di kegelapan malam. Menyatu dengan derai tawa anak-anak kampung. Warna cet rumah diganti dengan yang baru. Segala macam kue terpampang di meja tamu. Suara takbir menggema bersama dengan tabuhan bedug. Pesta kemenangan telah tiba. Ditandai dengan sorak gembira bagi orang-orang yang mendapat status lulus dari ujian bulan Ramadhan. Prediket sebagai orang yang tanpa dosa adalah hasilnya. Gembira dan kecewa terkadang sulit untuk dibedakan. Ini adalah lebaran yang untuk kesekian kalinya dialami Aminah dan Yazid. Air mata yang keluar dari kelopak mata Aminah apakah sebagai ungkapan rasa gembira atau kecewa? Gembira sebab syukur atas apa-apa yang telah diberikan Tuhan teruntuknya. Kecewa karena separuh hatinya telah hilang, dibawa masa lalu bersama Hasan, almarhum suaminya. Acap kali hati nuraninya berkata bahwa inilah yang terbaik. Jalan hidup yang diberikan Tuhan kepadanya. Namun di saat yang lain, keinginannya bicara lain. Ia ingin Hasan kembali bersamanya, merajut hari-hari yang pernah dialaminya bersama. Yazidlah yang kemudian menyadarkan Aminah. Yazid adalah anugerah yang tak terhingga yang Tuhan telah berikan kepadanya. Bila sudah demikian senyum simpul keluar dari bibirnya. Sambil menatap tubuh Yazid yang tidur dalam gemerlap takbir malam Idul Fitri.  









5
 
PILKADES

Gegap gempita membahana di sepanjang jalan. Puluhan mobil membawa ribuan orang yang berteriak menyebut sebuah gambar buah. Ratusan motor meraung-raung, menambah kebisingan pengeras suara yang mengajak para warga yang berbaris di sepanjang jalan yang dilewati. Di urutan paling depan melaju sebuah mobil yang membawa calon kepala desa.
Saat ini sedang berlangsung proses kampanye dari masing-masing calon kepala desa. Setelah sebelumnya beberapa proses dalam tahapan pemilihan kepala desa telah dilalui. Dari mulai proses pendaftaran bagi bakal calon kepala desa. Setelah itu penelitian kelengkapan berkas dari tiap-tiap bakal calon, terdiri dari surat kesediaan menjadi calon yang diajukan kepada Bupati bermeterai Rp 6.000, surat pernyataan setia dan taat kepada Pancasila dan UUD 1945, surat keterangan tidak pernah dihukum dari Pengadilan Negeri, surat keterangan tidak dicabut hak pilihnya dari Kejaksaan Negeri, surat keterangan kesehatan dari RSUD, surat keterangan dari Polres, foto copy ijazah terakhir, foto copy akte kelahiran, dan foto copy kartu tanda penduduk.
Setelah penelitian berkas selesai, ditetapkanlah masing-masing bakal calon menjadi calon kepala desa. Proses selanjutnya adalah pengundian nomor urut sekaligus tanda gambar bagi masing-masing calon. Tanda gambar ini meliputi gambar apel bagi nomor urut pertama, gambar nanas untuk nomor urut kedua, gambar duren untuk nomor urut ketiga, gambar pisang untuk nomor urut keempat, dan gambar rambutan untuk nomor urut kelima. Dari sini tahapan berikutnya adalah masa kampanye. Saat inilah ajang pembuktian pengumpulan masa sebanyak-banyaknya. Waktu kampanye diatur oleh panitia. Masing-masing calon diberi waktu satu hari. Sejak pagi ribuan orang sudah berkumpul di rumah calon. Ratusan sepeda motor serta puluhan mobil yang dipersiapkan untuk yang tidak menggunakan sepeda motor. Bagi calon kepala desa dirias tidak ubahnya seperti pengantin. Ribuan poster terpampang di sepanjang jalan. Pawai dimulai dari rumah kediaman calon kepala desa terus menyusuri jalan-jalan kampung yang ada dalam satu desa. Kurang lebih satu minggu setelah masa kampanye adalah hari H, yaitu hari pemungutan suara. Di mana seluruh warga dalam satu desa yang telah berhak memilih berkumpul dalam satu tempat di lapangan luas. Berdiri panggung tempat para calon duduk menghadap para pemilih. Sementara beberapa tempat pencoblosan disiapkan tepat menghadap panggung tempat para calon duduk sambil memegang bendera bergambar nomor urut.
Paling tidak ada tiga hal yang sangat terkait, tidak dapat dilepaskan selama berlangsungnya masa pelaksanaan pemilihan kepala desa. Dan ini menjadi modal keberhasilan seorang calon untuk menjadi kepala desa. Pertama, uang. Para pemilih sudah dimanjakan minimal satu tahun sebelum hari pelaksanaan pemungutan suara. Setiap malam rumah calon ramai dikunjungi. Mulai dari rokok, kopi dan makan disediakan oleh calon. Kebutuhan masyarakat, baik untuk kepentingan umum maupun pribadi harus dipenuhi. Biaya penyelenggaraan Pilkades hampir seluruhnya ditanggung oleh para calon. Hanya sedikit bantuan dari Pemda setempat. Puncak pengeluaran uang terjadi saat malam hari H. Bila ada hak pilih dalam satu desa sejumlah tujuh ribu hak pilih, maka minimal bagi calon kepala desa menyiapkan lima ribu amplop berisi uang yang harus disebarkan saat menjelang fajar. Uang adalah faktor utama bagi siapapun yang ingin ikut mencalonkan diri menjadi calon kepala desa. Ratusan juta rupiah, bahkan sampai satu miliar rupiah uang yang harus disiapkan bagi masing-masing calon selama berlangsungnya pencalonan.
Faktor kedua, adalah hubungan keluarga. Ikatan hubungan emosional sebab keluarga menjadi pendukung utama bagi calon kepala desa. Jalinan keluarga jauh kembali dieratkan. Amarah yang sempat ada untuk sementara di kesampingkan demi menghadapi keluarga besar lainnya yang mngusung calon berbeda. Jangan berharap bagi para pendatang tanpa keluarga besar turut ikut mencalonkan diri sebagai kandidat calon kepala desa. Karena sudah kalah sebelum berperang. Diambil uangnya tanpa dipilih.
Persoalan ketiga yang menghiasi hiruk pikuk selama pelaksanaan Pilkades yaitu masalah magic. Mengundang para dukun untuk ikut serta menjadi tim sukses dari masing-masing calon. Boleh dibilang tidak ada dari para calon kepala desa yang tidak mengikut sertakan dukun dalam setiap strategi pemenangan. Perang dukun di dunia supranatural menjadi realitas yang tidak terbantah. Mulai dukun lokal sampai luar daerah bersaing menjadi sugesti bagi para calon. Kemenangan dari salah satu calon menjadi kepala desa akan menyisakan obrolan kehebatan dukun tertentu. Akal tergadai. Rasionalitas tersingkir. Persaudaraan dan kebersamaan tampak semu. Tergusur atas nama kepentingan sesaat.
Pasca pencalonan akan melahirkan luka hati sebab kekalahan. Lama luka itu akan terpendam hingga menghancurkan budaya adi luhung nenek moyang. Kebersamaan untuk saling menolong dengan penuh keikhlasan akhirnya runtuh demi ambisi kekuasaan sesaat.
Kali ini disediakan waktu empat hari bagi para calon kepala desa untuk sosialisasi lewat kampanye. Hari pertama diisi oleh calon dengan nomor urut tiga bergambar buah duren yang berasal dari kampung Karang Bahagia. Salah satu kandidat yang diunggulkan karena hak pilih di kampung tersebut terbesar di antara dua kampung lainnya, kampung Tambun Jaya dan kampung Taruna. Terlebih calon dari kampung Karang Bahagia tersebut ini adalah mantan kepala desa periode lalu.
Kampanye hari kedua diisi oleh calon bergambar buah pisang dengan nomor urut empat berasal dari kampung Tambun Jaya, yaitu Syarkawi suami dari Sa’diyah, adik ustadz Jamal. Dia juga diunggulkan karena dukungan mengalir dari keluarga besar ustadz Jamal dan sebagian besar dukungan berasal dari kampung Karang Bahagia, asal kelahiran Syarkawi. Hari ketiga diisi oleh calon dengan nomor urut satu bergambar buah apel. Calon ini berasal dari kampung Tambun Jaya. Banyak kalangan mengatakan bahwa pencalonan dari nomor urut satu  ini sekedar menggembosi suara Syarkawi. Kampanye terakhir, hari keempat diisi oleh Maralih, sebagai calon bergambar buah nanas dengan nomor urut dua. Maralih diunggulkan karena dia satu-satunya calon dari kampung Taruna, terbanyak kedua hak pilihnya setelah kampung Karang Bahagia. Dia didukung oleh pihak pengembang yang punya kepentingan untuk memperluas perumahan dan administrasi yang pasti lebih mudah bila kepala desa terpilih nanti sesuai dengan pilihannya.
Hari keempat tampak lebih meriah. Puluhan mobil dan ratusan sepeda motor membawa ribuan orang untuk ikut dalam kampanye hari terakhir. Dari luar desa pun terlihat banyak yang ikut. Maralih tampak gagah duduk dalam mobil paling depan. Suara masa terdengar mengelu-elukan namanya. Telah disiapkan tempat pengisian bensin gratis bagi kendaraan yang ikut serta. Tidak lupa diberikan juga amplop berisi uang untuk masing-masing peserta pawai. Selesai pawai para simpatisan dipersilahkan untuk makan di tempat yang telah ditentukan di masing-masing kampung.  Di kampung Tambun Jaya lokasinya bertempat di warung makan Aminah. Sebenarnya Aminah sudah menolak dengan cara yang halus tempatnya dijadikan acara makan-makan bagi peserta kampanye pihak Maralih. Tapi dari tim sukses Maralih memaksanya dengan alasan tidak ada tempat yang lain selain di warung Aminah. Memang, kecantikan Aminah menjadi daya tarik tersendiri. Bagi Aminah, situasi seperti ini bagai makan buah simalakama. Menolak, itu tidak mungkin karena memang profesinya sebagai pedagang. Apa salah jika ada pembeli? Kebetulan saja pembelinya kali ini dilakukan saat perhelatan pemilihan kepala desa. Sedangkan jika menerima maka ia siap untuk dicerca sebagai pendukung salah satu calon. Terlebih kegiatan makan-makannya itu dari salah satu calon yang berada di luar kampungnya.
Dua hari menjelang hari pemungutan suara. Suasana tenang tapi mencekam. Aroma benci, amarah, dengki, dendam, menyatu dalam diri yang terlibat langsung selama proses Pilkades. Semua baliho, spanduk, dan stiker yang menempel di sepanjang jalan diturunkan. Masa tenang sebelum pelaksanaan pemungutan suara menyisakan banyak prediksi dan spekulasi. Bagi para petaruh, inilah saatnya untuk mengatur strategi agar calon yang dipertaruhkannya dapat menang. Jika calon yang diusungnya menang maka keuntungan puluhan bahkan ratusan juta rupiah ia akan dapatkan. Strategi yang biasa dilakukan adalah membayar masa yang telah berhak memilih. Untuk para calon kepala desa, inilah waktunya untuk menghitung berapa amplop berisi uang yang akan disebar ke masyarakat. Pilkades bebas uang hanya sebatas slogan. Di lapangan orang dengan mudah menyaksikan dengan kasat mata terjadinya barter suara dengan uang. Kebersamaan akan timbul sebab satu dukungan. Kebencian akan terasa sebab beda dukungan.
Satu isu yang ramai dibicarakan warga kampung Tambun Jaya  perihal kedekatan Aminah dengan kubu Maralih. Dia dianggap sebagai penghianat kampung. Di tempat pengajian banyak ibu-ibu yang menampakkan wajah sinis. Di setiap tempat berkumpulnya para lelaki, topik pembicaraannya adalah seputar Aminah, janda cantik penghianat kampung sendiri. Aminah dapat merasakan suasana kampung yang teramat memanas, terutama soal dirinya. Suatu ketika datang Sa’diyah berkunjung ke rumah Aminah.
“Aminah, rumor di luar sana teramat panas. Saya hanya ingin minta penjelasan darimu sendiri. Bila benar berita tersebut, maka saya mencoba untuk memahami. Saya mengenal pribadimu lebih dari yang lainnya. Oleh karenanya sampai saat ini tidak sedikitpun keinginan saya luntur untuk tetap memintamu kelak menjadi pendamping ustadz Jamal. Tapi bila rumor itu tidak benar, saya sangat bersyukur. Karena memang itu tujuan saya ke sini, mengajakmu bergabung untuk membangun kampung kita ini!”
“Saya telah katakan berulang kali kepada Ibu bahwa saya masih punya rasa memiliki kampung. Dan saya pasti akan mencari yang terbaik demi kampung kita ini. Percayalah Bu dengan pilihan saya!”                                            
“Saya tidak ingin engkau dicemooh oleh warga sini!”
“Memang saya menyadari kedekatan saya dengan para pendukung bang Maralih banyak yang menyalah artikan. Padahal tidak lebih dari antara pedagang dan pembeli!”
“Saya berharap itu sebagai motivasi bagimu untuk segera mengakhiri masa kesendirianmu. Menerima lamaran ustadz Jamal yang tempo hari saya sampaikan!”.
“Mungkin Ibu benar. Setelah pemilihan kepala desa Insya Allah saya ambil keputusan!”
“Baiklah Aminah, saya pulang dahulu. Saya berharap jangan kamu sungkan datang ke rumah saya bila ada sesuatu yang kamu butuhkan!”
“Terima kasih atas kebaikan Ibu!”
Hari pemungutan suara telah tiba. Semua warga yang berhak memilih telah bersiap-siap untuk pergi ke tempat pemungutan suara dengan membawa bukti surat undangan. Aminah pun demikian. Dia tutup warungnya untuk hari ini. Semalam, empat dari calon kepala desa memberikan amplop berisi uang dari tim suksesnya masing-masing. Sulit rasanya untuk menolak. Namun ia tidak pernah mengucapkan janji di hadapan orang yang telah memberi amplop kepadanya.
“Yazid, jagalah rumah. Sebelum dzuhur kemungkinan Ibu telah kembali!”.
Aminah meninggalkan rumah. Menyusuri jalan menuju tanah lapang tempat pemungutan suara yang berada di luar kampung. Sepanjang perjalanan, nada sinis terarah kepadanya dari orang-orang yang sekampung dengannya. Ribuan orang telah berkumpul saling berdesakan masuk ke pintu tempat pemungutan suara. Empat calon terlihat duduk di atas panggung tepat menghadap tempat pencoblosan. Puluhan mobil angkot datang dan kembali mengangkut para pemilih yang berasal dari luar kampung. Gratis disiapkan dari para calon. Tepat pukul empat sore pemungutan suara usai. Tinggal kini waktu penghitungan suara.
Hari semakin sore. Suasana semakin ramai saat panitia mengumumkan dimulainya penghitungan suara. Para penonton semakin merangseg ke tempat penghitungan suara. Wajah tegang tampak terlihat. Sorak sorai terdengar dari penonton ketika nomor urut beserta gambar mulai disebutkan lewat pengeras suara.
Aminah baru saja menanggalkan mukena. Selesai menunaikan shalat isya. Sementara Yazid terlihat menikmati makan malamnya setelah selesai mengaji. Tidak tampak di wajahnya hiruk pikuk keramaian kegiatan Pilkades. Aktivitasnya seperti tidak terganggu. Melepas kambing di siang hari dan kembali di sore harinya. Aminah memperhatikan Yazid dari tempatnya shalat. Suara pengeras suara terdengar samar-samar dari tempat penghitungan suara berlangsung. Tiba-tiba rasa khawatir timbul dalam dirinya. Seperti akan ada kejadian yang akan menimpa dirinya dan Yazid.
Jam menunjukkan pukul sepuluh. Yazid telah tertidur. Rasa gelisah menghilangkan rasa kantuk. Suara pengeras suara masih terdengar di kejauhan. Dia turun dari tempat tidurnya. Diperiksa sekali lagi pintu dan jendela rumah. Lengang terasa di luar rumah. Sebagian warga telah terlelap dalam tidurnya. Seperti tidak peduli siapa calon yang akan menang. Hanya para simpatisan yang terlihat cemas berharap calon yang diusungnya akan menjadi pemenang dalam pemilihan kali ini.
Jarum jam telah bergeser ke angka satu. Suasana benar-benar lengang dan mencekam. Suara dari pengeras suara sudah tidak terdengar lagi. Di tengah keheningan malam terdengar suara petasan saling bersautan. Sebagai tanda kemenangan. Rasa gelisah semakin mendera Aminah. Sedikitpun tidak terasa kantuk dalam dirinya. Sebentar duduk kemudian tidur kembali. Beberapa kali dirinya ke kamar Yazid memastikan keberadaan Yazid. Dalam keheningan yang mencekam tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar rumah. Disusul dengan suara keras pecahan kaca depan rumah. Aminah terkejut sambil berlari menuju kamar Yazid.
“Ibu.., ada apa?” Yazid terbangun dari tidurnya.. Tangannya mengusap mata untuk memperjelas apa yang sedang terjadi.
Kali ini suara benda keras terdengar beberapa kali mengenai pintu serta kaca rumah. Sumpah serapah terdengar dari luar rumah. Dia peluk Yazid dengan teramat erat.
“Dasar penghianat..!!!”
“Janda tidak tahu diri..!!!”
“Bakar saja rumahnya..!!!”
Yazid menangis ketakutan dalam pelukan Aminah. Sementara di luar rumah puluhan orang berkumpul sambil melempar batu ke arah rumah. Satu orang membawa gerigen berisi bensin mendekati rumah. Bensin telah dituangkan tepat mengenai pintu rumah. Belum sampai api menyulut bensin. Terdengar teriakan seorang wanita.
“Hentikan..!!!” Sa’diyah menerobos kerumunan masa yang sudah tidak terkontrol amarahnya.
“Apakah kalian ingin membakar seseorang yang belum tentu bersalah?
“Saya dapat mengerti kekecewaan kalian atas kekalahan suami saya. Tapi tolong kedepankan akal sehat kalian. Jangan terbawa emosi yang akan merugikan kita semua!”
“Tapi Bu, perempuan ini telah menjadikan rumahnya sebagai tempat pertemuan musuh politik kita. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali!”
“Bila ada rasa kecewa, sayalah seharusnya yang lebih kecewa daripada kalian semua. Saya lebih tahu tentang Aminah. Sekarang saya berharap kalian semua bubar kembali kerumah masing-masing!”
Suara Sa’diyah mampu meredam amarah masa. Mereka kemudian membubarkan diri kembali kerumahnya masing-masing. Sa’diyah mencoba membuka pintu rumah yang terkunci. Dalam rumah terlihat gelap. Beberapa kali ia berusaha memanggil Aminah. Tidak ada tanggapan dari dalam rumah. Hanya terdengar tangis suara anak kecil. Dengan dibantu beberapa orang, Sa’diyah berusaha mendobrak pintu rumah. Ia masuk ke dalam rumah. Kemudian menuju kamar yang tampak terang oleh nyala lampu. Terlihat Yazid menangis sambil mendekap ibunya. Aminah pingsan, tidak mampu menyaksikan apa yang sedang terjadi.        






6
 
FITNAH


”Ibu, aku berangkat!” Dicium tangan ibunya.
“Hati-hati di jalan Yazid!”
“Iya Bu!”
Pandangan matanya terus menatap tubuh Yazid hingga hilang di kejauhan. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara seseorang.
“Aminah!”
“Oh, Ibu Sa’diyah. Mari masuk!”
“Bagaimana keadaanmu?”
“Al-Hamdulillah sudah semakin membaik setelah meminum obat dari dokter. Saya sangat berterima kasih kepada Ibu. Entah bagaimana keadaan saya dan Yazid bila malam itu tidak ada Ibu!”
“Bersyukurlah kepada Allah. Pemilihan kepala desa membuat banyak orang gelap mata. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perhelatan ini. Kita dapat melihat kesetiaan dan penghianatan!”
“Ibu Sa’diyah, tempo hari saya berjanji akan memberi keputusan setelah pemilihan kepala desa perihal keinginan ustadz Jamal lewat lisan Bu Sa’diyah. Saya telah diskusikan hal ini dengan anak saya, Yazid. Ternyata Yazid menyerahkan masalah ini kepada saya. Dia akan ikut apa yang menjadi keputusan saya. Setelah saya renungkan dengan mendalam. Mempertimbangkan baik dan buruknya bagi saya dan Yazid, maka saya putuskan untuk menerima lamaran ustadz Jamal!”
Sa’diyah terkejut bercampur gembira. Dia tidak menyangka secepat ini Aminah mengambil keputusan.
“Saya teramat gembira mendengarnya. Setelah dari sini saya akan kabarkan berita ini ke ustadz Jamal. Agar secepatnya mempersiapkan keperluan untuk pernikahan kalian. Kami akan bicarakan tanggal yang terbaik buat pernikahan!”
Segera Sa’diyah beranjak dari tempat duduknya. Keluar rumah langsung menuju kediaman ustadz Jamal. Aminah tersenyum melihat tingkah Sa’diyah. Hatinya telah bulat menerima lamaran ustadz Jamal. Kesendiriannya sering mendatangkan fitnah. Ustadz Jamal terkenal dengan kesantunan dan kesabarannya. Dia menjadi tokoh panutan warga kampung Tambun Jaya. Meskipun dalam Pilkades lalu dirinya terpaksa terbawa arus untuk mendukung pencalonan Syarkawi, suami dari Sa’diyah yang adik kandungnya sendiri. Usianya terpaut kurang lebih dua puluh tahun dari usia Aminah. Bagi Aminah itu menjadi nilai lebih untuk mendapatkan kasih sayang. Bukankah usia menentukan bagi seseorang untuk bersikap lebih arif mengartikan hidup ini?
Di masyarakat sudah ramai berita tentang akan terjadinya pernikahan antara ustadz Jamal dengan Aminah. Pro dan kontra masyarakat menyikapinya. Bagi yang setuju merasa bersyukur sebab akhirnya ustadz Jamal melepaskan masa dudanya sejak sepeninggal istrinya. Ini berarti dapat menambah motivasinya untuk terus menjadi polisi moral dalam masyarakat. Menjadi tempat bertanya tentang baik dan buruk dari sudut agama. Bagi yang tidak setuju mengatakan bahwa Aminah tidak layak mendapatkan lelaki seperti ustadz Jamal. Persoalannya dikaitkan dengan masalah politik. Dia wanita yang telah menyakiti keluarga besar ustadz Jamal dengan bergabung pada kelompok Maralih yang sekarang telah menjadi kepala desa. Dia sebagai penghianat kampung sendiri.
Tanggal pernikahan telah ditentukan. Pertemuan antara ustadz Jamal dan Aminah juga telah terjadi. Dalam pertemuan tersebut Aminah hanya meminta kepada ustadz Jamal agar Yazid dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
Di saat suka cita menyelimuti keluarga ustadz Jamal. Datang seseorang dengan membawa beberapa lembar foto. Alangkah terkejutnya ustadz Jamal melihat gambar yang ada dalam foto-foto tersebut. Terlihat Aminah bersama Maralih. Hanya berdua dengan jarak yang teramat dekat. Segera ustadz Jamal mengutus seseorang untuk memanggil Sa’diyah. Sesaat kemudian…
“Sa’diyah, apakah benar apa yang aku lihat ini?”
“Bang, aku pun mendapatkan foto-foto seperti ini juga di rumahku. Banyak warga juga yang mendapatkannya. Aku tidak tahu siapa dibalik semua ini!”
“Sebaiknya engkau pergilah ke Aminah. Minta penjelasan darinya perihal foto-foto ini!”
“Baiklah, aku akan segera ke sana!” Sa’diyah bergegas keluar rumah menuju rumah Aminah.
“Ada apa Ibu Sa’diyah? Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan?”.
“Aminah sebaiknya engkau jujur. Apakah benar gambar dalam foto-foto ini adalah dirimu bersama lurah Maralih?” Sa’diyah memperlihatkan foto-foto yang dibawanya kepada Aminah.
Aminah teramat terkejut melihat foto-foto yang ada di hadapannya. Dia terdiam sesaat. Di situ memang terlihat jelas gambar dirinya bersama Maralih. Tapi di mana?. Beberapa saat kemudian dia baru mengingat dirinya pernah melakukan pembicaraan berdua di pasar Bojong, saat belanja untuk keperluan acara buka bersama untuk para pendukung Maralih dan sekalian membelikan pakaian lebaran teruntuk Yazid. Aminah ceritakan sejak awal sampai tiba-tiba muncul Maralih mengajaknya untuk berbicara. Tidak lama hanya sebentar. Itupun di tengah keramaian orang-orang yang sedang berbelanja. Ia tidak mengetahui bila ada orang lain yang dengan sengaja memotret dirinya bersama Maralih.
Aminah terduduk lemas setelah menceritakan pertemuannya dengan Maralih. Dia menyadari akan kekecewaan dari keluarga besar ustadz Jamal terkait dengan foto dirinya bersama Maralih. Tapi itu bukan di sengaja kesalahan dirinya. Mengapa ada saja rintangan saat dirinya ingin menata hidup baru. Melepas kesendirian demi menjaga fitnah. Kini kebahagiaan yang sudah di depan mata akankah hilang?
“Saya akan sampaikan penjelasan dirimu kepada ustadz Jamal. Saya tidak tahu apa tanggapan beliau nanti terkait dengan  rencananya untuk segera menikah dengan dirimu!” Tidak dapat dipungkiri rasa kecewa dalam raut wajah Sa’diyah. Perjuangannya selama ini untuk menyatukan Aminah dan ustadz Jamal terasa ternodai dengan foto-foto Aminah dan Maralih. Bukan ia tidak percaya dengan penjelasan Aminah. Namun kenyataan di masyarakat yang membuat dirinya dalam posisi terpojok. Imej jelek terlanjur di alamatkan kepada Aminah.
Hari semakin siang. Yazid telah kembali dari sekolahnya. Seperti biasa setelah makan dia lepas kambing-kambingnya. Aminah masih terduduk diam memikirkan perihal foto dirinya bersama Maralih. Berita foto tersebut telah tersebar dari satu mulut ke mulut yang lain. Berita miring tentang dirinya telah tersiar di masyarakat. Dikatakan bahwa Aminah penggoda suami orang. Benar dugaan sebagian masyarakat bahwa dirinya bersekongkol dengan Maralih untuk menjegal Syarkawi menjadi kepala desa. Belum habis rasa heran dengan apa yang baru terjadi. Tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan kedatangan wanita paruh baya dengan raut wajah emosi.
“Apakah benar engkau yang bernama Aminah!!!” Wanita tersebut langsung bertanya ketika melihat Aminah.
“Iya benar, ada apa Bu?”
“Dasar perusak rumah tangga orang!!!” Wanita itu menunjuk wajah Aminah.
“Maaf, saya tidak mengerti maksud Ibu!”
“Engkau tahu, aku ini istri sah Lurah Maralih. Mengapa engkau goda lelaki yang sudah mempunyai istri? Apakah tidak ada lelaki lain yang ingin dengan engkau?”
“Bukan saya yang menggoda suami Ibu!” Aminah mencoba membela diri.
“Sudah salah, beraninya engkau membela diri!!!” Hampir saja tangannya menjambak tubuh Aminah bila saja dua lelaki yang bersamanya tidak mencegahnya.
“Awas, bila kudengar sekali lagi dirimu mencoba menggoda suamiku!!!” Sumpah serapah mengalir lewat bibirnya ketika dirinya diajak dua lelaki tersebut masuk ke dalam mobil yang diparkir di pinggir jalan.
Aminah hanya tertunduk. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Mengapa ujian hidup terus menerpa dirinya. Apakah karena ia seorang janda?.
Malam telah larut. Yazid telah terlelap dalam tidurnya. Aminah masih duduk di tempat tidurnya. Ada beban berat yang sedang menggelayut dalam benaknya. Dirinya beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar Yazid. Ditatap wajah Yazid sebentar. Kemudian diambil buku dan pulpen dari dalam tas Yazid. Setelah itu ia langsung menuju ruang tengah. Dia hidupkan lampu ruangan. Tangannya mulai merangkai kata dalam selembar kertas.

Teruntuk,
Ustadz Jamal
Assalamu’alaikum wr. wb
Semoga Ustadz beserta keluarga besar selalu dalam rahmat Allah swt.
Berat rasa tangan ini untuk mengungkapkan perasaan di hati. Awalnya saya sudah berketatapan hati dengan perenungan yang lama untuk menerima Ustadz sebagai pengganti almarhum suami saya. Menata hidup baru. Merangkai kembali masa indah yang sempat lepas terbawa bersama kepergian suami tercinta. Rasa bahagia kian dekat. Tapi tiba-tiba badai besar menghapusnya. Menghanguskan segala asa yang sempat tertoreh. Badai itu bernama fitnah. Saya yakin Ustadz bersama keluarga besar tidak begitu saja percaya dengan fitnah tersebut.
Demi kemaslahatan bersama. Ustadz adalah milik semua orang. Sebagai simbol kebaikan teruntuk masyarakat kampung sini. Saya tidak ingin sebab saya, Ustadz beserta keluarga besar akan mendapatkan fitnah yang lebih besar lagi. Oleh karenanya lewat surat ini saya mengurungkan diri untuk menjadi pendamping Ustadz. Sekali lagi untuk kebaikan semua.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Aminah

Setetes air mata kembali jatuh. Bukti ketidakberdayaan atau sebagai protes?    
           




          
 
         
7
 
AWAN HITAM

Tubuh Yazid bersandar pada sebuah pohon yang rindang. Hembusan angin menerpa wajahnya. Sementara matanya sesekali melihat kambing-kambing yang sedang asyik menikmati rumput yang ada di tengah sawah. Bunyi kicau burung terdengar saling bersahutan di dahan pohon tepat di atas kepalanya. Matanya hampir terlelap ketika seorang lelaki tua menghampirinya.
“Yazid …?!” Ia terkejut oleh suara yang datang tiba-tiba.
“Pak Rusdi?”
“Nak, pulanglah sebentar!”
“Ada apa Pak?”
“Tidak ada apa-apa. Cepatlah pulang, ibumu sedang menunggumu di rumah!”.
Yazid belum dapat memahami alasan mengapa ia harus segera pulang. Tidak biasanya ibunya menyuruhnya pulang di saat ia sedang mengembala.
“Biarkan kambingmu, nanti bapak yang menjaganya!”.
Segera Yazid meninggalkan pak Rusdi, tetangga sebelah rumahnya. Hatinya gelisah selama dalam perjalanan pulang. Setengah berlari Yazid meninggalkan hewan-hewan ternaknya. Menyusuri pematang-pematang sawah. Terkadang terjatuh sebab menginjak lubang. Menyeberangi sungai-sungai kecil dengan batang-batang kayu sebagai jembatannya. Beberapa temannya dibiarkan memanggilnya dengan penuh keheranan.
Sesampainya di rumah ia melihat banyak orang. Suaranya mengeras ketika seseorang yang ada dalam kerumunan adalah ibunya.
“Ibu …!” Tangannya menggapai tubuh yang terdiam di atas pembaringan. Pipinya dijatuhkan ke pipi ibunya. Tiada henti mulutnya mengucap kata ibu. Air mata terus mengalir membasahi pipinya.
“Sudahlah nak, ibumu tidak apa-apa. Dia terpeleset jatuh saat berada di kamar mandi. Sekarang kita harus membawanya ke rumah sakit!” Ujar salah seorang tetangga mencoba menenangkan Yazid.
Para tetangga membantu menggotong tubuh sang ibu menuju mobil yang telah disiapkan. Sementara Yazid mengiringi di belakangnya dengan isak tangis.
Hanya satu harap dalam benak Yazid, jangan tinggalkan ia sendiri mengarungi hidup ini. Kemana akan dicari tempat meminta kasih sayang. Yang menaruh selimut di tubuhnya saat dingin menghinggap. Yang membelainya kala sedih menimpa.
Selama ini ia hanya bisa mendengar cerita dari ibunya perihal ayahnya. Namanya Hasan. Kulit tubuhnya putih. Sedikit pendiam. Raut wajahnya tidak jauh berbeda dengan wajah Yazid. Saat perjumpaan terjadi ibu Yazid termasuk kembang desa. Hasan adalah seorang karyawan yang tinggal di Jakarta Timur. Bersama dengan teman sekerjanya ia pergi berlibur untuk memancing ikan di sungai yang ada di sekitar kampung Tambun Jaya. Saat istirahat mancing ia mampir ke warung makan. Di situlah awal perjumpaan Hasan dengan Aminah, ibunya Yazid. Saat itu Aminah menjadi pelayan warung makan milik orang tuanya. Aminah tinggal bersama ibunya yang telah lanjut usia. Ayahnya meninggal saat Aminah berusia empat belas tahun.
Beberapa kali Hasan pergi memancing. Tidak pernah terlewatkan untuk mampir ke warung makan Aminah. Benih cinta kemudian timbul antara Hasan dan Aminah. Tidak lama berselang, Hasan memberanikan diri melamar Aminah. Mereka kemudian tinggal di kampung. Sampai akhirnya ajal menjemput ibunya Aminah. Hasan lalu memboyong Aminah untuk tinggal di Jakarta Timur.
Hasan adalah seorang pekerja keras. Seorang karyawan yang jujur dan disiplin. Entah apakah disengaja atau tidak, ia telah menjadi korban kecelakaan mobil saat sedang melakukan tugas dari perusahaannya. Usia Yazid saat itu belum genap dua tahun. Ibunya selalu menitikkan air mata ketika menceritakan masa-masa bersama ayahnya. Kecintaannya pada suami membuatnya belum bisa menerima lelaki lain sebagai pengganti. Dengan alasan menutupi kebutuhan hidup, Aminah memutuskan untuk kembali ke kampung. Uang pesangon dari perusahaan suaminya bekerja, sebagian dipergunakan untuk modal membuka kembali usaha warung makan yang pernah dirintis kedua orangtuanya. Warung makan yang ia buka tidak seramai dahulu. Sebab sudah banyak timbul warung baru. Sebagian dari uang pesangon dibelikan beberapa ekor kambing yang dititipkan kepada orang lain. Baru setelah Yazid memasuki sekolah dasar, kambing-kambing tersebut dipelihara sendiri, hingga kini.
Yazid tidak menduga sakit ibunya akan seperti ini. Seringkali ibunya mengeluh sakit. Tapi setelah meminum obat yang dibeli dari warung terdekat sakitnya langsung hilang.
Sa’diyah yang mengurus administrasi rumah sakit. Dirinya merasa punya andil sebab sakitnya Aminah. Dia seperti telah ikut mengklaim atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan oleh Aminah. Jika saja dia tidak memperdulikan suara-suara miring yang dialamatkan kepada Aminah dan tidak memberi saran kepada ustadz Jamal untuk mengurungkan dulu niatnya memperistri Aminah mungkin sakitnya tidak separah ini. Dia merasakan derita yang teramat berat menimpa ibu dan anak ini. Seorang ibu yang berusaha tetap tegar mempertahankan hidup demi anaknya. Tetap menjaga kehormatannya di saat dirinya butuh kasih sayang sorang lelaki.
“Yazid, tabahkan dirimu. Doakan ibumu agar lekas sembuh. Ibu sudah menyuruh seseorang pergi ke rumah pamanmu, mengabarkan musibah yang menimpa ibumu!” Dibelai kepala Yazid dengan tangan kanannya.   
“Ibu, bangun! Jangan tinggalkan Yazid!” Suaranya lirih. Membuat siapapun yang melihat akan menitikkan air mata. Pakaian lusuh masih ia kenakan. Sendal jepit yang berlumpur masih dipakainya.
Lima jam sudah ibunya terbaring di rumah sakit. Belum juga ada tanda-tanda akan tersadar. Dalam kekalutan yang mendalam, datang pamannya, adik kandung ayahnya yang selama ini tinggal di Jakarta Timur. Dia peluk erat pamannya. Dia tumpahkan rasa kesedihannya.
“Paman minta maaf baru bisa datang. Paman terkejut saat seseorang datang mengabarkan musibah yang menimpa ibumu!”.  
Maralih juga sempat datang untuk menjenguk. Diajaknya Abdurahman berbicara. Dia sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya selama ini terhadap Aminah. Sebab kecintaannya kepada Aminah, dia melakukan cara apapun untuk mendapatkannya. Sampai dia mendengar Aminah ingin dipersunting oleh ustadz Jamal. Dia sengaja menyebar foto dirinya dengan Aminah yang ia ambil secara diam-diam melalui anak buahnya sewaktu di pasar Bojong. Sebenarnya foto tersebut ia ingin berikan kepada Aminah secara baik-baik sebagai bukti cintanya kepada Aminah. Ia pun berkeinginan menceraikan istrinya demi mendapatkan Aminah. Cinta telah membutakan dirinya. Dia berjanji jika Aminah sembuh nanti akan meminta maaf  atas kesalahan yang ia telah perbuat. Sekaligus ingin menyatukan Aminah dengan Ustadz Jamal yang sempat tertunda sebab berita yang tidak benar tersebut.
Kini tinggal Yazid beserta Abdurahman dan istrinya, Fatimah yang mendampingi Aminah. Ketiganya tidak henti menatap wajah Aminah yang diam membisu. Terlebih Yazid, tidak bergeser dari sisi ibunya. Tangan kecilnya membelai pipi Aminah. Sebentar kemudian tangannya telah menggenggam tangan kanan Aminah yang dingin. Dia tempelkan tangan ibunya ke pipinya. Terasa damai merasuk dalam sukma. Kemudian hening, sunyi menyapa. Tiba-tiba dari kejauhan Yazid melihat bayangan putih. Alam sekitarnya tampak gelap. Awan hitam pekat menggelantung di atas langit. Keberadaan kambingnya tidak terlihat sebab gelap yang mencekam. Yazid tertegun memperhatikan bayangan putih yang semakin mendekat. Matanya tidak berkedip. Semakin dekat bayangan itu tampak sebagai sesosok manusia. Dia seperti kenal betul dengan sesosok manusia berpakaian serba putih tersebut.
“Ibu.. !!!” Suara Yazid memekik, memecah keheningan.
Sesosok manusia yang tampak seperti ibunya itu berhenti tidak jauh dari tempat Yazid berdiri. Dia hanya tersenyum melihat Yazid. Perlahan Yazid mencoba untuk mendekat. Tapi bayangan itu malah menjauh. Yazid berusaha mengejar. Bayangan itu semakin menjauh meninggalkan Yazid. Ia terhenti. Air matanya mengalir sambil menatap wajah ibunya yang tersenyum sambil melambaikan tangan. Menjauh ditelan kegelapan.
“Ibu.. !!!”
“Yazid, bangun.. !!!” Abdurahman menyentuh pundak Yazid.
Yazid terbangun dari tidurnya. Kemudian berdiri sambil terus menggenggam tangan kanan ibunya. Abdurrahman dan Fatimah mendekat, menenangkan hati Yazid.         
Malam kini berganti siang. Harapan untuk melihat ibunya tersadar tidak kunjung datang. Segala upaya telah dilakukan oleh dokter rumah sakit untuk menyadarkannya.
Setelah lama menunggu…
“Ibu…!” Ia melihat bibir wanita yang ada di hadapannya itu bergerak. Serta merta Yazid dan pamannya mendekat.
“Yazid...!” Suaranya terdengar pelan. Matanya perlahan sedikit terbuka ketika wajah Yazid mendekat. Ditatap wajah Yazid dengan penuh arti. Segumpal titik bening keluar dari kelopak matanya. Ada sesuatu yang ingin disampaikan. Tapi terasa sulit suara keluar dari bibirnya.
Wajah Yazid sedikit sumringah melihat tanda-tanda kehidupan di wajah ibunya. Senyum mengembang dari bibirnya. Cemas kini berganti dengan harap. Hilang terasa lelah sebab penantian. Sejuta asa terasa terbentang. Berharap keberuntungan kini berpihak kepada dirinya. Namun rasa gembira yang baru dirasakannya tiba-tiba berubah. Sorot mata sang ibu perlahan memudar. Gerak mulutnya terhenti. Diiikuti oleh iringan nafas yang tersengal. Dan semuanya tidak berlangsung lama. Setelah itu yang  tampak diam seribu bahasa.   
Yazid hanya terpaku menyaksikan itu semua. Tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Dan baru tersadar ketika diberitahu bahwa ibunya telah pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Dia peluk tubuh ibunya. Tangis pilu keluar dari mulutnya. Abdurahman, sang paman, beserta istrinya hanya bisa menitikkan air mata menyaksikan apa yang sedang terjadi di hadapannya.
Langit terasa runtuh. Bumi laksana terbelah. Matahari seakan terjatuh ke dunia. Menghanguskan seisi alam. Semua hancur seiring kepergian orang yang terkasih. Karena dalam buaiannya sesungguhnya kehangatan matahari itu berada. Dalam setiap bait kata-katanya keindahan alam itu terpancar. Ibu adalah simbol kasih sayang tanpa batas. Keberadaannya bagai jimat pembawa keberuntungan. Sejarah boleh mencatat peradaban manusia ditata oleh tangan lelaki. Tapi percayalah bahwa semangat setiap perubahan lahir dari kasih sayang seorang ibu.
Tubuh Yazid tiada daya hanya sekedar untuk bergerak. Pamannya yang memapah ketika turun dari mobil pembawa jenazah. Perlahan jenazah sang ibu diturunkan dari mobil. Banyak warga yang ikut menangis ketika melihat wajah memelas Yazid.
Tiada ritual atas jasad ibunya yang tertinggal oleh pandangan mata Yazid. Meskipun melalui dekapan sang paman. Sejak dimandikan lalu dikafani. Bibirnya bergetar saat mencium untuk terakhir kali pipi sang bunda. Hilang ibunya laksana tertelan bumi manakala kain kafan menutup seluruh badan.
Yazid terus mengikuti keranda yang membawa tubuh ibunya ke tempat pemakaman. Langit berawan ikut simpati atas kepedihan hati Yazid. Tak kuasa hatinya melihat tubuh sang ibu perlahan dimasukkan ke dalam liang kubur. Mimpi indah hilang seketika. Masuk bersama kenangan yang tertimbun tanah. Tidak ada lagi wajah tegar seorang ibu yang selalu ia pandangi. Kesabarannya menutupi segala duka yang ia jalani. Tidak akan pernah ada lagi suara lembut terlontar dari bibirnya. Ia telah banyak mengajarkan arti hidup. Setiap duka hidup akan lahir bahagia di kemudian. Pasti menyisakan pintu lapang dari setiap derita. Itu yang selalu ia ucapkan saat ada luka di hati Yazid.
Satu persatu para pengantar jenazah kembali ke rumahnya masing-masing. Membawa cerita tentang hari ini untuk hari esok. Tentang matahari hari ini. Tentang suara hari ini. Tentang senyum hari ini. Tentang duka hari ini. Tercipta simponi lagu untuk hari esok. Pandangan mata Yazid kosong, tertuju pada gundukan tanah tempat ibunya dimakamkan. Air mata seakan telah habis menangisi nasib yang menimpa dirinya.
Hidup memang misteri. Mungkin karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Kita hanya bisa melihat dengan apa yang bisa kita lihat. Kita juga dapat melangkah hanya dengan apa yang kita miliki. Rasa adalah bagian yang kita kecap. Di balik semua itu ada makna yang tersembunyi. Hati  tulus berbalut keyakinan yang mampu menembus sekat fatamorgana. Duka bisa bahagia. Adakala bahagia menjadi duka. Itulah hidup.       





















8
 
SELAMAT TINGGAL
MASA LALU

Kabut menyelimuti seisi kampung. Berbaur dengan warna pekat awan yang menggelantung di langit. Hari masih teramat pagi. Sebagian penduduk masih terlihat malas untuk keluar rumah. Kini satu minggu sudah kematian Aminah, ibunda Yazid. Tas berisi pakaian serta beberapa kardus terikat tali rapia tampak di bangku dan meja tamu. Yazid terlihat rapi di dampingi paman dan bibinya.
“Paman, ada baiknya kita pamit terlebih dahulu kepada guru mengajiku, ustadz Jamal!”
“Fatimah, engkau tunggulah sebentar. Biar aku antar Yazid bertemu ustadz Jamal!”
Keduanya keluar rumah meninggalkan Fatimah. Lima menit kemudian keduanya telah sampai ke kediaman ustadz Jamal.
“Jadi sudah bulat bila Yazid akan tinggal bersama Adik? Usulan saya tempo hari bukanlah basa basi. Saya ingin sekali Yazid tinggal bersama saya di sini. Anak-anak saya semuanya telah berkeluarga. Tinggal saya di sini seorang diri. Segala keperluan Yazid termasuk biaya pendidikannya biarlah saya yang tanggung!”
“Sebelumnya saya atas nama keluarga mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga besar Ustadz atas kebaikan yang selama ini telah diberikan kepada almarhumah dan Yazid. Saya dapat memahami maksud baik Ustadz. Tapi biarlah Yazid tinggal bersama saya. Kebetulan saya dan istri sampai saat ini belum dikarunia seorang anak pun. Ditambah lagi dengan wasiat ibunya yang tidak mungkin saya abaikan. Ini Ustadz, surat wasiat dari almarhumah yang ditemukan di bawah tempat tidurnya!” Abdurahman memberikan selembar surat kepada ustadz Jamal.

Teruntuk Adikku,
Abdurahman

Rasanya perjalanan hidupku akan berakhir esok saat mentari terbit. Itu setelah aku mendengar vonis dokter tentang penyakitku. Bukannya aku takut akan kematian. Bukan pula aku sesali hidupku yang mungkin tidak akan lama lagi. Mungkin ini yang terbaik dari Tuhan teruntukku. Yang membuat aku enggan untuk dipanggil Tuhan adalah Yazidku. Dia permata hatiku. Tangisnya adalah dukaku. Senyumnya merupakan kebahagiaanku. Aku takut, hidup Yazid selalu akan dibalut kesedihan oleh sebab kematianku.
Abdurahman, berjanjilah atas nama Tuhan teruntukku. Bila Tuhan kelak benar-benar memanggilku. Kasihilah Yazid seperti engkau menyanyangi anakmu sendiri. Buatlah dia selalu tersenyum meskipun kedua sayapnya telah patah. Aku yakin Yazidku bisa melalui ini semua. Karena hari-hari yang telah kujalani bersamanya lebih banyak dipenuhi air mata.
Abdurahman, Yazid ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Juallah semua hewan ternak miliknya. Jual pula rumah beserta tanahku untuk menggapai cita-citanya dan ajaklah ia tinggal bersamamu.
Aminah
     

Ustadz jamal tertegun sebentar setelah membaca isi surat wasiat Aminah.
“Untuk kelanjutan sekolah Yazid bagaimana?”
“Sekolahnya akan pindah ke sekolah yang berdekatan dengan rumah saya!”
“Baiklah jika demikian. Semoga Yazid dapat memenuhi cita-cita ibunya!”
Matahari terlihat malu di balik awan hitam. Enggan menyapa makhluk bumi. Langit masih merana. Sejak semalam terus menangis menumpahkan gejolak di dadanya.
“Kita tidak dapat menunggu udara cerah. Sebab siang nanti aku sudah harus berada di tempat kerja!” Abdurahman mengajak Fatimah dan Yazid untuk segera berangkat.
“Yazid, apakah masih ada yang tertinggal?” Fatimah mencoba mengingatkan Yazid.
“Sepertinya sudah tidak ada Bi!” Tangan kanannya mengambil tas. Sementara tangan kirinya memegang selembar foto dirinya yang berdampingan dengan almarhumah ibunya. Sekali lagi dilihat foto kenangan dirinya dan ibunya. Kemudian pandangannya menatap sekeliling ruang tamu, lalu ke ruang tengah dan berakhir di ruang dapur. Bayangan ibunya seperti berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain di dalam rumah, lalu berdiri menatap kepergiannya, tersenyum kecut sambil melambaikan tangan kanannya. Tanpa terasa air mata keluar dari kelopak matanya. Tidak kuat ia menahan kepedihan untuk berpisah dari tempat yang seluruh jiwanya tertanam di sini bersama ibundanya tercinta.
“Yazid, mari kita berangkat!” Suara Fatimah membuyarkan lamunan Yazid.
Ketiganya keluar rumah. Di luar sudah ada beberapa tetangga yang ingin melihat keberangkatan Yazid. Tampak Sa’diyah, juga Asep, sahabat karibnya. Semuanya larut dalam kesedihan yang dirasakan oleh Yazid. Dilangkahkan kakinya menuju ke samping kemudian sampai ke belakang rumah. Kandang yang telah kosong dari penghuninya karena telah dijual. Banyak kenangan Yazid bersama kambung-kambingnya. Bersamanya Yazid mengenal lebih dekat alam. Belajar banyak tentang arti hidup dari tumbuhan dan binatang sawah. Bahwa hidup adalah ketergantungan. Bahwa antara kita dan alam ada keterkaitan. Bahwa hari ini adalah cermin untuk hari esok. Sedikit kita cubit alam ini. Maka akan ada tangis untuk anak cucu kita di kemudian hari.
Satu persatu dicium tangan para tetangga yang ikut mengantar kepergiannya. Orang-orang yang sedikit banyak telah ikut mewarnai hari-hari indahnya bersama ibundanya tercinta.
Dengan mengendarai ojek, ketiganya meninggalkan kampung, menyusuri jalan berbatu dengan kubangan air hujan di sana sini. Motor melaju ke arah selatan menuju kampung Tanah Apit yang menjadi pintu masuk ke arah jalan raya menuju arah Pulogadung. Di sisi kanan dan kiri jalan, terbentang pemandangan sawah-sawah yang tertutup air. Burung-burung telah memulai aktivitasnya mencari peruntungan. Warna hijau daun pohon Lontorogung menyapa setiap pengguna jalan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan mobil angkot menuju pasar Cakung, Jakarta Timur. Setelah itu berganti kendaraan menuju ke arah utara yang menuju Tanjung Priok. Beberapa saat kemudian sampailah ketiganya ke tempat tujuan. Sebenarnya tempat ini tidak begitu asing bagi Yazid. Karena sebelumnya ia bersama ibunya pernah berkunjung ke tempat ini.
“Yazid, sekarang istirahatlah dahulu. Ada kamar yang kosong untuk engkau tempati. Jangan engkau merasa sungkan. Anggap rumah ini adalah rumahmu sendiri. Jadikan bibimu sebagai pengganti ibumu. Lusa aku akan antar engkau ke sekolah baru. Biar hilang sedikit demi sedikit rasa sedih dalam dirimu.”
Malam kian larut. Terasa sulit kelopak matanya tertutup. Esok adalah hari pertama ia memulai aktivitas di tempat yang baru. Meninggalkan masa lalu. Mendaki hari esok dengan sejuta asa. Semua berakhir dalam mimpi tidur panjangnya.          










9
 
PERGI KE PESANTREN

Tiga tahun sudah Yazid tinggal bersama pamannya. Kumpul bersama teman seusianya di sekolah sedikit mengurangi duka hidup Yazid.

“Yazid, ke mana engkau akan melanjutkan sekolah?” Tanya Sulaiman, teman sebangku Yazid.
“Entahlah, aku belum tahu. Kalau kamu?”
“Aku ingin melanjutkan sekolah yang ada di pesantren Jawa Timur.”
“Kenapa engkau ingin ke sana?”
“Selain sekolah, aku ingin memperdalam ilmu agama. Kebetulan kakak perempuanku kuliah di sana juga!”
Pesantren? Lama Yazid termenung di atas tempat tidurnya. Sulaiman banyak menceritakan perihal pesantren kepada Yazid. Di pesantren kumpul santri dari berbagai daerah di Indonesia. Ada pula yang berasal dari luar negeri. Di sana, dianjurkan kemandirian hidup. Dari urusan makan sampai mencuci pakaian dilakukan sendiri.
    Saat ini Yazid sedang menunggu saat-saat kelulusan sekolah menengah pertama. Suatu ketika dipanggillah Yazid oleh Abdurahman.
“Yazid, sekolahmu hampir selesai. Di sekolah mana engkau akan melanjutkan? Jangan engkau sungkan untuk mengatakannya. Alamarhumah ibumu sudah menyiapkan biaya teruntukmu.”
“Paman aku ingin melanjutkan ke SMA. Tapi aku tidak ingin berada di Jakarta”
“Kemana engkau akan sekolah?”
“Ada kabar dari temanku bahwa di Jawa Timur ada sekolah SMA yang dikelola oleh pondok pesantren.”
Bulat sudah hati Yazid untuk meninggalkan sejenak tempat yang telah memberi kenangan pahit, hidup tanpa ayah dan ditinggal ibu di saat ia sangat membutuhkan kasih sayangnya.
Hari kelulusan sekolah telah tiba. Istri Abdurahman telah berbelanja segala kebutuhan untuk keberangkatan Yazid ke pesantren. Beberapa pasang pakaian, buku-buku serta peralatan mandi dimasukkan dalam sebuah tas. Esok adalah hari keberangkatan Yazid.
“Yazid, jaga dirimu di rantau. Perbagus tingkah lakumu dalam bergaul. Kami berdo’a semoga engkau betah di sana serta kelak memperoleh ilmu yang bermanfaat bagi orang lain!” Demikian pesan istri Abdurahman teruntuk Yazid.
Mata Yazid seperti tidak dapat dipejamkan. Esok ia sudah harus meninggalkan Jakarta. Terbayang di pelupuk mata wajah ibunya.
“Ibu, esok aku pergi meninggalkan tempat orang-orang yang kucintai. Doakan agar di rantau aku bisa lebih memahami arti hidup ini”.
Malam berganti siang. Udara teramat cerah. Sinar matahari pagi menyapa kesibukan masyarakat ibu kota. Fatimah mengantar keberangkatan Abdurahman dan Yazid sampai depan pintu rumah.
“Bi, terima kasih atas kebaikan Bibi. Maafkan atas setiap kesalahanku”.
“Jangan berkata seperti itu. Sudah menjadi kewajiban Bibi untuk memberikan yang terbaik teruntukmu. Engkau telah banyak membantu Bibi di sini. Bibi merasa sangat kehilangan. Seperti seorang ibu yang tinggal merantau anaknya. Jangan lupa kabari dirimu lewat surat”. 
Dengan diantar pamannya, Yazid berangkat menuju Jawa Timur untuk melanjutkan sekolahnya. Perjalanan dimulai dari stasiun Senen, Jakarta, dengan kereta api jurusan Surabaya.
Stasiun Senen. Saksi bisu setiap asa jutaan orang-orang yang datang maupun keluar Jakarta. Tempat akhir pembuang sial bagi mereka yang terkena luka kejamnya ibu kota.
Kereta akhirnya berangkat meninggalkan sejuta kenangan. Rutinitas hidup terus bergerak meskipun dalam kereta api. Berbagai cara untuk meraih rupiah dilakukan. Mulai dari ratusan pedagang, peminta-minta, sampai pada pencuri, menyatu dalam gerak roda kereta api kelas ekonomi.
Setelah semalaman berada dalam kereta api, sampailah mereka di stasiun Pasar Turi, Surabaya. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus antar kota. Menuju terminal Purabaya. Dari sini keduanya naik bus jurusan Banyuwangi. Mobil melaju ke arah timur menuju Bangil, kemudian berhenti sebentar di terminal Probolinggo. Sepanjang perjalanan, di sisi kiri terbetang hijau laut selat Madura. Di sisi kanan tampak menjulang di kejauhan gunung Lamongan dan gunung Argopuro. Mobil berhenti di terminal Besuki. Keduanya turun dari mobil. Di luar sudah menanti puluhan becak.
“Ke pesantren Pak?” Tanya tukang becak sambil menyodorkan becaknya untuk dinaiki.
“Pesantren Khoiro Ummah?” Tanya Abdurahman memastikan tujuannya.
“Ia Pak, silahkan naik!”
 Beberapa saat kemudian sampailah keduanya ke tempat tujuan.
Pesantren merupakan salah satu tempat kegiatan belajar mengajar. Hampir di setiap daerah di Indonesia dijumpai pesantren. Usia pesantren seusia perjalanan bangsa Indonesia itu sendiri. Banyak tokoh bangsa terlahir dari pesantren. Demi menjaga orsinilitas budaya di dalamnya, pesantren biasanya agak menjaga jarak dengan dunia luar. Tidak heran bila kemudian banyak kalangan di luar pesantren menganggap dunia pesantren terkesan ekslusif. Namun karena perkembangan zaman yang tidak mungkin terelakkan, banyak pesantren kemudian mengakomodir apa yang ada di luar. Tentunya dengan tidak mengubah ciri khasnya. Dahulu di pesantren hanya terdapat masjid sebagai tempat ibadah dan belajar, asrama untuk tempat tinggal siswa, tempat kediaman seorang pengasuh yang biasanya di pulau Jawa dipanggil dengan sebutan kyai. Kini beberapa pesantren telah banyak mengalami perubahan. Sekolah formal dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi sudah dapat dijumpai. Perkembangan teknologi seperti internet juga telah masuk pesantren.
Salah satu budaya pesantren yang sampai saat ini masih tetap terjaga adalah dibatasi hubungan antara pria dan wanita yang bukan saudara sekandung. Biasanya ada aturan tertulis yang melarang komunikasi di antara keduanya. Tidak heran bila kemudian mereka tidak saling mengenal sekalipun lama hidup berdampingan.
Pandangan Yazid tertuju pada tempat yang baru pertama kali ia lihat. Selama ini ia hanya bisa menyaksikannya lewat televisi. Di sisi kanan dan kirinya kokoh berdiri bangunan asrama para santri. Beberapa santri terlihat hilir mudik sambil mengapit kitab kuning. Tidak semua santri mengenakan sarung. Ada juga yang mengenakan celana seragam SMP maupun SMA. Kopiah menjadi pelengkap yang harus dipergunakan.
“Assalamu’alaikum…” Sapa paman Yazid ketika memasuki salah satu ruang asrama.
“Walaikumussalam...”. Hampir serempak jawaban orang-orang yang berada dalam kamar. Salah satu di antaranya adalah Sulaiman, teman sebangku Yazid semasa SMP. Dia sudah satu minggu yang lalu tiba di pesantren. Ruang asrama berukuran empat kali lima meter. Di salah satu sudut atas dinding terpampang beberapa foto, yang ternyata pengasuh beserta pendiri pondok pesantren. Di sisi kamar bersandar almari yang berisi sekitar tiga puluh enam kotak berukuran panjang lebar setengah meter. Kotak-kotak inilah sebagai tempat menyimpan pakaian santri. Sementara pakaian-pakaian kotor menggelantung di deretan hanger panjang. Hanya ada satu ventilasi yang mengarah ke belakang asrama.
“Silahkan duduk Pak!” Salah seorang mempersilahkan Yazid dan pamannya duduk. Mereka duduk bersila mengitari ruangan. Suasana hening sejenak.
“Ini Yazid dan Pamannya, Ustadz.” Sulaiman mencoba memperkenalkan temannya kepada orang yang mempersilahkan Yazid dan pamannya duduk, yang ternyata sebagai ketua kamar.
“Sulaiman telah banyak menceritakan perihal Yazid kepada saya. Yazid bisa tinggal di kamar sini. Kebetulan sudah ada tiga puluh empat santri, dua di antaranya santri baru. Mereka antara lain ada yang berasal dari Madura, Banyuwangi, Malang, Kalimantan, Jawa Tengah, Bali dan NTB.” Ujar ketua kamar menjelaskan keadaan kamar yang akan ditempati Yazid.
“Nanti saya akan antar Bapak untuk mendaftarkan Yazid sebagai santri di sini!” Lanjutnya lagi.
Resmi sudah Yazid menjadi salah satu dari ribuan santri di pondok pesantren. Pagi harinya Yazid bersama Sulaiman mengantarkan pamannya kembali ke Jakarta, setelah sempat semalam menginap.
Tidak dapat dipungkiri akan perasaan hatinya yang masih menyimpan sejuta kenangan di masa lalunya. Sulaiman yang selalu menghibur setiap kali melihat Yazid termenung. Diajaknya Yazid shalat berjama’ah di masjid. Sore harinya ia sudah mulai antri mandi bersama santri yang lainnya.
Hari beranjak malam. Hawa dingin mulai merasuk. Sebagian santri sudah mulai tertidur di kamarnya masing-masing setelah sepanjang hari menjalani rutinitas pesantren. Tidak ada bantal. Tidak pula kasur. Semua tidur hanya beralaskan karpet. Keterbatasan tempat tidur membuat sebagian santri terpaksa tidur di lantai masjid, mushola, sekolah, dan tempat-tempat yang memungkinkan untuk ditiduri. Semua lelap bersama hembusan angin yang merasuk kedalam tulang sum-sum.
Dengan dibantu nyala lilin, Yazid menuangkan kerinduannya pada pamannya di Jakarta.

7 Mei 1996
Teruntuk,
Paman
Paman, ini adalah hari-hari pertamaku di sini. Sepertinya aku temukan duniaku yang hilang. Ada kebersamaan yang selama ini aku cari. Aku melihat senyum yang tulus dari bibir-bibir anak negeri yang jauh dari bising keramaian. Mereka semua hidup dalam kesederhanaan.
Dari sini aku hanya bisa berdo’a, semoga senyum kebahagiaan selalu mengiringi Paman dan Bibi.
Yazid
Satu bulan telah berlalu. Yazid kini telah larut dalam aktivitas pesantren. Hampir dua puluh empat jam denyut nadi kehidupan di pesantren. Banyak santri yang menghabiskan waktunya sampai jam dua belas malam. Tepat jam dua dini hari mereka sudah kembali beraktivitas dengan melakukan kegiatan seperti shalat sunnah. Saat seperti inilah yang sering membuat Yazid menitikkan air mata. Teringat kesendiriannya dalam hidup. Bila sudah seperti itu, sepucuk surat menjadi pelampias kegundahan hatinya. Berbagi dengan paman tercinta.

12 Juni 1996
Teruntuk,
Paman
Aku tulis surat ini di bawah benderang nyala lilin. Baru saja kutempelkan jidatku ke sajadah.
Paman, entah mengapa air mataku selalu mengalir di malam-malam sujudku. Ramai akan terasa saat ada orang lain di sisiku. Tapi kala aku sendiri dalam sunyi, tak kuat rasanya aku menahan tangis. Luka lamaku terasa tersayat oleh kepiluan masa laluku.
Senyum ibuku, pandangan matanya, lambaian tangannya, selalu hadir di hadapanku.
Aku berharap tulisan ini bisa menjadi obat penenang jiwaku. Salam teruntuk Bibi.
Yazid

Hati siapa yang tak menangis melihat jiwa menyendiri dalam sepi yang tak berujung. Terlebih ada ikatan darah di antara keduanya. Dengan selembar surat Abdurahman menulis kata pelipur lara teruntuk Yazid.

Jakarta, 2 Juli 1996
Teruntuk,
Yazid
Yazid, tidak usah engkau ingat masa lalumu dengan air mata sesal. Karena akan semakin terasa pilu hari-hari yang akan engkau lalui. Bukankah ada ribuan bahkan jutaan orang yang mengalami nasib lebih buruk dari kita? Anggap setiap yang menimpa kita sebagai ombak kehidupan yang mesti kita hadapi. Ayah ibumu pasti tersenyum bangga di alam sana bila melihat engkau setegar karang dalam menerima coba yang menerjang.
Abdurahman

Hilang sesaat kepedihan dalam hati Yazid. Surat Abdurahman seperti telaga pelepas dahaga keringnya kasih sayang dalam jiwa Yazid. Bukan lagi materi yang berlimpah yang menjadi damba setiap jiwa saat hilangnya kasih sayang orang tua. Selembar surat terkadang sedikit dapat meringankan beban.




Jakarta, 5 Oktober 1996
Teruntuk,
Yazid
Semoga engkau sehat selalu.
Kami harap engkau bergembira sebagaimana suasana gembira yang terpancar di rumah saat ini. Bibimu telah melahirkan seorang bayi perempuan mungil. Akhirnya, penantian panjang itu datang juga, buah hati dambaan jiwa.
Saat libur kelak, engkau bisa melihat senyum lucu keluar dari bibir mungilnya.
Salam dari bibimu.
Abdurahman

Hati Yazid berbunga menerima kabar dari pamannya. Siapa lagi seseorang dalam hidupnya yang ia akan berikan kebahagiaan selain paman dan bibinya. Dia bergembira melihat pamannya yang saat ini sedang berbahagia atas kelahiran anak yang selama ini dinantikannya.


























10
 
SANTRI BARU

17 Juni 1997
Teruntuk,
Paman
Paman, aku melihat dari sini langit Jakarta membara. Banyak mahasiswa yang berdemontrasi. Banyak penjarahan yang terjadi. Adakah yang lebih berharga dibandingkan jiwa? Ataukah keadaan yang membuat nyawa mereka tidak berharga lagi?
Sungguh aku belum bisa memahami apa yang sedang terjadi di sana. Yang bisa aku rasa adalah ada tarikan keras yang membawa kita ke suatu tempat yang berbeda. Tempat yang mungkin akan membuat kita tersenyum atau menangis ?
Salam teruntuk bibi dan adik kecilku, Lailah.
Yazid.

Setelah selesai dibaca sekali lagi, dilipat surat yang semalam dibuatnya. Tidak lupa ditempelkan prangko di pojok kanan atas amplop, tepat di atas nama tujuan alamat surat. Kotak pos yang terletak di pinggir jalan siap menanti setiap kabar yang akan dibawa ke tempat tujuan.
Hari ini Jum’at. Hari libur untuk setiap kegiatan formal pesantren. Para santri memanfaatkannya dengan mencuci pakaian kotor yang dikumpulkan selama seminggu lamanya. Ada sebagian yang memanfaatkan waktu libur untuk rehat sejenak. Duduk-duduk sambil meminum segelas kopi secara bersama-sama.
“Yazid, kenalkan ini Kang Anwar, santri baru di sini!” Dijabat tangan Anwar, santri baru yang diperkenalkan oleh Ustadz Gufron.
Tidak seperti kebanyakan santri baru lainnya, Anwar datang dengan tanpa orang tua. Bila santri lain datang dengan rambut pendek. Anwar datang dengan rambut sebahu. Tubuhnya kurus dengan pakaian lusuh. Keadaan yang serba kumuh bertolak belakang ketika ia memperkenalkan diri. Tutur bahasanya tersusun rapi meskipun sedikit kata yang keluar dari mulutnya. Terlihat ia sebagai seorang yang mempunyai wawasan yang luas. Pengetahuan yang mendalam tentang apa yang sedang terjadi di negeri ini.
Entah mengapa, meskipun baru mengenal, Yazid merasakan satu kesamaan dengan Anwar. Sebuah pengharapan dari penantian panjang  perjalanan hidup. Banyak sekali arti hidup yang ia peroleh setiap kali berdiskusi dengan Anwar. Mungkin karena usianya yang tidak jauh berbeda dengan ustadz Gufron. Sehingga sedikit lebih banyak pengalaman hidup yang dialaminya.
“Kang Anwar, apakah engkau pernah kecewa menjalani hidup?” Suatu saat Yazid mencoba berbagi dengan Anwar.
“Setiap manusia pasti pernah merasakannya. Memangnya kenapa Yazid?”
“Aku merasa Tuhan begitu berat memberi coba teruntukku!”
“Yazid, tidak mungkin Tuhan memberikan ujian yang kita tidak mampu menjalaninya. Ada kala sesuatu yang tidak ada pada kita dianggap sebuah kekurangan. Padahal ada maksud lain dari Tuhan teruntuk kita. Bukankah banyak dari kita yang lengkap dengan apa yang dimiliki. Tapi tetap terasa hampa hidupnya? Mereka menganggap dunia ini adalah segalanya. Bahagia bukan dari apa yang kita rasa. Namun lebih dari itu bahagia timbul sebab dari apa yang sudah kita beri. Hidup laksana mimpi. Sekejap apa-apa yang kita rasa. Esok telah hilang. Yang ada hanya antrian panjang. Penantian teruntuk tempat keabadian kita.”
“Wah, Kang Anwar! Sepertinya engkau lebih pantas jadi ustadz dibanding santri biasa!”
“Ah, itu biasa. Kebetulan aku lebih dahulu adanya dari engkau. Ada sedikit lebih pengalaman hidup yang aku jalani!”
“Kang, ayah-ibuku meninggal saat aku teramat membutuhkan kasih sayangnya!”
“Kita semua akan mati Yazid. Manusia, siapapun dia, bagaimanapun hebatnya ia, pasti akan dijemput oleh kematian. Hakekat kematian hanyalah perubahan keadaan. Kebersamaan menjadi kesendirian. Keberadaan menjadi ketiadaan. Tidak perlu waktu lama untuk menanti apa yang telah kita perbuat. Setelah ruh ini terpisah dari tubuh. Maka akan terpampang daftar perilaku kita selama di dunia. Sesal sebab perilaku buruk. Bahagia karena membawa kebaikan.
“Manusia menjadi pongah dan serakah. Itu karena melupakan kematian. Lihat, betapa teramat pemurah Tuhan. Memberi anugerah kepada kita sebuah negeri yang teramat kaya. Tapi mengapa kemiskinan dan kebodohan terus membalut negeri ini? Sebagai anak negeri kita tidak pernah bersyukur. Bersyukur itu berarti mengolah kekayaan alam pemberian Tuhan dengan benar, demi kepentingan orang banyak, bukan untuk segelintir orang saja. Bila semua ingat bahwa kebahagiaan itu milik semua orang. Bahwa ada luka di hati ini bila melihat derita orang lain. Bahwa ada saat dimana kita harus kembali. Maka seutas tali pengharapan pasti akan terbentang teruntuk semua.”
Yazid hanya terdiam mendengar ucapan Anwar.
“Yazid, mari kita beli nasi!”
“Silahkan Kang!!!”
“Sudah, nanti aku yang traktir!”
Mereka berdua berjalan menuju kantin pesantren. Sudah banyak santri yang antri berdiri untuk memesan pesanannya.
“Hai Anwar, bagaimana kabarmu?!” Dari pojok kantin seseorang memanggil Anwar.
“Sebentar Yazid! Tolong kamu pesan untuk aku juga!” Ditinggalkan Yazid.
Dari tempat duduk, Yazid melihat Anwar begitu akrab dengan orang yang ditemuinya. Tampak mereka berdua seperti telah lama saling mengenal. Sesaat kemudian Anwar kembali ke tempat Yazid yang telah memesan dua piring nasi ditambah dua gelas es teh manis.
“Siapa itu Kang?”
“Oh, temanku!”
“Kang Anwar hebat!!! Baru beberapa hari di sini sudah banyak mempunyai teman!”
Keduanya larut dalam keramaian para santri yang ikut makan setelah seharian mengikuti aktivitas di pesantren.
Malam berganti siang. Matahari pagi telah menampakkan wajahnya. Sinarnya begitu menyilaukan mata. Masuk ke dalam ruang-ruang kamar yang berada di tingkat dua. Meski baru sekitar jam sepuluh pagi, hawa panas teramat menyengat. Jum’at kali ini seperti hari-hari jum’at sebelumnya. Serentak penghuni seisi asrama keluar memanfaatkan libur hari jum’at. Hanya beberapa santri tetap berada di kamar. Menyibukkan diri dengan membaca atau sekedar berbagi cerita. Termasuk Yazid yang memanfaatkan waktu luangnya berbagi cerita dengan Anwar. Di saat serius mendengarkan cerita Anwar.
”Anwar ..!!!” Tiba-tiba ustadz Gufron sudah berada di depan pintu.
”Sebentar, aku ingin bicara denganmu!”
Anwar segera meninggalkan Yazid. Keduanya tampak serius membicarakan sesuatu. Tidak dapat dipungkiri perasaan cemas membalut wajah ustadz Gufron. Hanya saja Anwar tampak begitu tenang. Tidak lama kemudian keduanya menuju Yazid.
”Yazid, sebaiknya engkau ikut bersama Anwar!”
”Bila boleh saya tahu, hendak kemana ustadz?”
”Ke alas!”
Anwar segera mengambil peci yang disangkutkan di hanger pojok ruangan. Sorban hijau digunakan untuk menutupi kepalanya.
”Cepatlah kalian berangkat!”
Sebagian wajah Anwar tertutup sorban. Setengah berlari Anwar meninggalkan asrama. Sementara Yazid mengikuti di belakang Anwar dengan sejuta tanda tanya. Ada apa gerangan yang membuat Anwar segera meninggalkan asrama? Mengapa wajahnya seperti tidak ingin dilihat oleh orang lain?
Setelah menuruni tangga asrama. Keduanya kemudian menyusuri lorong yang berada di belakang asrama. Sekilas tidak ada yang aneh bagi ribuan santri lainnya yang kebetulan melihat keduanya. Sampailah keduanya di luar komplek pesantren. Lalu meuju ke arah barat. Jalan berdebu. Melewati pemukiman penduduk. Tidak lama tanaman pohon tebu berbaris di sisi kanan kiri jalan setapak yang dilalui Anwar dan Yazid. Akhirnya keduanya sampai di tepi hutan. Sebenarnya tempat ini tidak layak di sebut hutan atau alas. Sebab arealnya tidak begitu luas. Hanya kurang lebih tiga jam waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menempuh perjalanan dari tempat keduanya berdiri sampai ke ujung sebelah utara yang berbatasan dengan jalan raya pantura. Sementara ke arah utara berbatasan dengan laut jawa, tempat ajang latihan TNI Angkatan Laut.
Keduanya memasuki areal hutan. Disambut dengan puluhan kera yang berlarian dan bergelantung di atas pohon yang berumur ratusan tahun. Tidak lama kemudian keduanya berhenti. Sambil mengatur napas keduanya duduk untuk melepas rasa lelah.
”Kang, apa yang sedang terjadi?” Yazid mencoba mengeluarkan pertanyaan yang disimpannya sejak dalam perjalanan.
”Yazid, aku minta maaf belum dapat menceritakan apa yang sedang terjadi pada diriku. Tapi suatu saat pasti aku akan ceritakan  kepadamu.”
”Aneh, sepertinya engkau lebih mengetahui tempat ini daripada aku. Engkau begitu hafal menapaki jalan demi jalan!”
Anwar hanya tersenyum sambil menepuk pundak Yazid ”Nanti aku pasti  akan menceritakannya padamu. Kuharap engkau bersabar!”
Yazid hanya terdiam mendengar penjelasan Anwar. Keberadaan Anwar bagai teka teki yang sulit untuk dimengerti. Sejak kehadirannya di pesantren. Tidak lazim bagi santri baru datang tanpa didampingi oleh orang tuanya atau walinya. Usianya di atas rata-rata. Penampilannya tidak terurus dengan rambut melebihi bahu. Dia sangat tertutup bila ditanya seputar pribadinya. Tapi banyak mengenal orang-orang di pesantren yang seusia dengannya. Tidak hanya itu. Dia begitu paham lingkungan dalam pesantren dan di luar pesantren. Seperti tempat yang sekarang ia singgahi.
Suasana semakin gelap. Tanda siang akan berganti malam. Suara khas binatang malam di hutan mulai terdengar. Keduanya belum beranjak dari tempatnya. Rasa lapar telah menghinggap. Belum ada tanda bahwa keduanya akan kembali. Anwar hanya mengatakan akan kembali bila ustadz Gufron datang menemui keduanya.
Banyak hal yang didapat Yazid selama di dalam hutan bersama Anwar. Dia merasa bangga telah menjadi bagian kecil perjalanan hidup Anwar. Meskipun sampai detik ini keberadaan Anwar menjadi bagian misteri perjalanan hidupnya. Dari sosok Anwar, dia menemukan keberanian hidup, tegar dalam berpendirian, jujur dalam ucapan, toleran terhadap perbedaan, dan luas pandangan hidupnya. Semua sifat itu terdapat dalam diri Anwar ketika setiap kata terlontar dari bibirnya.
Malam kian larut. Sinar rembulan  masuk melalui celah dedaunan. Disambut dengan lengkingan suara anjing hutan saling bersahutan. Kera-kera tanpa malu-malu menghampiri Anwar dan Yazid. Bayangan binatang buas menghantu benak Yazid. Cerita dari teman-temannya tentang harimau yang keluar di malam hari.
Ketika suasana semakin mencekam. Terdengar suara pelan memanggil Anwar dan Yazid.
”Ustadz Gufron!” Serentak keduanya berdiri ketika sebuah bayangan menghampiri.
”Anwar, Yazid, ini aku bawakan nasi. Makanlah dahulu. Setelah itu kita segera kembali. Suasana sudah aman!”
Aman? Entahlah. Yazid tidak mengerti dengan maksud kedaan telah aman. Apakah jiwa Anwar terancam? Oleh siapa? Yazid hanya terdiam tanpa komentar. Mungkin belum saatnya ia harus mengetahui keadaan yang sebenarnya.    
Kurang lebih satu bulan Anwar tinggal di pesantren. Hingga suatu ketika Anwar mengajak Yazid untuk pergi ke Surabaya.
“Ada acara apa Kang?”
“Biar engkau lebih banyak tahu tentang arti hidup dari dunia luar!”
Mereka berdua berangkat di malam hari tepat pukul dua belas malam. Tidak banyak kata yang keluar sepanjang perjalanan ke Surabaya. Namun demikian tidak dapat ditutupi ada kegelisahan dalam diri Anwar yang dilihat Yazid dari raut wajah Anwar. Wajahnya lebih banyak ditundukkan ketika berada di dalam bus antar kota menuju Surabaya.
Waktu masih teramat pagi ketika mereka sampai di terminal Purabaya, Surabaya. Dengan segera Anwar mengajak Yazid untuk segera menaiki angkot. Kurang lebih setengah jam perjalanan, mobil angkot berhenti di sebuah gang kecil. Keduanya menyusuri lorong melewati beberapa gang. Sesaat kemudian keduanya  telah sampai di sebuah tempat kontrakan. Di situ sudah menanti beberapa orang yang rata-rata berusia remaja.
“Bagaimana kabarmu Anwar?” Tanya salah satu dari mereka.
“Aku baik-baik saja. Aku bersembunyi di pondok pesantren!”
“Ini siapa?” Tanya yang lain penuh curiga.
“Namanya Yazid, sengaja aku ajak untuk ikut. Dia salah satu santri yang ada di pondok pesantren. Dia berasal dari Jakarta. Aku berharap dia sebagai saksi atas perjuangan kita. Biar ia yang menceritakan kepada anak cucunya bahwa reformasi diperjuangkan dengan tetesan air mata dan darah. Bahwa ada pejuang yang mungkin kelak tidak dikenal oleh rakyat bangsa ini. Biar hanya ia yang tahu tentang perjuangan kita. Mungkin keberadaannya di Jakarta suatu saat dapat kita manfaatkan untuk persembunyian kita!”
Yazid hanya bisa menyaksikan diskusi mereka dari pojok ruangan. Anwar terlihat fasih menjelaskan rencana yang akan dilaksanakan. Sesekali mulutnya menghirup kopi yang ada di hadapannya. Beberapa kali whiteboard dihapus untuk kemudian ditulis kembali. Semua tampak tegang dengan sesekali ada interupsi.
Tidak terasa hari menjelang sore. Pertemuan itu diakhiri dengan saling rangkul di antara mereka. Rasa optimis tampak di wajah mereka.
“Hati-hati.” Hanya itu pesan terakhir sebelum mereka berpisah.
Gelap telah menyelimuti seluruh kota Surabaya. Siang kini telah berganti malam. Anwar dan Yazid berdiri di antara gerbong kereta api yang siap berangkat ke Jakarta.
“Sebaiknya kita ke mushola sebentar!”
Yazid mengikuti Anwar berjalan menuju mushola. Jaraknya kurang lebih seratus meter ke arah kiri dari tempatnya semula berdiri. Terlihat banyak orang yang baru saja menyelesaikan shalat maghrib. Keduanya lalu menuju tempat wudlu, di sebelah kiri sisi mushola. Setelah itu keduanya melaksanakan shalat maghrib berjama’ah.
Selesai shalat Anwar mengajak Yazid ke pojok pinggir mushola. Pandangannya diarahkan ke sekeliling mushola.
“Ada apa Kang?” Tanya Yazid sedikit berbisik.
“Yazid, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu. Menurutku, inilah saat yang tepat untuk mengatakannya. Engkau mungkin terkejut bila mendengarnya. Aku ini sebenarnya teman satu kelas dengan ustadz Gufron di pesantren ketika  berada di bangku SMA. Aku melanjutkan kuliah di Jogjakarta. Sementara beliau melanjutkan kuliahnya di pesantren. Kebetulan asal kami sama dari Pemalang, Jawa Tengah. Hari ini mungkin pertemuan kita yang terakhir. Bila ada waktu kelak untuk kita bertemu kembali, maka entah itu di mana. Salam teruntuk ustadz Gufron. Aku mengira masih akan kembali ke pesantren. Tapi keadaan yang membuat aku harus segera ke Jakarta. Suatu saat engkau pasti akan mengerti alasan mengapa aku sementara waktu tinggal di pesantren. Aku adalah salah satu dari beberapa aktivis mahasiswa yang paling dicari oleh aparat keamanan.
“Engkau masih ingat ketika kita berada di hutan tempo hari? Siang itu ustadz Gufron melihat beberapa orang yang ia yakini bukan termasuk santri. Gerak geriknya begitu mencurigakan. Terlebih ketika orang-orang itu bertanya kepada salah satu santri sambil memperlihatkan selembar foto diriku. Oleh karenanya ia segera menemuiku agar segera meninggalkan komplek pesantren untuk sementara waktu. Kebetulan saat itu engkau bersamaku. Sengaja aku ajak engkau untuk bersembunyi menemaniku.
Kuharap jangan dibocorkan kepada orang lain apa-apa yang engkau dengar dariku. Aku mohon do’a dari semuanya. Semoga perjuangan kami akan berakhir dengan senyum bahagia. Bahagia untuk kita semua. Untuk bangsa ini.”
“Aku kini lebih mengerti tentang engkau. Pantas engkau begitu akrab ketika berdua dengan ustadz Gufron. Engkaupun sangat tertutup ketika berbicara tentang persoalan pribadi”
“Santri yang bertemu denganku di kantin sebenarnya adalah teman sekelasku sewaktu SMA”
Keadaan mushola terlihat lengang. Tinggal Anwar dan Yazid.
“Mari Yazid kita segera keluar mushola. Kereta jurusan Surabaya-Jakarta akan segera berangkat.
Sebuah kereta berhenti. Para penumpang bergegas meninggalkan tempat duduk mereka. Memasuki setiap gerbong tempat mereka akan duduk.
Keduanya saling merangkul. Kebersamaan selama ini membuat timbul perasaan kehilangan di antara keduanya. Yazid hanya bisa menatap dari kejauhan ketika perlahan kereta api dari stasiun Pasar Turi, Surabaya, berangkat menuju Jakarta.                

                                  
       










11
 
MEI 1998

”Bang, mengapa secepat ini engkau kembali?” Tanya istri Abdurahman ketika tidak biasanya Abdurahman pulang bekerja sebelum waktunya.
“Aku terjebak sebab ada demontrasi!” Tubuhnya disandarkan di tempat duduk. Diusap keringat yang membasahi wajahnya. Fatimah, istri Abdurahman segera masuk mengambil segelas air putih.
“Kemana Lailah?”
“Ia sedang tidur.”
“Ah, mengapa Lailah kecilku terlahir saat harga susu naik?” Keluh Abdurahman.
“Sabar ya Bang.... Kita masih beruntung dibanding tetangga kita banyak yang terkena PHK.”
Bumi Jakarta membara. Di mana-mana mahasiswa berdemontrasi menuntut adanya perubahan. Harga barang-barang kebutuhan pokok naik. Banyak para pekerja yang terkena imbas lalu di PHK. Tiada hari tanpa demontrasi. Penjarahan terjadi di mana-mana. Polisi dan tentara terlihat di setiap sudut keramaian. Setiap orang seperti tanpa takut untuk berbicara apapun yang sebelumnya dianggap tabu.
Seperti biasa setiap pagi Fatimah menyiapkan makan sebelum keberangkatan Abdurahman. Lailah terlihat manja di pangkuan Abdurahman.
“Bang, sini aku pegang Lailah. Sebaiknya Abang cepat sarapan karena waktu telah siang, nanti Abang bisa terlambat!”
Fatimah mengambil Lailah dari pangkuan Abdurahman. Sesaat kemudian Abdurahman mulai menyelesaikan sarapan paginya.
“Fatimah, aku berangkat dulu.” Dicium Lailah yang ada dalam gendongan Fatimah.
“Hati-hati di jalan Bang!” Sambil mencium tangan Abdurahman.
Hari menjelang maghrib. Di atas meja makan telah siap nasi beserta lauk pauk kesukaan Abdurahman. Sesekali dilihat jam dinding. Sementara Lailah sibuk menyusu di atas pangkuannya.
Fatimah mulai gelisah saat adzan isya berkumandang. Jarang sekali Abdurahman terlambat seperti sekarang ini.
“Mungkinkah terjebak macet karena ada demontrasi?” Gumam Fatimah.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Entah sudah berapa kali ia keluar rumah, memastikan kemungkinan kehadiran Abdurahman. Lailah telah tertidur beberapa menit yang lalu.
“Kemana gerangan suamiku? Mengapa sampai saat ini belum juga pulang?” Air mata tanpa henti keluar dari kelopak matanya. Suara Lailah terdengar nyaring terbangun dari tidur malamnya. Jam dinding tepat pukul satu malam. Perasaan khawatir menghilangkan rasa kantuk. Fatimah hanya bisa menangis duduk di ruang tamu bersama Lailah yang seperti tahu akan kesedihan yang menimpa ibunya.
Pukul setengah empat dini hari. Fatimah masih terduduk bersama Lailah di pangkuannya. Raut wajahnya menyiratkan kekalutan yang mendalam memikirkan nasib yang menimpa suaminya.
Di tengah kegalauan hatinya, terdengar suara kaki di depan rumahnya.
“Mungkinkah Abdurahman?” Hatinya gelisah setengah berharap seseorang yang berada di depan rumahnya adalah suaminya.
“Abang ...?” Tanya Fatimah sambil berdiri.
Tidak ada jawab dari luar rumah. Perasaan Fatimah tambah gelisah. Perlahan langkah di luar semakin mendekat.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah.
“Fatimah …!” Pelan bercampur dengan rintihan.
“Abang!” Segera sambil menggendong Lailah Fatimah menuju pintu rumah. Dibuka pintu rumah.
Fatimah setengah menjerit melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Abdurahman berdiri dengan muka yang lebab. Ada ceceran darah di sekitar bajunya.
Dia peluk tubuh Abdurahman. Lailah ikut terbangun dari tidurnya.
“Sudahlah Fatimah, jangan menangis, nanti akan aku ceritakan padamu apa yang menimpa diriku.”
Keduanya duduk di ruang tamu. Fatimah mencoba sebisanya mengobati luka yang berada di sekujur tubuh Abdurahman.
“Jam lima sore, aku telah keluar dari kawasan Pulo Gadung. Sepanjang jalan raya terlihat mencekam. Orang-orang banyak berkerumun di pinggir jalan. Semua toko tutup ditinggal pemiliknya. Takut bila terjadi sesuatu. Aku masuk ke dalam mobil angkot. Berjejal dengan para penumpang lainnya. Tampak di wajah para penumpang rasa cemas yang mendalam. Baru berjalan lima menit mobil angkot yang aku tumpangi terjebak macet sebab terjadi penjarahan toko-toko yang berada di sepanjang jalan yang dilakukan ratusan warga ibu kota!” Ucapannya terhenti sebentar untuk meminum air putih yang disediakan Fatimah.
“Aku keluar dari mobil yang aku tumpangi. Bermaksud mencari mobil angkot yang berada lebih depan, agar lebih cepat keluar dari kemacetan. Saat aku berada di pinggir jalan itulah polisi-polisi tanpa banyak tanya membawaku. Di kantor polisi aku dipukuli, diduga sebagai salah satu dalang aksi penjarahan. Aku dikumpulkan bersama beberapa orang yang aku tidak kenal. Salah seorang petugas beberapa kali datang kepadaku. Dia menghampiri dan memperhatikan wajahku. Dia tanyakan namaku serta alamatku. Seakan tidak yakin dengan data yang tertera di KTPku. Beberapa jam kemudian barulah aku dibebaskan”.
Lailah telah tertidur kembali di pangkuan Fatimah. Meskipun tidak terima dengan kejadian yang menimpa pada suaminya, Fatimah besyukur suaminya kini telah bersamanya. Menerima nasib. Begitulah ciri orang kecil yang selalu menjadi korban. Protes? Kepada siapa? Terkadang bukan pujian yang diterima. Malah tumpukan luka baru.
Adzan shubuh telah berkumandang. Membuka berjuta masalah yang terukir dalam memori setiap insan. Setelah sesaat mengembara jauh ke alam tanpa bayang. Tabur bunga bagi si pengecut. Tanda jasa bagi si pemberani yang hidup dengan bermodal moralitas.
Jakarta seperti kota tanpa tuan. Mencekam. Penjarahan terjadi di mana-mana. Terutama toko-toko milik orang-orang non pribumi. Entah berapa korban yang meninggal akibat terjebak dalam toko-toko swalayan yang terbakar. Berapa yang meninggal akibat terjangan timah panas milik tentara. Berapa banyak pula korban pemerkosaan bagi perempuan-perempuan non pribumi. Perubahan harus dibayar mahal dengan tingginya harga kebutuhan pokok. Jutaan orang kehilangan pekerjaan.
Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia menuju Jakarta, berkumpul di gedung DPR. Semua demam reformasi. Dari tukang ojek sampai pejabat selalu menjadikan reformasi menjadi topik pembicaraan. Termasuk Yazid, turut merasakan angin perubahan itu.


21 Mei 1998
Teruntuk,
Paman
Aku berada di ruang kelas ketika gemuruh ribuan mahasiswa di Jakarta membahana ke seluruh pelosok negeri ini. Namun aku hanya bisa melihat dari jauh.
Paman, aku telah merasakan perubahan itu. Semua orang kini berani bersuara di muka umum tentang apapun. Sayang, aku juga melihat jerit kesusahan orang-orang seperti kita. Semua harga kebutuhan hidup naik. Banyak pekerja terkena PHK.
                                                                                 Yazid

Tubuh Yazid bersandar di dinding kamar. Rasa lapar seharian belum tersentuh nasi membuat tubuhnya lemas. Maklum sudah seminggu kiriman uang dari Jakarta terlambat. Hanya sekali sehari ia nikmati nasi selama tiga hari ini. Itupun hasil pinjaman dari teman sekamarnya.
Rasa lapar menghilangkan perasaan malu untuk selalu meminjam kepada Sulaiman hampir di setiap akhir bulan. Baru ia ganti setelah kiriman uangnya datang. Jika keadaan memaksa, Yazid tidak malu ikut membantu bekerja di kantin milik pesantren. Mencuci piring, gelas serta perabot dapur lainnya.

31 Juli 1998
Teruntuk,
Paman
Paman, aku turut merasakan kesulitan yang engkau rasakan di sana. Aku minta maaf jika keberadaanku di sini hanya menambah beban berat paman. Sekedar makan, mungkin aku bisa dapatkan dengan menjadi pelayan tempat makan yang ada di sini.
Salam teruntuk bibi dan Lailah.
Yazid

Tidak ada satupun orang di dunia menginginkan seseorang yang disayanginya bersedih hati. Seperti halnya Abdurahman, mencoba menghibur Yazid dalam kesulitan yang sebenarnya ia alami juga.

Jakarta, 1 Sep. 1998
Teruntuk,
Yazid
Yazid, jangan engkau pikirkan tentang kami di sini. Kami cukup bahagia. Tertawa Lailah adalah pecut bagi kami untuk terus bekerja. Bahagiamu di sana menjadi senyum kami di sini.
Tetaplah konsentrasi dengan belajarmu. Tidak usah engkau khawatirkan perihal biaya sekolahmu. Peninggalan almarhumah ibumu masih cukup untuk biaya sekolahmu.
Abdurahman

12
 
      INTEROGASI

Lailah tampak manja dalam dekapan Abdurahman. Secangkir kopi menjadi teman Abdurahman sambil menyaksikan acara televisi. Sementara Fatimah sibuk dengan pakaian-pakaian kotor yang dicucinya. Kebersamaan menjadi rutinitas setiap datang hari Minggu. Kesempatan yang jarang dirasakan Abdurahman selama seminggu berkutat dengan kerja.
“Selamat pagi!!!”
Terdengar suara di luar rumah.
Abdurahman keluar sambil menggendong Lailah.
“Apakah betul ini kediaman Abdurahman?” Tanya laki-laki berperawakan tinggi tegap dengan potongan rambut cepak. Di belakangnya berdiri beberapa lelaki dengan tampang yang tidak jauh berbeda.
“Iya betul. Saya sendiri adalah Abdurahman!” Suaranya agak tertahan. Hampir saja Lailah terjatuh dari gendongannya. Abdurahman terkejut sekaligus merasakan ketakutan yang mendalam. Belum satu bulan dirinya berurusan dengan aparat kepolisian. Kini ia telah didatangi oleh orang-orang yang mirip ketika dirinya berada di kantor polisi.
“Sebaiknya Bapak ikut kami!!!”
“Ada apa Pak?!” Abdurahman mencoba bertanya.
“Sudahlah! Nanti Bapak akan tahu sendiri tujuannya!”
“Bang, ada apa?!” Aminah keluar dari dalam rumah sebab mendengar tangisan Lailah yang ada dalam dekapan Abdurahman. Betapa Fatimah terkejut melihat keberadaan tamu yang tidak diundang. Terlebih perawakan mereka tampak seperti tentara.
“Cepat Pak!!! Kita tidak punya waktu banyak!”
“Mau dibawa kemana suami saya?” Aminah mencoba menarik tangan Abdurahman sambil tangan kirinya mengambil Lailah. Jerit tangis keluar dari mulut Lailah.
“Suami Ibu akan kami bawa sebentar!” Suaranya sedikit melemah melihat ada tangis dari Fatimah dan Lailah.
“Tolong jangan bawa suami saya!!!” Fatimah mencoba menahan Abdurahman. Tangis Lailah semakin mengeras.
“Sudahlah Fatimah. Tidaklah mengapa. Aku akan ikut dengan bapak-bapak ini. Bila aku tidak bersalah mengapa harus takut. Doakan saja biar aku baik-baik saja!” Abdurahman mencoba menenangkan Fatimah.
Fatimah hanya berdiri di depan pintu. Diusap air matanya berkali-kali ketika melihat Abdurahman memasuki mobil. Sementara Lailah tidak henti menangis dalam dekapan Fatimah.
Abdurahman duduk di bangku belakang mobil dengan diapit oleh dua orang. Tanpa ada pembicaraan sejak mobil berangkat dari kediaman Abdurahman. Mobil melaju ke arah selatan menuju Cakung, lalu berbelok ke barat ke arah Pulo Gadung , kemudian lurus menyusuri jalan raya Ibu Kota. Mobil sempat beberapa kali berputar. Hingga kemudian sampai di suatu tempat. Tidak seperti kantor polisi atau tentara. Tidak pula tampak penjaga di pintu masuk. Suasana lengang. Abdurahman kemudian dibawa ke ruang tengah. Sudah ada dua orang yang menunggu. Satu orang dalam posisi duduk. Satunya lagi berdiri tepat berada di samping. Perawakan keduanya tetap sama seperti orang-orang yang menjemput Abdurahman.
“Silahkan duduk!” Orang yang berdiri mempersilahkan Abdurahman duduk.
Dalam ruangan kini hanya tinggal Abdurahman dan dua orang yang sepertinya telah menanti kedatangan Abdurahman.
Hati Abdurahman mulai gelisah menanti apa yang bakal terjadi pada dirinya. Pandangan matanya dicoba untuk berani melihat orang yang berada di hadapannya.
“Bila engkau memberi informasi kepada kami tentang apa yang kami minta. Maka aku jamin engkau akan segera kembali ke rumah dengan selamat!”
“Apa yang bisa saya bantu?” Jawab Abdurahman mencoba untuk sedikit tenang.
“Engkau harus beritahu kami di mana keberadaan orang ini?” Sebuah foto ditunjukkan kepada Abdurahman.
“Ma’af, saya tidak mengerti maksud pertanyaan Bapak!”
“Kamu jangan pura-pura blo’on!!!” Orang yang berdiri tampak emosi. Meja di hadapan Abdurahman menjadi sasaran pukulannya.
“Ma’af, sungguh saya tidak mengenal foto yang Bapak tunjukkan!”
Tiba-tiba sebuah pukulan menghantam wajah Abdurahman.
“Sebaiknya engkau tunjukkan di mana keberadaannya!!!” Kembali sebuah pukulan menghantam wajah Abdurahman.
Orang yang sebelumnya duduk kini telah berdiri tepat di samping kanan Abdurahman. Darah mulai keluar dari mulut dan hidung Abdurahman.
“Engkau waktu itu bertemu dengannya di Surabaya kan?!!”
“Demi Tuhan, saya tidak mengenalnya!” Kembali Abdurahman membantah sambil meringis kesakitan.
“Buk !!!” Sebuah tendangan menghantam dada Abdurahman. Dia tersungkur jatuh ke lantai. Tubuhnya dicoba untuk berdiri. Namun rasa sakit menghalanginya  untuk sekedar dapat duduk. Dia tertidur di lantai dengan rintihan kesakitan. Baru saja tubuhnya ingin dijambak. Tiba-tiba datang seseorang yang usianya sedikit lebih tua. Kedua orang tersebut terlihat memberi hormat. Kemudian ketiganya terlihat bercakap-cakap. Entah apa yang menjadi obrolan mereka. Namun beberapa saat  kemudian ketiganya keluar ruangan meninggalkan Abdurahman sendirian.
Sayup-sayup terdengar suara adzan isya. Abdurahman berusaha untuk dapat duduk di tempatnya semula meski rasa nyeri menghinggapi seluruh sendi di tubuhnya. Di meja terlihat nasi bungkus lengkap dengan sebotol air minum.  
“Silahkan makan nasi itu!” Tiba-tiba datang orang yang sebelumnya memukuli dia. Suaranya agak pelan tidak seperti saat pertama kali bertemu.
“Selesai makan engkau akan diantar untuk kembali ke rumah!”
Betapa gembira hati Abdurahman mendengarnya. Tapi perasaannya masih khawatir mempertanyakan ketulusan hati orang yang hampir membunuh dirinya. Dihabiskan nasi bungkus yang diberikan kepadanya. Ingin rasanya ia segera sampai ke rumah. Tidak pernah lepas bayangan istri beserta anaknya. Ia tidak dapat membayangkan perasaan istrinya saat ini.
Mobil menembus kegelapan malam. Abdurahman duduk seperti posisi awal saat dirinya dijemput dari rumahnya. Rasa khawatir masih menghinggapi dirinya sepanjang perjalanan. Dia berharap dirinya selamat sampai tujuan. Hatinya sedikit lega ketika memasuki gang yang menuju rumahnya. Kurang lebih lima puluh meter jarak menuju rumah, mobil berhenti.
“Silahkan anda turun!” Orang yang duduk di samping sopir mempersilahkan Abdurahman turun.
Jalannya tertatih. Rasa sakit masih teramat terasa. Dicoba untuk berdiri tegak. Agar terlihat tidak terjadi apa-apa atas dirinya. Abdurahman melihat istrinya duduk menanti di depan rumah. Lailah tampak berada dalam pangkuannya. Wajahnya tampak ceria ketika melihat kedatangan Abdurahman.
“Telah habis rasanya air mata ini menangisi derita yang tidak aku ketahui apa sebabnya!
“Abang! Mengapa selalu engkau yang menjadi sasaran mereka? Apakah engkau telah melakukan sesuatu sehingga mereka mencari-carimu?” Fatimah mencoba bertanya alasan mengapa Abdurahman yang selalu menjadi sasaran penangkapan.
“Entahlah Fatimah. Akupun bingung. Sungguh aku tidak tahu alasan mengapa diriku yang mereka cari. Mereka menanyakan identitas sebuah foto lelaki yang sungguh aku tidak mengenalnya. Mereka mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengan pria tersebut di Surabaya!”
Abdurahman meringis ketika bekas luka di tubuhnya dibersihkan oleh Fatimah.
“Abang, ada baiknya kita pergi ke dokter. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan dirimu!”
“Sudahlah Fatimah. Aku tidak apa-apa. Esok pagi aku sudah harus bekerja!”
“Sebaiknya esok engkau istirahat saja. Tidak usah kerja dulu!”
“Iya, kita lihat besok saja. Tapi aku mohon apa yang terjadi pada diriku jangan sampai engkau ceritakan kepada Yazid ketika nanti dia berada di sini. Aku tidak ingin masa belajarnya terganggu. Kasihan dia!”
Malam semakin larut. Suasana di luar rumah terasa lengang. Lailah telah tertidur. Larut bersama mimpi para penghuni warga di sekitarnya. Abdurahman dan Fatimah telah bersiap melewati hari pembawa luka. Menguburnya dalam mimpi tidurnya.




















13
 
MASUK KULIAH

Tanpa terasa tiga tahun sudah Yazid berada di pondok pesantren. Kini saatnya Yazid menunggu ujian akhir sekolah menengah tingkat atas. Sulaiman, sahabat karibnya memutuskan melanjutkan kuliah di Jakarta. Bagi Yazid, sudah sampai di ujung sekolahnya sekarang merupakan suatu anugerah. Dia tulis surat teruntuk keluarga di Jakarta.

3 April 1999
Teruntuk,
Paman
Dalam hitungan hari aku akan mengikuti ujian akhir. Lelah terasa perjalanan ini aku tapaki. Akhirnya di ujung jua aku akan sampai. Kalaulah bukan karena Paman dan Bibi, mana mungkin aku bisa mendaki.
Terima kasih kuucapkan. Hampa kasih sayang kedua orang tua seakan terisikan oleh senyummu berdua. Tiada balas budi yang bisa kuberikan selain do’a, semoga kebahagiaan selalu bersama kalian. Doakan agar aku tidak mengecewakan kalian di ujian nanti.
Yazid.

Yazid berada di perpustakaan ketika ada sebuah surat teruntuknya.

Jakarta, 5 Mei 1999
Teruntuk,
Yazid
Engkau anak yang baik. Sudah seharusnya kami menyayangimu seperti anak kami sendiri. Hari-harimu banyak engkau lalui dengan linangan air mata.
Yazid, selesai sekolah nanti, engkau harus mendaftar kuliah. Almarhumah ibumu ingin sekali engkau menjadi seorang sarjana. Aku sudah menjual rumah beserta tanah peninggalan ibumu untuk biayamu selama kuliah.
Yazid, ada kabar gembira. Lailah hampir mempunyai adik baru. Doakan bibimu, agar selamat ketika nanti melahirkan.
Abdurahman

Yazid amat terharu dengan isi surat yang baru dibacanya. Pamannya begitu gigih memperjuangkan dirinya untuk dapat melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah. Padahal ia tahu persis kondisi ekonomi pamannya sebagai pekerja biasa yang hanya berharap dari upah kecil untuk dapat bertahan hidup tinggal di Ibu Kota.
Gedung kuliah masih dalam lingkungan pesantren. Hanya beberapa meter dari lokasi asrama tempat tinggal santri. Fakultas yang dibuka lebih dominan pada program keagamaan. Karena memang stok tenaga pengajar di bidang agama banyak tersedia dari lingkungan pesantren sendiri. Dosen bidang studi umum biasa diambil dari luar lingkungan pesantren. Tetap tempat kuliah terpisah antara mahasiswa putra dan putri. Ada saat dikumpulkan dalam satu tempat semisal ada seminar tingkat nasional. Tapi tetap saja terpisah dengan hijab yang tidak ada kemungkinan untuk dapat sekedar melakukan komunikasi di antara mereka. Khazanah lama, peninggalan intelektual muslim masa lalu berupa kitab kuning menjadi ciri khas yang tetap dipertahankan. Menjadi teramat unik ketika khazanah lama tersebut berdialektikal dengan pemikiran kontemporer. Maka kemudian sering terjadi perbenturan kepentingan pesantren yang mengatasnamakan agama lewat doktrinal khazanah lama dengan pencarian jati diri melalui kebebasan berfikir mempertanyakan setiap bentuk kemapanan. Peraturan pesantren mewajibkan seluruh santri sudah berada di lingkungan pesantren ketika menjelang malam. Sementara banyak kegiatan mahasiswa yang dilakukan di luar pesantren dan tidak cukup waktu untuk dilakukan satu hari.
Ada arus pemikiran yang sebenarnya sudah lama terjadi di pesantren. Kegenitan berfikir para mahasiswanya. Perpaduan hasil kekayaan khazanah lama dengan pemikiran kontemporer yang diperoleh lewat buku-buku filsafat, sosiologi, antropologi, dan yang lainnya. Khazanah lama menjadi jati diri mereka. Realitas adalah ajang pembuktian diri. Yang terjadi kemudian bangunan intelektual dengan khazanah klasik sebagai basis pondasinya. Sikap inklusivitas keberagamaan sebagai hasil sintesa antara teks keagamaan dengan realitas. Sekembalinya dari lingkungan pesantren apa yang mereka dapatkan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan menjadi guru ngaji di kampung atau guru formal di sebuah lembaga pendidikan. Banyak dari mereka meneruskan pengembaraan intelektual di lembaga pendidikan di luar pesantren. Universitas Islam Negeri Jakarta, Surabaya, dan Jogjakarta menjadi tempat singgah mereka. Di sini mereka berbaur dengan berbagai macam lembaga swadaya masyarakat. Di kemudian hari banyak dari mereka yang menjadi politisi tingkat daerah maupun tingkat nasional. Keberadaan mereka di Senayan sebagai wakil rakyat dapat kita lihat. Wacana keberagamaan yang bercorak inklusif dapat ditemukan pada tulisan-tulisan mereka di berbagai media masa. Wajah mereka pun sering tampil di media televisi, mengulas persoalan kontemporer yang sedang terjadi di masyarakat. Pola pikir mereka yang melewati ambang pemikiran kebanyakan masyarakat membuat mereka sering dicap sebagai antek asing, perusak kemapanan tradisi keberagamaan yang telah lama dianut masyarakat.
Aktivitas kuliah telah dijalani Yazid. Kedewasaan berpikir mulai tumbuh sejalan dengan kenakalan untuk mempertanyakan doktrinal keberagamaan yang oleh pemegang otoritas agama biasanya dianggap final. Tidak heran bila kegenitan berpikir para mahasiswa tersebut terkadang berbenturan dengan kepentingan pesantren. Dengan kreatif ide mereka dituangkan dalam lembaran majalah kampus.
“Bagaimana persiapan akhir majalah kampus kita kali ini?” Tanya Imron selaku ketua senat mahasiswa, membuka rapat persiapan akhir untuk penerbitan majalah kampus.
“Hasil wawancara sudah diketik. Semua rubrik sudah terisi, tinggal sedikit ada pengeditan. Kemungkinan akhir bulan ini kita sudah bawa ke percetakan.” Jawab Yazid selaku pimpinan redaksi majalah kampus di fakultasnya.
“Aku            berharap edisi majalah kita kali ini dapat memberikan pencerahan kepada kawan-kawan kita di sini!” Harap Imron.
“Aku kira pembahasan demokrasi masih amat relevan untuk saat ini. Selama reformasi berlangsung belum ada konstribusi seperti apa yang telah diperbuat mahasiswa di luar sana!” Yazid berusaha memberikan argumentasi.
“Ah, mana mungkin itu bisa terjadi. Kita terbentur dengan peraturan pesantren yang melarang keluar melebihi satu hari. Status kita yang tidak hanya sebagai mahasiswa namun juga sebagai santri!” Tegas Sonhaji.
“Oleh karena itu kita mencoba untuk memberikan kontribusi penyadaran kepada kawan-kawan kita di sini. Bahwa demokrasi menjadi pilihan terbaik dalam kehidupan negara bangsa. Keadilan dan persamaan hak adalah harga mati dari demokrasi. Kita akan mengecam tindakan refresif pihak-pihak yang telah menculik teman-teman pro demokrasi. Tapi kita akan lebih fokus untuk menginformasikan nilai-nilai agama yang mengecam aksi biadab itu. Bahwa agama membuka cakrawala kebebasan berpikir. Banyak ayat-ayat Tuhan yang secara tegas memerintahkan agar mempergunakan akal untuk memahami hakekat hidup. Akal diciptakan untuk dipelihara. Keberadaannya teramat dijunjung tinggi oleh agama. Menyumbat kebebasan berpikir sama berarti dengan menghilangkan akal.
“Dalam agama, menumpahkan darah anak manusia sangat ditentang. Dari sini kita mencoba untuk sedikit memberi dukungan moral terhadap kawan-kawan kita yang sedang berjuang untuk tegaknya demokrasi yang tidak hanya telah mengorbankan pikiran tapi juga jiwa mereka!” Yazid berusaha memberi alasan atas topik majalah yang akan terbit kali ini.
“Hasil wawancara dengan pakar sosial politik dari Unair, Surabaya, sebagai tambahan menyikapi berbagai kerusuhan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Ini penting sebagai bahan informasi penyebab kerusuhan. Apakah kerusuhan merupakan karakter asli bangsa ini? Atau sebagai akumulasi kemarahan yang selama ini terpendam atas perilaku ketidakadilan!” Yazid memberi tambahan.
“Aku setuju untuk mengatakan bahwa demokrasi merupakan pilihan yang paling rasional dalam konsep negara bangsa. Nilai-nilai Islam sangat mendukung adanya demokrasi. Misalnya konsep musyawarah yang sejak jauh-jauh hari telah didengungkan Islam.
“Persoalan konsep negara telah menjadi perdebatan lama dalam ranah pemikiran intelektual muslim. Berujung kepada pertanyaan apakah aturan Islam mesti diformalkan dalam konstitusi negara? Atau Islam masuk dalam wilayah praktek kehidupan sehari-hari. Tidak harus diformalkan dalam perundang-undangan negara!” Imron memaparkan pendapatnya.
“Menurtku formalisasi hukum Islam adalah bentuk romantisme masa lalu. Sulit untuk merasionalkannya. Apakah mungkin dengan pluralitas keberagamaan saat ini. Belum lagi berapa banyak sekte-sekte dalam Islam itu sendiri. Siapa yang bisa menjamin satu kelompok sebagai refresentasi yang mewakili seluruh umat Islam di dunia?” Sonhaji tampak semangat mengomentari ucapan Imron.
“Di negara demokrasi kita harus menghormati setiap pilihan!” Sela Imron.
“Baik, semua itu menjadi bahasan dalam sajian utama kita!” Yazid mencoba menengahi perdebatan yang mulai timbul.            
Hobi tulis menulis membuat Yazid dipercaya memimpin majalah di kampusnya. Tulisannya sering kali memuat tentang kisah seputar kehidupan anak manusia. Setiap tinta yang tertoreh mampu memasuki relung yang terdalam dari para pembacanya. Ia sangat menikmati setiap kali memuat sisi-sisi kisah hidup orang yang ditulisnya. Bukan sekedar fakta yang ditampilkan. Perasa juga turut ikut andil menghiasi tulisannya. Kesan haru dari pembaca sering kali diterima di meja redaksi.
Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Santri biasanya diliburkan. Pulang untuk sementara waktu ke daerahnya masing-masing. Sebagian masih tetap tinggal di pesantren untuk mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan selama bulan Ramadhan.
Seperti yang lain, Yazid pada awal Ramadhan di tahun kedua kuliahnya tidak dapat libur kembali ke Jakarta. Maka ditulislah surat teruntuk pamannya.



1 November 2001
Teruntuk,
Paman.
Paman, bulan Ramadhan hampir tiba. Aku belum bisa pulang ke Jakarta di awal Ramadhan. Sebab masih ada mata kuliah yang harus aku selesaikan. Kemungkinan pertengahan Ramadhan baru aku dapat pulang ke Jakarta.
Salam teruntuk bibi, adikku Lailah dan Ridho.
Yazid
  















14
 
BERTEMU GADIS PUJAAN


Sudah setengah bulan Yazid berada di Jakarta dalam rangka libur Ramadhan. Selama itu pula Yazid merasakan beban berat yang harus dipikul oleh pamannya. Krisis ekonomi yang melanda negeri ini sangat dirasakan oleh orang-orang seperti Abdurahman, pegawai kecil yang harus memenuhi kebutuhan hidup yang kian hari semakin sulit untuk dijangkau.
“Yazid, kenapa engkau termenung? Tampaknya ada yang engkau pikirkan sehingga terlihat gelisah raut wajahmu?” Tanya Fatimah melihat perubahan raut wajah Yazid.
“Bi, aku merasakan beban berat yang kalian pikul. Terlebih saat ini aku masih kuliah. Bukannya membantu tapi malah menambah berat beban ekonomi kalian.” Yazid menjelaskan kegelisahan dirinya.
“Jangan berpikir seperti itu. Kami yakin Tuhan tidak pernah tidur. Dia pasti melihat kita. Mendengar setiap apa yang kita minta.”
“Sempat terbersit dalam benakku untuk tidak meneruskan kuliah.”
“Pamanmu pasti akan marah bila mendengarnya. Dia bertekad mewujudkan impian ibumu, menyekolahkanmu sampai selesai.”
“Tapi, Bi....”
“Sudahlah Yazid. Sekarang makanlah dulu. Bibi makan bersama pamanmu nanti.”
Abdurahman baru saja menyelesaikan makan setelah seharian bekerja di pabrik. Ia lalu menemui Yazid yang sedang asyik menonton televisi bersama Lailah dan Ridho.
“Yazid, bibimu bercerita kepadaku. Ia mengkhawatirkan dirimu. Seharian engkau termenung.”
“Paman, aku hanya kasihan kepada kalian. Aku takut kuliahku menjadi bebanmu di sini.”
“Percayalah, engkau tidak menjadi beban kami di sini. Biaya kuliahmu sudah dapat terpenuhi oleh hasil penjualan rumah beserta tanah peninggalan almarhumah ibumu. Teruskan kuliahmu. Penuhi cita-cita ibumu!” Demikian jawaban yang selalu diterima dari pamannya.
“Paman, esok aku ingin ke makam ayah dan ibu. Lusa kemungkinan aku kembali ke Jawa Timur.”
Seperti biasa, setelah Idul Fitri Yazid selalu menyempatkan diri pergi ke makam kedua orang tuanya untuk berdoa dan membersihkan rerumputan yang biasanya tumbuh di sekitarnya.
Kenangan masa lalu kembali hadir di benaknya saat kakinya memasuki desa tempat masa kecilnya dihabiskan. Hamparan petak sawah yang dahulu terbentang sepanjang mata memandang, kini telah berganti deretan perumahan mewah. Air jernih yang mengalir di sepanjang sungai yang  membelah kampung, kini warnanya telah berubah menjadi hitam pekat. Sudah tidak tampak lagi anak-anak kampung yang berendam dan bermain di dalamnya. Tempat berkumpulnya anak-anak yang dahulu berada di masjid, kini telah pindah ketempat-tempat play station. Tidak ada lagi tanah lapang yang masih tersisa untuk tempat anak-anak berkumpul melakukan permainan. Dahulu acara perkawinan biasanya ditunggu oleh para warga, terutama anak-anak dan remaja. Malam harinya semua tumpah ruah menuju tempat layar tancap berada. Mereka duduk tanpa alas. Kini layar tancap telah pindah ke dalam rumah-rumah para penduduk. Banjir menjadi petaka. Bukan menjadi berkah. Ikan-ikan yang saat banjir biasa menyapa ke halaman rumah penduduk telah terusir oleh limbah pabrik.Tidak lagi tampak Engkong Syarif yang biasa membangunkan warga menjelang sholat shubuh. Suara khasnya terdengar setiap kali melantunkan adzan lima waktu. Jama’ah sholat merasa nyaman karena masjid selalu bersih tanpa debu. Hampir setahun katanya Engkong Syarif telah meninggal. Sampai saat ini belum ada satupun orang yang berkeinginan untuk menggantikannya. Tinggal ustadz Jamal, guru ngaji yang masih tetap dalam kesederhanaannya di masa tua. Sabar dengan kondisi ekonominya yang serba pas-pasan. Sementara di samping kanan kirinya berdiri kokoh rumah-rumah mewah milik muridnya yang kini telah menjadi orang sukses di kampungnya.
Angin sore berhembus menerpa wajah Yazid. Hening menyapa para penghuni yang terlelap dalam tidur panjangnya. Di sini rumah keabadian. Milik semua orang. Kepastian yang tak diharapkan. Kenyataan yang sering kali terlupakan. Di sini tempat memutar memori bagi yang hidup. Mengenang segala asa yang sempat tak terajut.
“Ayah, ibu..., jauh berliku jalan yang kulalui. Menapak aral penuh dengan duri. Andai engkau masih hidup. Kasih sayangmu bisa menjadi penghangat dinginnya malam-malam yang kutempuh”. Sebait do’a menutup lamunan panjang Yazid.
Tidak kuat ia menahan air mata ketika melewati sebuah rumah. Meskipun cat warna rumah telah diganti oleh keluarga baru yang menempatinya. Tapi sejuta kenangan tidak mungkin hilang dari ingatannya. Rumah tempat ia terlahir dan tumbuh bersama kasih sayang ibunya. Senyum sang ibu dan lambaian tangannya seakan mengiringi langkah Yazid.
Di sela-sela perjalanan ziarahnya. Tidak lupa ia hampiri rumah ustadz Jamal, guru mengaji semasa kecilnya. Minta restu agar selalu mendapat petunjuk Yang Kuasa. Memperoleh ilmu yang bermanfaat. Setelah itu tidak lupa berkunjung ke rumah Asep, sahabat karibnya. Berbagi cerita tentang keadaan kampung selama setahun.
“Di balik kesedihanmu, engkau mungkin lebih beruntung dibandingkan aku. Engkau sekarang bisa kuliah. Ilmu agamapun engkau dapatkan. Sedangkan aku?. Hanya kurang lebih satu tahun bekerja langsung terkena PHK. Cari kerja saat ini teramat sulit. Kami hidup mengandalkan hasil panen sawah milik orang kota. Tapi kini sawah-sawah itu kemungkinan besar akan dijual kepada pengembang perumahan real eastat. Bukan hanya kami. Semua tanah persawahan di kampung kita ini lambat laun akan punah berganti dengan bangunan rumah-rumah mewah. Banyak rumah penduduk yang tinggal di pinggir-pinggir kali tergusur demi kepentingan pengembang. Tanpa ada konpensasi. Hanya sedikit uang kerahiman. Itu pun mereka dapatkan dengan berdemontrasi terlebih dahulu. Dengan alasan tanah yang ditempati adalah tanah negara. Lantas buat apa ada negara? Mereka sudah tinggal puluhan tahun. Jika memang tidak boleh. Mengapa tidak sejak awal mereka dilarang untuk tinggal? Kami, orang kampung di sini, hanya mampu mengintip kemegahan bangunan rumah di tempat kami dulu mencari sesuap nasi lewat bertanam!”
Begitulah setiap kali Yazid bertemu Asep. Bersama mengenang masa kecil mereka. Masa lalu yang tidak akan mungkin lagi di dapat anak-anak yang tidak se zamannya. Hanya mungkin mereka peroleh lewat cerita orang-orang tua mereka. Bahwa di sini pernah ada petani. Di sini pernah ada pencari ikan. Di sini tempat bermain anak-anak kampung saat hari libur. Di sini pernah ada segerombolan kambing-kambing dan kerbau.    
Hari keberangkatan telah tiba. Tiket kereta api telah dibeli satu hari sebelumnya. Hanya pamannya yang mengantar Yazid hingga ke stasiun Senen.
“Bibi, aku berangkat!” Dicium tangan bibinya. Wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri. Dicium pula pipi gadis kecil, Lailah, yang berdiri di samping ibunya. Sementara Ridho merengek dalam gendongan ibunya, seakan tidak mengizinkan Yazid untuk pergi. Bukan semata perpisahan, namun lebih karena menangisi nasib malang yang ada pada Yazid.
Pamannya masih setia berdiri saat kereta api jurusan Surabaya mulai berangkat. Perlahan kereta semakin menjauh dari pandangan. Sampai akhirnya hilang membawa Yazid bersama penumpang lainnya menuju Surabaya.
Kota Surabaya masih tertutup kabut saat kereta api sampai di stasiun Pasar Turi, Surabaya. Yazid menyusuri jalan becek yang disebabkan oleh air hujan, menuju bus kota yang menuju terminal Purabaya, Surabaya.
Hawa dingin merasuk ke setiap calon penumpang yang berada di terminal. Awan hitam terlihat menggelantung di langit Surabaya. Hari ini adalah bulan Januari. Rasa lelah membuat Yazid ingin istirahat sejenak di tempat tunggu calon penumpang.
Suasana pagi  tidak membuat sepi para penumpang yang datang dan pergi. Sementara bus antar kota berjajar rapi sesuai dengan rute tujuannya masing-masing. Mata Yazid menerawang ke setiap sudut terminal. Pandangan matanya terhenti ketika menengok kearah kiri tempat duduknya. Gadis remaja berjilbab putih dipadu dengan pakaian yang serasi duduk menyendiri. Kulit tubuhnya bersih, hidungnya mancung, mata agak sipit dengan bulu mata lentik. Dihias dengan sentuhan produk kecantikan yang menempel di pipi dan bibirnya, menambah pesona kecantikan alami yang dimilikinya.
Sayang hanya sebentar. Gadis tersebut lantas beranjak dari tempat duduknya, pergi ke arah deretan bus yang sedang menunggu para penumpang. Yazid hanya bisa memperhatikan dari tempat duduknya. Sampai akhirnya tubuh gadis tersebut menghilang di antara kerumunan calon penumpang lainnya.
Lamunan Yazid terhenti saat seorang kondektur bus menyebutkan sebuah nama daerah tujuan penumpang. Ia setengah berlari menuju antrian bus yang ada dalam terminal. Matanya menengadah ke setiap plang papan nama alamat tujuan bus antar kota. Sebuah bus tampak keluar perlahan-lahan. Yazid segera berlari mengejar. Ia berhasil masuk melalui pintu belakang. Kemudian menuju bangku penumpang yang masih kosong. Tubuhnya langsung disandarkan ke tempat duduk. Keinginannya untuk melepaskan lelah lenyap seketika saat ia menyadari keberadaan seseorang yang tepat berada di sampingnya. Wanita berjibab putih itu kini ada di dekatnya. Gadis itu hanya tersenyum ketika tanpa disengaja keduanya beradu pandang. Dadanya bergetar. Tingkahnya menjadi serba salah. Diam membisu. Seribu pertanyaan rasanya ingin diajukan, namun satupun terasa sulit keluar dari mulutnya. Mengapa hilang seketika keberanian yang ia miliki.
Kurang lebih setengah jam dari terminal keberangkatan. Baru ada kata-kata yang terlontar dari mulut Yazid teruntuk gadis yang berada di sampingnya.
“Maaf, bila boleh tahu hendak kemana tujuan Adik?” Yazid mencoba memberanikan diri bertanya tujuan gadis yang berada di sampingnya.
Pandangannya semula mengarah ke sisi kiri jendela kaca mobil. Dialihkan mukanya ke arah Yazid.
“Oh, ke Besuki!” Sedikit ucapannya namun mengandung sejuta rasa. Bibirnya tersenyum simpul. Pandangan matanya sebentar diarahkan ke Yazid, kemudian ditundukkan.
Yazid tertegun tidak berkedip menatap wajah malu gadis di sampingnya. Pipinya sedikit berubah merah. Bibirnya ranum basah terasa. Pandangan matanya lalu dialihkan ke lain tempat ketika mengetahui gadis itu sedikit risih sebab perhatiannya. Lama gadis itu memperhatikan pemandangan di luar jendela kaca mobil. Yazid seperti serba salah. Antara keinginannya yang mendalam untuk lebih dekat mengenal gadis yang berada di sampingnya. Dan perasaan khawatirnya bila pertanyaannya malah menyinggung. Namun rasa ketertarikannya membuatnya menanggalkan rasa khawatir. Dia coba tarik napasnya, menyusun kata yang tepat.
“Hendak kembali atau ingin megunjungi sanak saudara?” Pertanyaannya diajukan ketika gadis itu asyik memandangi alam sepanjang jalan. Tampak perlahan wajahnya dialihkan ke hadapan Yazid.
“Saya hendak ke pesantren!” Jawabannya singkat dengan tetap tersenyum.
Yaizd agak terkejut mendengar jawaban atas pertanyaannya. Ia seperti mendapat peluang yang besar ketika gadis yang di sampingnya mengatakan pesantren sebagai tempat tujuan.
“Apakah pesantren Khairo Ummah?”
“Iya, Kakak tahu pesantren Khairo Ummah?” Kini berbalik keadaan. Gadis itu terlihat penasaran mendengar ucapan Yazid tentang pesantren tempat tujuannya.
“Saya juga ingin menuju ke sana!” Yazid tampak lebih tenang karena tujuan dirinya sama dengan gadis yang berada di sampingnya.
“Kebetulan saya kuliah di sana. Apakah Adik santri juga? Atau hanya ingin berkunjung untuk bertemu salah satu santri di sana?.”
“Saya termasuk santri juga!” Senyumnya lepas. Terasa ada kebersamaan.
Kini tidak ada rasa canggung dalam diri Yazid. Begitupun dengan gadis di sampingnya. Mereka berdua saling berbagi cerita tentang dunia mereka masing-masing. Ada di satu tempat beda dunia. Mereka tinggal di satu pesantren. Hanya terpisah tembok pembatas.     
Dia sebut namanya Auliya. Asalnya dari kota Surabaya. Kini ia berada di tingkat akhir sekolah menengah atas. Sepanjang perjalanan, tidak henti Yazid mengagumi kecantikannya. Kepribadiannya dihiasi dengan tutur kata yang sopan dan lembut. Lengkap terasa Tuhan menciptakannya sebagai seorang wanita. Di atas, awan hitam tampak berarak. Sepertinya akan menumpahkan air, menyirami seisi bumi yang ada di bawahnya, tidak terkecuali bunga-bunga yang kini telah mulai tumbuh di hati Yazid.      



















15
 
GAIRAH BARU

Andai waktu bisa ditarik kembali, maka satu keinginan Yazid yaitu dikembalikan saat ia bersama Auliya. Saat itu terasa bermakna apa yang terucap, terlihat, maupun yang terdengar.  Kini yang tersisa hanya bayang Auliya. Kemana kaki melangkah, di situ terasa ada Auliya. Mengapa ada perasaan seperti itu? Adakah Auliya seperti dirinya yang mengharap adanya pertemuan kembali?
Dinginnya malam tidak menyurutkan semangat Yazid menorehkan tinta dalam selembar surat.
Teruntuk,
Auliya
Auliya apa kabar?
Maaf bila surat ini mungkin membuat ketenangan hatimu terusik.
Saat aku mencoba berteman dengan sepi. Tapi yang kudapat hanya bayang masa lalu yang kemudian kuratapi. Bila engkau melihat rembulan tanpa bintang, maka itulah aku. Bisa membuat gembira tapi merana dalam sepi nan lara.
Mudah-mudahan engkau bisa menjadi tempatku untuk berbagi cerita.
Yazid.

Surat pertama Yazid terkirim melalui gadis kecil, tetangga pesantren yang sekolah di komplek santri putri. Besar harapan agar segera mendapat balasan dari Auliya. Kemana akan dibawa segala persoalan hidup kalau bukan kepada seseorang yang bisa diajak berbagi.
Hati Yazid terasa berbunga-bunga ketika suratnya mendapatkan balasan dari Auliya.



Teruntuk,
Kak Yazid.
Kak, kabarku baik. Semoga demikian pula dengan dirimu saat ini.
Aku merasa tersanjung bisa menjadi tempat berbagi cerita hidupmu. Harapanku, bila esok mentari terbit, semoga menjadi awal dimulainya keberuntungan bagi hari-hari yang akan engkau jalani.
Auliya.

Kasih sayang yang telah lama hilang seperti tumbuh kembali. Kehadiran Auliya menjadi semangat baru dalam kehidupan Yazid.

Teruntuk,
Auliya
Kabut hitam seakan menutupi hari-hariku. Aku terseok sepanjang perjalanan hidupku. Aku hanya menatap bisu saat kematian ayahku. Tidak tersisa air mata saat ibu menyusul kematian ayah.
Engkau datang ketika tubuh ini terasa kering oleh kemarau panjang penderitaan hidup. Engkau beri aku asa untuk bisa tersenyum menatap hari esok. Aku terasa kembali dalam dekap ayah. Seakan aku berada dalam buai ibu. Rasanya itu bisa kudapat hanya darimu. Walau sebatas kasih sayang.
Yazid.

Beberapa kali Yazid melayangkan surat kepada Auliya untuk berbagi cerita hidup. Dibalas pula oleh Auliya dengan ungkapan yang tulus, memberikan semangat hidup baru teruntuk Yazid. Tidak jarang Auliya pun meminta saran tentang persoalan hidup yang dialaminya.
Kenikmatan berbagi ternyata tidak berlangsung lama dimiliki Yazid. Berada di pesantren membuat Yazid dan Auliya berada di dua tempat yang saling berjauhan. Di pesantren terdapat aturan yang membuat mereka tidak bisa saling berkomunikasi.
“Yazid…!” Ustadz Gufron tiba-tiba memanggil Yazid.
“Ada apa Ustadz?”
“Saya ingin bicara denganmu!” Ustadz Gufron mengajak Yazid ke suatu tempat.
“Yazid, apa benar engkau mengirimkan surat kepada salah seorang santri putri?”
Yazid sedikit terkejut dengan ucapan ustadz Gufron. Dia terdiam sesaat. Tidak menduga perbuatannya akan diketahui oleh orang lain. Terlebih oleh ketua kamarnya sendiri.
“Saya pernah merasakan apa yang engkau alami saat ini. Menurut saya sangat wajar bila engkau berbagi cerita dengan seorang wanita di usiamu sekarang ini. Tapi kita hidup di pesantren yang punya logikanya sendiri. Apa yang kita perbuat pasti terkait dengan peraturan di sini!” Ustadz Gufron mencoba menasehati Yazid.
“Saya minta maaf  Ustadz, bila perbuatan saya melanggar aturan pesantren. Jujur, memang saya telah menulis surat kepada seorang santri putri.”
Ustadz Gufron diam sebentar. Kemudian meneruskan kata-katanya yang sempat terputus.
“Dahulu ada sepasang santri yang saling jatuh cinta. Mereka dikeluarkan dari sini sebab diketahui melakukan pertemuan di luar pesantren. Kasihan, mereka akhirnya dipulangkan ke rumahnya masing-masing. Pupus cita-cita mereka untuk bisa sekolah di sini. Tidak sampai di situ. Di mata masyarakat mereka dianggap kotor. Tidak berguna. Terusir dari pesantren berarti telah menjadi santri yang durhaka!”
Yazid hanya terdiam mendengar apa yang disampaikan oleh ustadz Gufron.
“Saya merasa sangat berdosa kepada orang yang saya kirimi surat. Dia pasti merasa tertekan di sana sebab apa yang telah saya lakukan. Biarlah saya sendiri yang menanggung resiko atas perbuatan saya ini. Jangan sanksi dirinya sebab perbuatan saya!”
“Sudahlah Yazid, tidaklah mengapa. Ambil pelajaran dari kasus ini agar kamu lebih berhati-hati lagi di kemudian hari. Sekarang engkau harus menghadap pengurus pesantren. Ini surat panggilan yang ditujukan kepadamu.” Ustadz Gufron memberikan selembar kertas yang berisi surat panggilan untuk segera menghadap pengurus pesantren.
Surat panggilan ataupun surat peringatan dari pengurus pesantren biasanya terlebih dahulu diberikan kepada ketua-ketua kamar untuk selanjutnya disampaikan kepada santri yang bersangkutan.Yazid baru menyadari mengapa ia harus menghadap pengurus pesantren. Surat-suratnya yang terkirim ke Auliya ternyata dapat diketahui oleh pengurus pesantren.
Tempat masalah. Ukurannya tidak luas. Di sini semua masalah yang terkait dengan santri diselesaikan. Bila dari tempat masalah tidak bisa diselesaikan maka akan langsung dibawa ke pengasuh pesantren, pemegang otoritas tertinggi sebagai eksekutor. Tidak ada pembela. Terlebih pengacara untuk mendampingi santri yang terkena masalah. Ada tim investigasi di bawah kendali bagian keamanan. Terdapat buku panduan tentang kewajiban lengkap dengan sanksi, dari sekedar membaca Al-Qur’an sampai ke pengusiran dari pesantren secara tidak hormat.
Yazid duduk tepat menghadap seorang petugas bagian investigasi.
“Apa yang telah engkau perbuat?”
“Saya hanya mengirimkan surat.”
“Apakah engkau tidak tahu hal tersebut melanggar peraturan di sini?”
“Saya melakukan sesuatu yang menurut hati nurani saya benar!” Yazid mencoba membela diri.
“Tapi ini pesantren, punya aturan main yang mesti engkau taati!” Emosi mulai tampak sebab jawaban Yazid.
 “Saya yakin bahwa setiap aturan dibuat untuk dan atas nama kebaikan. Itu yang ingin saya lakukan!”
“Kebaikan menurut siapa? Ini peraturan demi kebaikan bersama!!!”
“Tapi, apakah santri dilibatkan dalam pembuatan peraturan pesantren? Lebih adil bila perasaan kami juga diikutkan. Perasaan kaum muda untuk mendapatkan kasih sayang dari lawan jenisnya. Sekedar kasih sayang. Tidak lebih dari itu!”
“Bukankah larangan menulis surat cinta demi untuk mencegah perbuatan buruk yang akan timbul akibat cinta?” Petugas mencoba membahas argumentasi Yazid.
“Ini bukan mencegah, tapi akan mematikan perasaan cinta di hati setiap orang. Rahman Tuhan adalah sifat kasih Tuhan. Rohimnya adalah implementasi dari sifat-Nya tersebut. Buat apa ada teori tanpa praktek? Untuk apa Tuhan mencipta cinta bila tidak untuk dirasa? Pezina adalah pengingkar cinta. Sebab telah melanggar kode etik yang dibuat Tuhan. Cinta tidak akan ternoda oleh selembar surat!” Petugas itu berdiri kemudian melangkah menuju almari pojok ruangan. Ia seperti mengambil sesuatu. Sebentar kemudian dia telah duduk kembali menghadap Yazid.
“Ini buku peraturan pesantren. Dibuat dengan mempertimbangkan maslahat dan mudharat. Semua santri di sini harus patuh dengan aturan yang tertera dalam buku ini. Siapapun dia tanpa terkecuali. Bagi yang melanggar berarti tidak mentaati pengasuh pesantren!” Petugas berusaha meyakini Yazid.
“Buku peraturan pesantren bukanlah ayat-ayat suci tanpa kritik. Tuhan saja punya alasan ketika menyuruh makhluk-Nya untuk melakukan atau meninggalkan setiap perintah-Nya. Tanpa alasan, maka tidak harus kita mentaati titah Tuhan!”
“Apakah engkau ingin mengatakan bahwa tidak ada tujuan dalam peraturan pesantren ini?” Emosi petugas mulai terpancing dengan argumentasi Yazid.
“Tidak demikian maksud saya. Saya yakin peraturan pesantren juga mempunyai tujuan. Sama halnya dengan aya-ayat suci milik Tuhan. Selain ada tujuan, Tuhan juga memberikan alasan mengapa sesuatu itu dititahkan kepada manusia. Ada sinkronisasi antara alasan dan tujuan. Mengapa minuman keras dilarang? Sebabnya karena memabukkan. Tujuannya agar tetap terpelihara akal ini dalam kondisi normal. Kenapa pembunuhan dilarang? Sebab sifat pembunuhan itu sendiri. Tujuannya agar tetap terpeliharanya hak hidup setiap jiwa manusia. Mengapa pencurian dilarang? Sebab mengambil barang orang lain tanpa hak. Tujuannya agar terjamin hak milik bagi setiap individu. Mengapa zina diilegalkan dalam agama? Karena melakukan hubungan badan tanpa adanya akad nikah. Tujuannya agar terjamin hak-hak anak. Ada tidaknya sebuah beban bagi manusia tergantung ada tidaknya alasannya. Realisasi tujuan titah Tuhan demi kemaslahatan manusia. Apapun bentuk hukum yang mengatasnamakan agama dengan mngenyampingkan kemaslahatan orang banyak maka harus ditolak.      
“Engkau banyak alasan!” Suaranya mengeras sambil memukul meja yang ada di hadapannya. Tidak terima dengan sikap Yazid.
“Saya hanya ingin mengatakan bahwa legalitas formal itu penting. Tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu hakekat tujuannya. Sehingga ada belas kasih yang mungkin sedikit jadi pertimbangan. Terlebih surat-surat saya hanya berisi kisah hidup, tidak lebih dari itu!” Yazid mencoba untuk sedikit mengajak diskusi.
“Ini aturan yang mesti engkau taati!”
Yazid hanya terdiam, tertunduk, untuk meredam amarah yang timbul lebih besar. Semua argumentasi tidak lagi berarti. Hilang logika. Apa yang tertera dalam peraturan pesantren seperti ayat suci yang harus ditaati dan ikuti. Interpretasi milik para otoritas pesantren. Santri harus tunduk. Tidak mengikuti berarti menghilangkan berkah. Berbeda berarti  keluar dari komunitas. Hatinya berontak dengan apa yang didengarnya. Apakah salah bercerita kepada orang lain tentang derita hidup? Ataukah karena tempat berbagi ceritanya adalah seorang wanita? Atas nama agama atau adat semata?
“Sekali lagi engkau berbuat seperti ini, maka engkau akan dikeluarkan dari pesantren!”
Hanya itu kata terakhir yang ia dengar. Keluar dari pesantren sama saja berarti menghentikan kuliah yang selama ini ia jalani.
Yazid diharuskan menjalani hukuman yang diberikan oleh pengurus pesantren. Dia harus tinggal selama semalam dalam penjara pesantren. Ruangan penjara berukuran dua kali tiga meter. Ada seorang santri yang terlebih dahulu menghuni penjara pesantren. Rambut kepala dicukur habis tidak beraturan.
“Sudah berapa lama engkau di sini?” Tanya Yazid.
“Ini hari kedua dari tiga hari hukumanku!”
“Maaf, jika aku boleh tahu apa penyebab engkau masuk ke sini?”
“Ini ..!!!” Dia perlihatkan papan plang nama yang bertuliskan “Mencuri”. Papan dengan nama jenis pelanggaran biasanya digantungkan di leher saat harus berdiri di atas bangku di pinggir jalan tempat santri putra maupun putri keluar masuk pesantren.
Menjelang malam. Nyamuk-nyamuk mulai berdatangan mengisi ruang penjara pesantren. Menjadi teman setia setiap penghuni penjara. Yazid membaca Al-Qur’an setelah selesai melaksanakan shalat maghrib. Tiba-tiba ustadz Gufron datang dengan membawa dua bungkus nasi. Dicium tangan ustadz Gufron, sebagai tanda rasa hormat.
“Ini saya bawakan nasi. Selebihnya bisa engkau bagi untuk temanmu di sini!”
“Terima kasih Ustadz. Ma’af sudah merepotkan!”
“Tidak apa-apa. Ambil hikmah dari semua ini!”
 “Entahlah Ustadz. Di satu sisi saya mengakui bahwa perbuatan saya telah melanggar peraturan pesantren. Tapi saya tidak dapat membohongi diri sendiri bahwa saya teramat mencintainya. Apakah saya berdosa Ustadz bila saya mencintai seseorang?”
“Engkau tidak perlu sesali apa yang sudah terjadi. Biarkan cintamu mengalir. Ikuti kata hatimu. Kita tidak pernah tahu kapan cinta itu akan datang. Cinta adalah perasa. Tanpa harus terucap. Hati yang berbicara. Cinta adalah keabadian. Tidak terikat oleh waktu. Dia stabil, utuh. Untuk masa lalu, kini, dan hari esok. Cinta adalah kasih sayang. Tanpa selalu harus memiliki. Bila ada rasa benci. Jika ada amarah. Bila ingin memiliki. Maka yakinlah itu bukan cinta. Itu hawa nafsu. Tipis beda antara cinta dan hawa nafsu. Cinta membawa kebaikan. Hawa nafsu mendatangkan kegelisahan.
“Yazid, perteguh hatimu bila engkau memiliki cinta. Minta ampun kepada Tuhan bila itu hanya hawa nafsu. Esok engkau pasti akan tersenyum bersamanya jika di hatimu ada cinta!”  
Yazid duduk menyendiri di kamar. Dia masih belum percaya atas hukuman yang baru selesai dijalaninya. Mengapa kebahagiaan yang baru saja dinikmati harus dirampas? Lama ia menantikan kasih sayang yang telah lama menghilang dari kehidupannya. Hingga akhirnya datang Auliya, menutup semua kenangan duka masa lalu. Haruskah air mata datang kembali menghiasi malam-malam sepinya? Tidakkah sudah cukup lama ia bergulat dalam keluh?






















16
 
SAMA RASA

Langit tampak cerah. Teriring kepergian mentari kembali ke peraduannya. Menyisakan lembayung bergelayut di dinding-dinding langit. Pandangan Auliya tertuju pada awan yang berarak. Matanya tak berkedip. Seperti ingin menembus rahasia ilahi di balik cakrawala tak bertepi. Bertanya tentang kabar seseorang.
“Auliya..!!!”
“Oh, Mbak Dewi?”
“Sedang apa? Sampai tidak tahu ada yang datang!”
”Oh, tidak mbak!”
”Kamu pasti berbohong! Pasti terjadi sesuatu pada dirimu. Raut wajahmu terlihat muram!”
”Mbak Dewi!!!” Dari luar kamar tampak Nuraini, Solihah dan Maemunah.
”Kapan datang Mbak?!!”
”Baru saja! Kalian baru pulang sekolah?”
”Iya!!!” Serempak mereka menjawab.
”Auliya kok sendirian? Tidak ikut bersama kalian!”
”Dia lagi tidak enak badan Mbak!” Jawab Solihah.
”Apakah sakit?”
”Iya, sakit perasaannya! Ha, ha!” Jawab Maemunah sekenanya.
Auliya tampak diam tanpa ekspresi. Enggan untuk menanggapi komentar teman-temannya itu.
 ”Begini Mbak...” Nuraini mencoba untuk menjelaskan.
”Tadi pagi ia dihukum sebab berkirim surat dengan santri putra. Dia merasa tertekan dengan ancaman akan dikeluarkan dari pondok pesantren!”
”Apakah benar Auliya?” Tanya Dewi sambil menggenggam jemari Auliya. Sesaat kemudian Auliya telah jatuh dalam pelukannya.
”Sudahlah Auliya, tidaklah mengapa. Di usiamu saat ini, engkau berhak mendapatkan kasih sayang dari siapapun, termasuk dari seorang lelaki.”
”Mbak..! Mengapa mereka tidak memahami perasaanku?”
”Mereka bukan tidak memahami perasaanmu. Hanyasanya mereka bertindak dengan aturan di sini sambil mengenyampingkan perasaan mereka sendiri” Dibiarkan Auliya menumpahkan perasaannya. Menangis untuk sedikit menghilangkan beban jiwanya.
”Sekarang makanlah jajanan khas Banyuwangi yang aku bawa!”
”Gimana Mbak acara lamarannya?” Tanya Nuraini.
”Iya, setengah bulan aku berada di rumah. Akhirnya datang juga masa penantian itu. Lelaki itu benar-benar memenuhi janjinya. Dia datang bersama keluarganya untuk melamarku. Kedua keluarga sepakat untuk acara resepsi pernikahan akan digelar kurang lebih dua bulan dari sekarang di rumahku, Banyuwangi. Kemungkinan satu minggu ini aku akan tinggal di pesantren. Selain untuk mengurus izin berhenti dari pesantren, aku juga mengundang kalian untuk hadir pada pesta perkawinanku nanti. Aku harap jangan sampai kalian tidak hadir!”
”Pasti kami akan hadir!”
Semua menyatu dalam kegembiraan Dewi Kartika. Hanya Auliya yang tetap membisu.
”Auliya.., janganlah engkau larut dalam kesedihanmu!”
”Aku tidak sedang bersedih sebab diriku. Tapi untuk seseorang. Aku takut ia akan menderita dalam kesendiriannya”
”Itu namanya ada sesuatu yang kini telah tumbuh dalam dirimu!”
”Entahlah Mbak, apakah perasaan kasihan atau lebih dari itu!”
”Tuhan memang Maha Kuasa. Dia persatukan hati dua insan lain jenis dengan berbagai cara. Aneh menurut kita. Sepele menurut-Nya. Aku merasakan itu bersama lelaki yang sekarang menjadi calon suamiku. Pertemuan kami hanya sekali ketika tugas kuliah kerja nyata yang aku lakukan di daerah terpencil tahun lalu. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Sampai akhirnya tiba-tiba ia datang ke rumah menyampaikan keinginan untuk melamarku. Itulah jodoh. Aneh tapi nyata. Tidak dapat diduga kapan akan datang. Di mana tempatnya. Yang paling penting, kita harus optimis berusaha meraihnya. Tidak lupa memohon yang terbaik dari Yang Kuasa.
Bila ini jalan hidup yang digariskan dari-Nya. Teruntukmu dan dia. Maka nikmati dan syukuri. Anggap itu sebagai anugerah. Pasti akan datang aral yang menjadi bumbu penyedap rasa perjalanan hidup kamu berdua. Yang kelak akan menjadi pengantar tidurmu.
Auliya, jangan pernah berharap ada bahagia dari orang lain dari kita. Berusahalah untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Bila engkau ingin mengetahui ada atau tidaknya kasih sayang di hati seseorang teruntukmu. Jangan pernah engkau tanyakan kepadanya. Tapi tanyakan kepada dirimu sendiri. Adakah kasih sayangmu teruntuknya?
Bulatkan tekadmu. Sucikan niatmu. Siapkan mentalmu. Sebab apa yang kita harap sering kali berbeda dengan apa yang diberi. Yakini hati bahwa itu yang terbaik!”
Pagi menjelang. Setiap santri telah keluar dari asramanya masing-masing. Menuju madrasah tempat belajar ilmu agama.
Gadis kecil itu telah lama berdiri di ujung gang. Ia berlari ketika mengetahui keberadaan Yazid.
“Kak, ini ada surat untukmu!” Sebentar matanya menatap Yazid. Seperti mengetahui kesedihan hati Yazid. Setelah itu berlalu dan menghilang di balik gang jalan yang menuju pesantren.

Teruntuk,
Kak Yazid
Entah kekuatan apa yang membuatku berani mengirimkan surat teruntukmu. Aku dengar keadaanmu sama sepertiku di sini. Dipaksa untuk tidak boleh bertemu meskipun itu sekedar surat.
Kak Yazid, aku hanya seorang wanita yang selalu mengedepankan perasaan. Aku tidak ingin lukamu kembali menganga di saat engkau telah sedikit bisa tersenyum.
Kak, tersenyumlah. Jangan berhenti. Meskipun itu terasa pahit.
Auliya.

Teruntuk,
Auliya
Auliya, engkau pertaruhkan segala resiko hanya untuk memberiku semangat hidup. Parasmu sungguh telah menjadi cerminan hatimu yang terdalam. Aku berjanji, engkau selalu akan kubawa, kapanpun, dimanapun aku berada. Walau sebatas bayangmu.
                                                                                 Yazid

Kali ini Yazid berpesan kepada pembawa surat agar suratnya langsung diberikan kepada Auliya, juga agar dibakar setelah dibaca.


















17
 
SURAT CINTA

Pusat kota kabupaten. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam dengan menggunakan bus antar kota. Usai melakukan wawancara untuk kebutuhan majalah kampus, Yazid menyempatkan diri mampir ke warnet. Layanan internet hanya bisa dinikmati kalangan tertentu di pesantren. Para santri biasanya mampir ke warnet di sela kunjungan mereka ke pusat kota.
Yazid terkejut ketika matanya tertuju pada layar monitor di depannya. Ada nama baru masuk dalam emailnya, vienlysby@plasa.com, begitu identitas email yang dia terima. Setelah menunggu beberapa saat lamanya, muncul di layar monitor pesan teruntuknya.

Kak .., tentu saat ini perasaan bahagia sedang menyelimuti dirimu. Engkau pernah mengatakan padaku, bahwa masa lalu terlalu berharga untuk kita lupakan. Ada tangis serta senyum di masa lalu yang tak mungkin hilang. Bila masa lalu begitu berharga, apakah salah bila detik ini kuucapkan “Selamat Ulang Tahun teruntukmu….”
Dariku,
Auliya

Senyum simpul keluar dari bibirnya. Selama hidupnya, baru kali ini dia diingatkan pada masa lalunya, masa awal pertama kali tangis keluar dari bibirnya.

Bukan karena masa lalu yang membuatku bahagia. Tapi perhatian darimu selama ini yang membuat hidupku lerbih berarti. Terima kasih atas perhatiannya.
Yazid.

Begitu pesan balik yang ditulisnya.
Sore itu, untaian lembayung menggelayut di ufuk barat. Mentari hampir balik keperaduannya. Sementara burung-burung sore telah kembali ke sarangnya. Satu lagi episode kehidupan anak manusia perlahan berlalu, menyusul lembaran-lembaran masa lalu yang menumpuk di laci takdir Tuhan. Seorang gadis remaja, termenung dalam kesendiriannya. Dialah Auliya, lengkapnya Auliya Dwita Sari. Ia terlahir di pulau Madura. Karena alasan ekonomi, keluarganya lalu pindah ke Surabaya. Setelah SMP, ia kemudian disekolahkan ke pesantren.
“Auliya, ada surat untukmu!” Suara Nuraini membuyarkan lamunan Auliya.
“Dari siapa?”
“Dari Kak Yazid!”

Teruntuk,
Auliya
Lama perasaan ini aku simpan dalam hati. Saat pertama kali aku lihat senyummu. Sejak itulah tumbuh perasaan sayang dalam jiwa. Hari-hari telah kulalui bersamamu dalam khayalku. Detak jantungkupun seakan terpompa lewat desah nafasmu. Bukan karena kecantikanmu hingga tumbuh benih cinta di hatiku. Tidak ada yang bisa kuberikan teruntukmu selain kasih sayang. Kedua orang tuaku telah meninggalkanku sejak aku kecil. Beruntung aku mempunyai seorang paman yang dapat membiayayaiku kuliah sampai saat ini. Kuharap ada secercah harapan bagiku untuk mencintaimu.
Yazid.

Tidak terasa setetes air mata jatuh menimpa pipinya. Lama ia ingin mengetahui isi hati Yazid tentang perasaannya yang terdalam, lebih dari sekedar berbagi cerita.
“Auliya, mengapa engkau menangis?” Tanya Nuraini.
“Aku menangis sebab takdir yang membawaku untuk selalu dekat kepada Kak Yazid. Jiwa ini semakin merindu saat diriku dipaksa untuk menjauh darinya!”
“Engkau harus hati-hati, sebab ujian akhir sekolah semakin dekat!” Nuraini mencoba untuk menasehati sahabat karibnya.
“Entahlah Nur, sempat aku berpikir untuk meninggalkannya sejenak. Tapi itu tidak bisa!”
“Engkau harus berpikir untuk masa depanmu!”
“Nur, Kak Yazid adalah masa depanku. Dengannya aku bisa tersenyum. Salahkah bila ada rasa saling butuh di antara kami. Bukan sebab belas kasihan. Namun saling butuh akan kasih sayang. Itu yang aku rasa!”
“Itu hak engkau. Tapi terkadang rasionalitas lebih harus dikedepankan ketimbang perasaan. Jangan sampai engkau membabi buta demi sebuah cinta. Andai saja kasusmu ini sampai ke Ibu Nyai, maka persoalan akan semakin rumit. Aku sudah berbicara kepada kepala keamanan putri agar masalah ini tidak diteruskan ke Ibu Nyai. Aku yang menjamin kejadian ini tidak akan terulang lagi pada dirimu!”
“Aku sangat berterima kasih kepada engkau, Nuraini. Tidak hanya support yang engkau berikan. Lebih dari itu, engkau pertaruhkan dirimu demi sebuah persahabatan. Tapi aku minta maaf. Mataku telah buta, telingaku telah tuli, dan jiwa ini telah mati rasa. Diriku telah tenggelam dalam bayang Kak Yazid. Biarkan takdirku berjalan bersama Kak Yazid!”
Tekadnya bagai karang, siap meruntuhkan setiap uji yang menerjang. Hilang rasa takut. Pasrah pada takdir. Yakin inilah yang terbaik.
Cinta adalah nilai. Dia bisa menembus dinding yang tebal, gunung yang tinggi, serta lautan yang dalam. Cinta juga dapat menghubungi mereka yang berada di alam kematian. Tubuh Auliya dan Yazid mungkin terhalang dinding, terbelenggu dalam aturan sepihak. Tapi jiwa mereka menyatu dalam ikatan kasih sayang.
Malam kian larut. Menyatu dalam gelora hati para pemuja cinta. Orang yang dimabuk cinta, tidak mungkin bisa memendam perasaan cintanya. Auliya pun demikian adanya. Keceriaan yang memancar dari wajahnya, berasal dari cinta yang ada dalam hatinya. Tangannya mulai mengayunkan pena, merangkai kata, menuangkan isi hati dalam bentuk tulisan.

Teruntuk,
Kak Yazid
Mungkin sudah kodrat Yang Kuasa. Kita dipertemukan di sini. Dan di sini pula hati kita dipersatukan. Jangan engkau bawakan aku sekeranjang emas atas nama cinta. Selusin sutrapun tidak usah engkau hadapkan padaku. Aku hanya butuh secawan anggur kasih sayang. Akan aku tuang dalam gelas asmara. Kita akan rengguk bersama di atas meja cinta. Aku sangat yakin jika masih ada cinta suci di hati setiap insan. Cinta yang bisa menyatukan kaya dengan miskin, jelek dengan rupawan, tua dengan muda. Cinta yang menempatkan perasaan sayang ada di atas segala-galanya.
Kak, kupersembahkan cintaku teruntukmu. Sayangi dan marahilah aku dengan kasih sayangmu.
Kekasihmu,
Auliya

Genderang cinta telah ditabu. Alam berubah warna. Terisi butir mutiara milik berdua. Lenyap semua insan dalam pandangan. Lenyap segala duka masa lalu. Selamat datang di alam cinta. Tempat berkumpulnya dua jiwa yang sedang terlena.








18
 
SEMINAR

”Kapan engkau berangkat ke Surabaya Yazid?” Tanya Sonhaji, selaku ketua panitia penyelenggara seminar nasional yang diadakan di fakultasnya.
“Esok, Sabtu sore aku berangkat bersama Arif. Biar malamnya aku bisa bermalam di rumahnya. Minggu pagi aku sudah janji via telpon untuk bertemu dengan narasumber kita di rumahnya!”
“Usahakan agar ia dapat menghadiri acara sesuai dengan rencana kita. Setelah itu baru bisa kita rapat untuk membicarakan perihal yang lainnya!”
“Oh iya, kemarin aku sudah bertemu dengan manager sebuah perusahaan rokok yang ada di kota ini. Katanya ia siap akan menjadi sponsor sekaligus memberi bantuan finansial. Kemungkinan tiga hari sebelum pelaksanaan seminar kita sudah dapat memasang umbul-umbul di sekitar jalan depan pesantren sampai ke aula tempat acara kita.
“Nah, kamu sendiri gimana Rul? Sudah ada kontak dengan senat putri?”
“Aku sudah bertemu ketua senat putri lewat telpon. Banyak kok yang rencananya mau ikut bila acara jadi kita adakan. Mereka bertanya berapa biaya untuk ikut seminar kita!”
“Wah Sahrul!!! Kalau ngomong masalah putri paling semangat!” Seru yang lainnya sambil bersama keluar dari kampus.
Yazid dan Arif bersiap-siap berangkat ke Surabaya untuk meminta kesediaan seorang tokoh agama yang kebetulan menjabat sebagai ketua wilayah salah satu organisasi keagamaan yang ada di Surabaya. Seminar untuk menyikapi kekerasan atas nama agama yang belakangan terjadi di wilayah Indonesia.
Malam telah larut ketika mereka sampai di Surabaya. Yazid kemudian bermalam di rumah Arif. Keesokan paginya keduanya telah siap berangkat ke alamat yang ingin dituju. Keduanya tidak mengalami kesulitan bertemu dengan calon narasumber. Karena sebelumnya telah ada perjanjian untuk bertemu. Akhirnya proposal permohonan kesediaan menjadi narasumber disepakati. Keduanya lalu kembali ke rumah Arif. Tidak lama kemudian keduanya telah siap kembali menuju pesantren. Selama di Surabaya, Yazid menyempatkan diri mampir ke warnet. Mengirim kabar ke Auliya.
Auliya sayang. Semoga kabarmu baik. Seperti kabarku saat ini. Ketika meulis pesan ini aku sedang berada di Surabaya.
Auliya, dua puluh hari lagi, Insya Allah akan ada seminar di pesantren untuk umum. Aku berharap engkau bisa ikut. Mungkin aku dapat melihat dirimu. Meski dari kejauhan.     
Demikian pesan email yang ia tulis teruntuk Auliya.
Semua panitia seminar telah berkumpul di ruang senat.
“Pembicara dalam seminar sudah dipastikan akan hadir seperti rencana kita!” Sonhaji membuka rapat.
“Tinggal satu orang pembicara lagi sebagai pendamping yang akan kita ambil dari dosen lokal di sini. Aku berharap Yazid dan Arif segera dapat menghubunginya untuk memastikan kesediaannya. Agar masalah narasumber seratus persen selesai!
“Sahrul, agar segera menyampaikan surat izin keikutsertaan santri putri ke bagian keamanan. Arif, mulai saat ini secepatnya mencari tambahan dana ke instansi atau donatur yang mungkin untuk dimintai. Fauzan tolong segera cari informasi untuk kebutuhan konsumsi peserta. Sedangkan aku dan Imron akan berusaha menginventarisir peserta yang akan kita undang!” Sonhaji berusaha mengatur semua kebutuhan yang terkait dengan seminar.
“Iya, sekalian kita akan undang tokoh-tokoh lintas agama yang ada di daerah kita ini!” Tambah Imron.
Hari yang ditunggu telah datang. Sejak semalam semua panitia telah berkumpul di aula, tempat di mana setiap acara-acara besar pesantren diadakan. Umbul-umbul dengan gambar merk sebuah perusahaan rokok berjajar di sepanjang jalan. Spanduk bertuliskan selamat datang lengkap dengan nama pembicara terpampang di pintu gerbang masuk pesantren. Di dalam aula, ratusan bangku berjajar rapi. Barisan bangku khusus putri berada di sebelah kanan dengan hijab yang memisah antara bangku khusus putra. Di depan terdapat meja khusus bagi pembicara, moderator dan notulen.
Satu persatu peserta seminar telah datang. Kebanyakan dari mahasiswa yang memang jarak antara aula dengan asrama santri tidak terlalu jauh.
Dari kejauhan terlihat rombongan santri putri yang berstatus mahasiswi dan sebagian ada yang masih duduk di bangku SMA. Mereka berjalan dengan kawalan ketat dari petugas bagian keamanan pesantren. Derai tawa, canda dan gembira nampak di wajah-wajah mereka. Seragam mereka disesuaikan dengan status yang mereka sandang. Celoteh santri putra terdengar menggoda di sepanjang perjalanan menuju tempat acara. Dari dalam aula, pandangan peserta semua tertuju ke sisi di mana santri putri mulai datang. Memang tidak sedikit peserta seminar yang ikut dengan alasan karena acara dihadiri oleh santri putri.
Yazid berdiri di dekat pintu masuk aula. Dia perhatikan satu persatu peserta putri yang datang. Hatinya berdetak tidak menentu menanti kehadiran Auliya. Apakah ikut atau tidak. Penantiannya tidak sia-sia. Di antara antrian peserta putri yang masuk ke dalam aula, terlihat Auliya. Pandangan Auliya sebentar di arahkan ke kiri, sebentar kemudian diarahkan ke kanan. Berharap bertemu dengan seseorang, yang tidak lain adalah Yazid. Bersamanya Nuraini. Keduanya menggunakan seragam SMA. Tangan kanan Auliya berpegang erat dengan tangan kiri Nuraini. Keduanya saling berbisik sambil terus memperhatikan ke sekelilingnya. Hati Yazid teramat gembira melihat Auliya dengan jilbab putih mengenakan pakaian putih abu-abu. Auliya masih memalingkan wajahnya ke arah kanan. Di saat pandangannya tertuju ke arah kiri, maka terjadilah pertemuan itu. Hanya sebatas saling memandang. Yazid tersenyum membalas senyum Auliya. Setelah itu Auliya menghilang, berbaur dengan peserta putri yang lainnya. Bagaikan guyuran hujan di musim kemarau. Lama merindu terbayar meskipun dengan senyuman.
Hampir seluruh undangan telah hadir. Dua narasumber juga telah menempati tempat duduknya. Pembicaraan seputar sikap inklusivitas keberagamaan mengalir dari kedua pembicara. Intinya, kedua pembicara mengatakan bahwa semua agama pasti menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada pengikutnya. Tidak dikenal bentuk kekerasan dari agama manapun. Bila terjadi kekerasan oleh pemeluk agama tertentu dengan mengatas namakan agama. Itu berarti kesalahan terletak kepada individu pemeluk agama yang salah menginterpretasikan teks keagamaannya.
Selesai pemaparan dari kedua pembicara. Moderator mempesilahkan peserta untuk bertanya atau menanggapi apa yang telah disampaikan oleh pembicara. Banyak dari peserta, baik putra maupun putri yang urun rembug mencari jalan keluar atas konflik agama yang sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
“Baik, silahkan satu pertanyaan lagi yang mungkin ingin disampaikan!” Moderator mempersilahkan kesempatan terakhir bagi peserta.
Ada beberapa peserta yang mengangkat tangannya, termasuk Yazid.
“Ya, silahkan anda dari peserta putra!” Moderator mempersilahkan Yazid menuju ke depan.
“Terima kasih. Perkenalkan, nama saya Yazid, dari fakultas Syari’ah semester enam. Saya mungkin akan sedikit memberikan solusi, jalan keluar atas konflik agama yang terjadi di negeri ini. Dialog lintas agama mesti tetap terus dibangun. Dialog tidak akan menemukan jalan keluar atas persoalan umat bila belum ditemukan syarat-syarat sebelum dialog terjadi. Syarat pertama adalah lepas dahulu rasa curiga di antara kita. Biar tidak ada dusta selama rekonsiliasi berlangsung. Kedua, agar mengenal lebih jauh kehidupan dari kedua belah pihak. Dari sini akan timbul rasa empati, bukan antipati. Terakhir, pemahaman terhadap teks doktrinal keberagamaan masing-masing pihak. Sehingga tidak timbul justifikasi agama kekerasan, anti damai. Karena eksklusifitas keberagamaan timbul dari interpretasi teks, bukan inti teks itu sendiri!” Demikian komentar Yazid.
Seminar kemudian ditutup oleh moderator. Peserta perlahan meninggalkan tempat duduknya, keluar dari aula pesantren. Termasuk dari peserta putri. Mereka keluar dengan tetap dikawal oleh petugas bagian keamanan. Semua kembali dengan membawa sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Pemahaman baru. Suasana baru. Bagi Yazid, itu semua tidak berarti tanpa kehadiran Auliya. Sama seperti Auliya. Seminar tidak hanya menambah pengetahuannya. Lebih dari itu, kerinduan yang mendalam pada kekasih tercinta telah terobati. Meski sebatas sekilas pandangan. Baginya itu telah menjadi senyum pengantar tidurnya.

























19
 
PERTEMUAN

Hari jum’at pagi. Seperti biasa aktivitas pesantren sejenak terhenti. Yazid baru saja memisahkan pakaian-pakaian kotornya untuk segera dicuci. Tiba-tiba seorang teman datang menghampiri.
“Yazid, ada telpon teruntukmu!”
“Dari siapa?”
“Katanya dari pamanmu di Jakarta!”
Yazid segera menuju ruang khusus di mana setiap santri biasa menerima telpon dari sanak saudara di rumahnya. Hanya ada dua telpon untuk ribuan santri yang ingin mendapatkan kabar dari rumahnya lewat sarana pesawat telpon. Seorang operator bertugas menerima telpon untuk kemudian disampaikan kepada santri yang dituju. Santri biasanya menunggu antrian untuk kembali ditelpon. Tidak boleh menerima telpon dari pihak wanita yang benar-benar bukan kerabatnya. Pihak operator terlebih dahulu menginterogasi. Bila argumentasi penelepon untuk bertemu tidak dapat diterima. Secara otomatis operator tidak akan menyampaikan pesannya itu kepada santri bersangkutan. Sering kali perlu digunakan penyadap untuk mengetahui isi dan siapa penelpon.
Terdengar dering telpon dari atas meja tepat di depan Yazid dan beberapa santri yang menunggu antrian untuk kembali ditelpon. Operator mengangkat ujung telpon. Berbicara sesaat. Gagang telpon sedikit dijauhkan dari hadapannya.
“Yazid!” Operator mempersilahkan Yazid untuk menerima telpon.
Hati Yazid bertanya-tanya. Mungkinkah pamannya menelpon dirinya? Selama ini tidak pernah pamannya menyampaikan kabar lewat telpon. Hanya lewat surat biasanya pamannya bersua dengan dirinya.
“Assalamu’alaikum!” Yazid mencoba untuk menyapa.
“Apakah benar ini Yazid?” Terdengar suara laki-laki. Hati Yazid mulai ragu untuk memastikan penelpon adalah pamannya. Ia kenal betul suara pamannya.
“Iya benar ini Yazid!”
“Yazid dari Jakarta?” Suara di ujung sana seperti berusaha memastikan bahwa orang yang menerima telponnya adalah benar-benar Yazid.
“Iya, betul ini Yazid dari Jakarta! Ini siapa?” Yazid berusaha menanyakan identitas penelpon.
Suara di ujung telpon berhenti sejenak. Hati Yazid tersentak ketika suara yang sebelumnya berasal dari seorang laki-laki kini berganti dengan suara wanita. Tampak pelan dan sangat berhati-hati.
“Kak, ini aku Auliya. Aku ingin ke kota Banyuwangi. Kunanti kau di Ketapang, dermaga penyebrangan Banyuwangi. Kak, jangan lupa. Aku tunggu engkau sekarang!”
Hanya itu. Suara di ujung telpon langsung terputus. Yazid hampir tidak mempercayai dengan apa yang baru dialaminya. Dia kenal betul suara Auliya meskipun baru sekali ia mendengarnya ketika terjadi perjumpaan awal pertama kali. Dia berusaha bersikap wajar agar tidak menimbulkan kecurigaan dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Segera Yazid kembali ke kamarnya. Mengurus izin kepergian di bagian perizinan.
“Yazid, engkau mau kemana?” Tanya kawan sekamar Yazid.
“Mau ke kota, ngecek uang di ATM, apakah kiriman sudah ada atau belum!” Jawab Yazid berusaha menutupi maksud tujuan kepergiannya.
Perasaan khawatir dan gembira bercampur dalam diri Yazid. Khawatir bahwa apa yang ia lakukan, bertemu dengan wanita yang bukan kerabatnya di luar pesantren, terlebih kekasihnya sendiri dapat diketahui pihak pesantren. Itu berarti bencana baginya juga Auliya. Terusir dari pesantren pasti akan didapati. Tapi rasa ingin bertemu dengan kekasih tercinta membuatnya menguatkan tekad. Berani mengambil resiko terberat yang akan menimpanya.
Becak mengantarkan diri Yazid menuju pintu gerbang pondok pesantren yang berada tepat di pinggir jalan raya. Sesekali langkahnya menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan langkahnya tidak diketahui oleh siapapun.
Yazid berdiri di pinggir jalan. Menanti bus antar kota yang menuju Banyuwangi.
Kondektur bus melambaikan tangan sebagai tanda mobil akan berhenti untuk mengajak penumpang yang berdiri menunggu di sisi kiri jalan arah mobil. Yazid duduk di sisi paling kiri pada deretan bangku tengah. Mobil melaju dengan membawa penumpang kurang dari dua puluh orang.
Sepanjang perjalanan. Tersaji bentangan luas laut pulau Jawa. Gelombang laut terlihat silih berganti saling mengejar untuk mendekati pantai. Deretan perahu nelayan menghiasi sepanjang pantai. Sebentar pemandangan laut hilang terhalang oleh rumah-rumah penduduk yang berjejer sepanjang pantai. Sementara di sisi kanan mobil terlihat di kejauhan pesona gunung-gunung yang tinggi mencakar dinding-dinding langit. Pemandangan kemudian berganti dengan hutan pohon karet menutupi sisi kanan dan kiri jalan raya. Selepas hutan pohon karet, penumpang disuguhkan kembali dengan pemandangan indah pesona pantai. Di seberang timur agak menjauh telah terlihat gugusan pulau Bali. Bus menyisir tepi pantai ujung timur pulau Jawa. Pohon kelapa melambai di sepanjang tepi pantai. Setelah itu bus memasuki terminal. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan mobil angkot.
Yazid turun dari mobil angkot yang ingin menuju kota Banyuwangi. Kemudian memasuki areal pelabuhan penyebrangan Ketapang, Banyuwangi. Antrian bus antar propinsi yang ingin masuk dan keluar pulau Bali berjejer berdampingan dengan mobil-mobil pribadi serta truk-truk pembawa barang. Ratusan sepeda motor turut antri mendahului kendaraan roda empat. Sementara itu ratusan pedagang turut meramaikan suasana. Menyatu dengan para calon penumpang.
Pandangan Yazid diarahkan ke setiap sudut keramaian, mencoba mencari-cari keberadaan Auliya. Lama ia berdiri. Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
“Kak Yazid ..!”
Suara itu datang dari arah kiri tempatnya berdiri. Dialihkan pandangannya ke sumber suara yang memanggilnya.
“Auliya ..!”
Sesosok tubuh telah berdiri di sampingnya. Gadis berjilbab putih. Dengan tersenyum tampak anggun berdiri menatap wajah Yazid. Sesekali wajahnya tertutupi ujung jilbab yang terkena hempasan angin.
Yazid diam sejenak. Tanpa kata-kata. Seperti tidak meyakini dengan apa yang dialaminya. Apakah ini mimpi? Bertemu dengan seseorang yang amat dicintainya. Seseorang yang telah menjadi teman khayal mimpi-mimpi indahnya. Rasanya hilang seketika beban hidup yang ia alami. Terbayar dengan seberkas senyum lewat bibir Auliya.
“Maaf, lama engkau menungguku!” Terasa keluh lidah ketika berbicara.
“Tidak mengapa. Oh iya, kenalkan, ini temanku Nuraini!” Auliya mencoba memperkenalkan Nuraini yang berdiri di belakang Auliya.
Lambat laun keadaan mencair. Terlebih ada Nuraini yang suka sekali cerita keadaan Auliya yang tidak dapat tidur ketika mengingat Yazid.
Mereka duduk di atas tepi pembatas antara lautan dan daratan. Angin laut menerpa wajah mereka. Ombak berhamburan menerpa tembok pembatas. Percikan-percikan air mengenai pakaian mereka. Di sini terlihat jelas kapal ferry yang merapat di dermaga, menurunkan para penumpang yang datang dari Bali. Ratusan motor keluar dari perut kapal. Disusul dengan kendaraan roda empat. Satu kapal mulai beranjak dari dermaga membawa penumpang menuju pulau Bali.
Lama mereka terdiam. Hanya sesekali pandangan mereka bertemu. Kemudian diakhiri dengan senyum malu. Tidak henti hati Yazid mengagumi kecantikan Auliya. Jilbab warna putih membalut kecantikan wajahnya. Bola matanya indah. Pandangannya diarahkan ke laut lepas. Seperti ingin menumpahkan segenap kerinduan dalam dirinya. Sesaat kemudian wajahnya diarahkan ke Yazid.
“Kak, sengaja aku ingin bertemu engkau di sini. Di sela-sela perjalananku ke kota Banyuwangi untuk menghadiri pesta perkawinan seorang teman alumni pesantren ..!” Suaranya tertahan.
“Kak, ini sebagai bukti cintaku padamu. Cinta yang tidak akan terkikis oleh waktu dan tempat. Separuh hati ini terasa terbawa olehmu. Aku tahu engkau begitu menderita dalam menjalani hidup. Bukanlah belas kasihan yang menyebabkan ada cinta di hati. Lebih dari itu, kebutuhan akan kasih sayang telah kutemukan darimu!” Air matanya menetes membasahi pipi indahnya. Yazid hanya terdiam. Larut dalam keharuan.
“Ada satu hal lagi yang terasa amat sulit untuk diungkapkan. Di surat-suratku, sempat ku katakan kepadamu bahwa setelah lulus sekolah aku ingin kuliah di Surabaya. Ini yang membuat malam-malamku teramat sulit kulalui. Kuyakini diriku bahwa inilah yang terbaik bagi kita. Tapi tetap saja bayangan perpisahan itu begitu menghantuiku.
“Kak, kuingin engkau berjanji untuk tetap setia mencintaiku. Meski tubuh ini akan menjauh darimu!”
Suasana hening. Hanya terdengar bunyi ombak. Nuraini agak menjaga jarak. Mencoba untuk mengerti dengan suasana hati dua sejoli yang sedang dimabuk asmara.
Pandangan mata Yazid jauh ke depan. Menatap kapal yang tampak mengecil melaju menuju pulau Bali.
“Auliya, di antara sekian kosa kata yang kusimpan rapi di lubuk hatiku. Kuikrar pada diriku di hadapan Tuhan. Menjadi balas atas ketulusan cintamu. Kata tersebut adalah setia. Kesetiaan untuk selalu mencintaimu. Kapanpun. Di manapun. Itu janjiku ..!”
Dihapus air matanya dengan secarik tissue. Dipaksakan dirinya untuk bisa tetap tersenyum. Senyum bahagia sebab ikrar dari kekasih.
“Terima kasih atas janji yang engkau ucapkan. Hati ini terasa lebih lega untuk menghadapi kenyataan akan terpisahnya tempat di antara kita. Aku telah siap terbang membawa bayangmu. Tapaki jejakku sebagai penawar rindu. Jangan pernah tanya tentang hati ini. Ada taman bunga yang telah engkau rangkai. Harum semerbak mewangi menghiasi hari-hariku. Aku teramat bahagia!”
Kembali keduanya terdiam memandang laut lepas. Menghayati kebahagiaan dalam dirinya masing-masing.
“Auliya ..!” Suara Nuraini membuyarkan lamunan keduanya.
“Hari sudah semakin sore. Ada baiknya kita segera menuju kota Banyuwangi. Biar tidak kemalaman nanti kembali ke pesantren!” Auliya disadarkan oleh Nuraini.
Diantar Auliya dan Nuraini menuju mobil angkot yang akan mengantar keduanya ke tempat tujuan. Yazid berdiri di pinggir jalan melihat Auliya memasuki mobil angkot. Sempat Auliya melambaikan tangannya. Tanda pertemuan telah berakhir.    
         
















20
 
PERNIKAHAN

Hari masih pagi. Keceriaan terpancar di wajah para santri putri yang duduk di kelas tiga. Mereka bersuka cita merayakan kelulusan. Setelah bergelut dengan pelajaran selama tiga tahun lamanya di sekolah. Tidak ada aksi corat coret baju seragam sekolah. Walaupun demikian tidak mengurangi rasa gembira mereka. Pembicaraanpun mengalir seputar rencana mereka.
”Aku ingin pergi berlibur setelah pulang nanti. Setelah itu baru kembali ke sini untuk melanjutkan kuliah.” Jawab Solehah ketika ditanya rencananya setelah lulus.
“Kalau aku kemungkinan akan dilamar oleh kekasihku yang menunggu di kampung!” Sela Maemunah santri asal Madura.
“Ha ha ha, laku nih yeeh ..!” Serempak mengomentari ucapan Maemunah.
“Kamu sendiri gimana Nur?” Tanya Solehah kepada Nuraini.
“Keinginanku sih melanjutkan kuliah. Tapi kamu tau sendiri betapa besar biaya kuliah. Terlebih kota seperti Surabaya. Menurut ayahku, ada kemungkinan aku bisa kuliah di perguruan tinggi manapun di Surabaya jika masalah sengketa yang menyangkut tanah milik almarhum kakekku berhasil diselesaikan. Kalian boleh percaya boleh juga tidak. Ayahku sering cerita, karena persoalan sengketa tanah milik almarhum kakek, dia seringkali diajak sampai ke Mabes Polri di Jakarta. Menurut ayahku, seorang perwira polisi ikut membantu menyelesaikan sengketa tanah tersebut. Makanya semuanya bantu doa yach…?”
“Tapi ingat, jika sudah berhasil bagi-bagi kita dong!!”
“Engkau bagaimana Auliya?”.
“Kemungkinan aku sama dengan Nuraini, ingin melanjutkan kuliah di Surabaya.”
“Auliya, gimana tuh kabar Kak Yazid?” Nuraini bertanya sedikit berbisik.
“Kemarin ia kirim surat kepadaku. Mengucapkan selamat atas kelulusanku!”
“Gimana bila nanti kamu kuliah di Surabaya sedangkan Kak Yazid di sini?”
“Aku sudah beritahu dia tentang itu. Dan dia pun setuju akan rencanaku. Malah menurutnya itu lebih baik bagi hubungan kami. Bukankah tidak akan ada lagi yang melarang hubungan kami?” Auliya tertawa kecil sambil mencubit lengan Nuraini.
“Lihat deh Adelia..., mengapa ia menyendiri?”
“Hai Adelia, mengapa engkau bermuram? Ini kan hari bahagia teruntuk kita.”
“Jangan-jangan masalahnya dengan lamaran dari keluarga pesantren yang membuatnya sedih?”
“Adelia, mestinya engkau bahagia. Yang akan menjadi calon suamimu itu anak kiyai, lulusan Mesir lagi! Jarang loh anak kiyai yang mau dengan orang-orang seperti kita yang bukan dari keturunan darah biru!”
Adelia Putri. Kembang pesantren asal Banyuwangi. Kecantikannya menjadi buah bibir setiap santri putra. Tidak hanya cantik. Dia juga santri paling berprestasi di sekolah. Keindahan suaranya membuatnya sering diutus mengikuti lomba Tilawatil Qur’an tingkat nasional.
“Aku ingin sekali melanjutkan kuliah!!!”.
“Engkau kan bisa melanjutkan kuliah setelah menikah.”
“Lagi pula mana ada orang tua di daerah kita yang berani menolak lamaran kiyai. Nanti enggak berkah tahu?” Maemunah menyeletuk, berbicara menirukan gaya seorang ustadzah.
“Aku sudah berusaha membujuk orang tuaku, agar pernikahan ditunda. Mereka tidak berani menolaknya ! Lagi pula aku belum mengenal Lora Sa’id!”
“Eeh, katanya orangnya ganteng lho...!” Kembali Maemunah nyerocos.
“Entahlah, aku hanya ingin menyendiri dulu, ingin kuliah!”
“Emang sayang Adelia, jika kamu harus menikah dulu, soalnya otak kamu encer!” Sela Soleha.
“Lagian, meski kamu tidak jadi dengannya, puluhan Lora akan antri lho…!”
“Paling nanti Lora Sa’id akan beralih ke Auliya, he..he..!”
Auliya hanya tersenyum kecil. Wanita mana yang tidak ingin kecantikan dirinya disejajarkan dengan Adelia.
“Tapi ingat Auliya, nanti Kak Yazid kasikan ke aku yah?” Lagi-lagi Maemunah nyeletuk sambil mencubit lengan Auliya.
“Hus..., jangan keras-keras nanti kedengaran pengurus pesantren!” Nuraini mencoba mengerem obrolan.
Selagi mereka asyik tenggelam dalam pembicaraan. Seseorang datang menemui Auliya.
“Auliya, ayahmu datang. Kamu disuruh cepat menemuinya!”
“Solihah, Mae, Nur, ayahku datang!” Auliya segera bangkit dari tempat duduknya. Menuju tempat yang biasa dikhususkan untuk bertemu dengan santri putri.
“Ayah...!” Dicium tangan ayahnya.
“Auliya, cepatlah berkemas, karena kita akan langsung pulang!”
 “Ayah, mengapa secepat ini kita berangkat? Belum sempat aku pamit kepada guru dan teman-teman di sini!” Ujar Auliya ketika ayahnya datang lalu menyuruhnya segera berkemas. Wajah Auliya terlihat cemas. Adakah sesuatu yang terjadi di rumahnya saat ini?
 “Sudahlah, nanti engkau akan tahu sendiri mengapa kira harus segera sampai ke rumah!” Jawab ayah Auliya singkat.
Seribu pertanyaan menggelantung dalam benak Auliya selama dalam perjalanan. Mengapa secepat ini ayahnya datang kemudian pergi bersamanya. Ayahnya hanya diam seribu bahasa. Membuat dirinya semakin penasaran. Hatinya gelisah selama dalam perjalanan. Ada sesuatu yang terasa tertinggal dari dirinya. Dialah Yazid yang selama ini telah menghiasi hari-hari indahnya. Tidak ada kata-kata yang terucap, terlebih surat yang tertinggal teruntuknya. Semakin jauh meninggalkan Yazid, semakin terasa gelisah hatinya. Adakah hari ini awal terpisahnya dua jasad yang saling mencintai? Dua insan yang dipersatukan oleh perasaan sayang. Diikat oleh tali kesamaan. Bersama menangis ketika ada nestapa pada kekasih. Dan tersenyum ketika ada bahagia.
Beberapa jam kemudian. Sampailah keduanya di terminal Purabaya, Surabaya. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menaiki angkot. Tidak lama kemudian keduanya sampai ketempat tujuan. Tampak ramai orang berkerumun di depan rumahnya. Beberapa kendaraan diparkir di halaman rumah. Seorang ibu separuh baya terlihat bergegas menuju halaman rumah ketika Auliya dan ayahnya tiba.
“Aku sangat khawatir atas diri kalian. Sudah tiga jam lamanya tamu kita menunggu. Syukurlah kalian segera datang!” Sambut wanita yang tidak lain ibu kandung Auliya.
Auliya semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Ada banyak barang bawaan di dalam rumahnya. Sanak saudara juga banyak terlihat. Disalami satu persatu. Beberapa pasang mata tertuju pada dirinya. Terlontar bisik pujian lewat bibir para tamu. Keindahan alami anugerah Ilahi.
“Ibu, apa yang sedang terjadi ?” Auliya mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
“Auliya, hari ini adalah hari pernikahanmu!”
Berhenti terasa detak jantung Auliya. Suara itu bagai petir di siang bolong. Untuk beberapa saat tubuhnya mematung. Seluruh sendi terasa sulit untuk digerakkan. Tiba-tiba butir air mata keluar tanpa disadari.
“Ibu minta maaf  karena tidak sempat memberitahukan sebelumnya kepadamu.”
“Tapi mengapa secepat ini? Dan apakah mungkin aku dinikahkan dengan lelaki yang sama sekali aku tidak mengenalnya?”
“Auliya, calon suamimu yang bernama Haikal sebenarnya adalah saudara jauh kita di Madura. Ada keinginan yang mendalam agar tidak hilang ikatan silaturahmi keluarga. Oleh sebab itu sewaktu Haikal kecil, ada keinginan dari ayahnya bila janin dalam kandungan ibu kelak adalah perempuan, maka akan ditunangkan. Waktupun terus berjalan. Dan Ibu melahirkan engkau. Di usiamu yang keenam bulan dan Haikal berusia dua tahun, secara resmi hubungan kalian diikat dengan tali pertunangan. Sampai pada akhirnya kita pindah ke Surabaya. Haikal kecil beranjak dewasa. Setelah menyelesaikan sekolah, dia mencari peruntungan ke negeri orang, Malaysia. Di saat yang sama engkau dikirim ke pondok pesantren untuk melanjutkan sekolah. Haikal memutuskan untuk kembali setelah tiga tahun lamanya bekerja di negeri orang. Belum lama keluarga Haikal datang ke Surabaya. Bermaksud untuk segera meresmikan hubungan kalian ke jenjang pernikahan. Setelah musyawarah, akhirnya kami memutuskan agar pernikahan dilangsungkan setelah ujian sekolahmu selesai. Sudahlah Auliya, semua telah menunggu kita di luar.”
“Ibu, aku tidak bisa melakukan ini!” Auliya tertunduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Auliya, apakah engkau ingin mempermalukan keluarga besar kita?”
“Tapi aku tidak mencintainya!” Bela Auliya.
“Perlahan engkau pasti bisa mencintainya. Kami tahu tentang keluarga Haikal. Mereka orang baik. Sebab itu kami tunangkan engkau dengan anak mereka. Ini tradisi nenek moyang kita. Mengikat anak-anak mereka dengan tali pertunangan.”
Auliya terdiam. Menatap wajahnya di depan cermin. Seperti ingin memastikan bahwa ini hanya mimpi.
“Sudahlah Auliya. Sebaiknya kita segera keluar. Cukup lama tamu kita menunggu!”
Diusap sekali lagi air mata yang menetes ke pipinya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa selama ini dirinya telah bertunangan. Jalannya gontai ketika meninggalkan kamar rias.
“Di ruang tengah telah banyak orang menanti kehadiran Auliya. Mereka duduk bersila di lantai beralas tikar. Ada tempat khusus di mana ayah Auliya duduk bersama beberapa orang lelaki berhadapan dengan seorang pemuda lengkap dengan stelan jas berkopiah hitam. Pemuda itu sedikit tersenyum ketika melihat kehadiran Auliya. Tampak terkesima seluruh yang hadir dengan penampilan Auliya. Berbusana kebaya dengan sanggul di rambutnya. Wajah muram tidak menutupi kecantikannya. Dia duduk tepat di samping kanan pemuda yang kelak akan menjadi suaminya.
“Bagaimana? Sudah siap?” Seorang lelaki yang berada di samping ayah Auliya mencoba memulai acara. Beberapa ritual pernikahan berjalan hingga selesai.
Kejadiannya teramat singkat. Menyisakan doa yang dipanjatkan oleh penghulu. Ini nyata. Bukan mimpi. Berkali-kali Auliya menyadarkan dirinya sendiri. Bahwa lelaki yang kini berada di sampingnya adalah suaminya. Senyum simpul dipaksakan oleh Auliya ketika ucapan selamat dari yang hadir diarahkan kepadanya.
Akhirnya pernikahan tanpa ikatan cinta itupun terjadi. Setegar apapun hati seseorang bila harus mengenyampingkan cinta sejatinya, maka sulit untuk bisa bertahan. Lalu takdir biasanya dirangkul sebagai pilihan akhir seseorang untuk melepas dirinya dari ketidakmampuan. Raga menjadi tumbal untuk dikorbankan. Namun jiwanya meronta terbang ke alam kebebasan. Begitulah yang kini terjadi pada diri Auliya. Raganya kini jadi milik orang lain. Tapi jiwanya tidak. Hatinya jatuh dalam pelukan Yazid.











21
 
MERANTAU

Hidup layaknya mata uang yang mempunyai dua sisi. Memilih antara ya atau tidak. Keduanya punya konsekwensi antara suka atau duka. Bila dua orang telah berikrar dalam ikatan perkawinan, maka hanya ada dua pilihan. Tetap bersama mengayuh biduk rumah tangga dengan segala riak gelombang di dalamnya. Atau memilih jalannya masing-masing.
Andai bisa memilih antara hidup menyendiri atau menikah. Mungkin Auliya lebih memilih hidup menyendiri. Belum hilang rasa letih sejak kedatangannya di Surabaya, ia sudah harus pergi ke Madura untuk bertemu sanak saudara dari pihak suami. Setelah itu ia kembali lagi ke Surabaya. Tubuhnya akhirnya terbaring lemah. Sakitnya kian diperparah oleh beban pikiran yang dialami. Mengapa ada pernikahan? Kenapa harus Haikal? Bukan Yazid? Bagaimana kabar Yazid saat ini?
“Makanlah sedikit Auliya, biar kau cepat sembuh.” Haikal mencoba membujuk Auliya yang enggan untuk sekedar makan.
Tubuh Auliya semakin lemah. Membuat Haikal beserta keluarga khawatir akan kondisi Auliya.
Berhari-hari Auliya dalam pembaringan. Entah sudah berapa rumah sakit yang dikunjungi, berapa orang pintar yang didatangi. Namun tidak kunjung sembuh sakitnya. Kemana akan dicari obat luka hati? Bila ada luka di salah satu anggota tubuh maka ada kemungkinan bagian tubuh yang lainnya tidak ikut merasakan derita. Tapi bila jiwa ini yang terluka maka bersiaplah untuk seluruh organ tubuh ikut merasakan deritanya.
“Ayah, Ibu, bagaimana cara kita untuk menyembuhkan Auliya? Menurut para dokter tidak ada penyakit yang diderita Auliya.”
“Kamipun tidak mengerti apa yang diderita Auliya.”
“Ada sesuatu yang ia pikirkan. Mungkinkah pernikahan ini?” Tanya Haikal kepada kedua orang tua Auliya.
“Memang kami yang salah. Kami tidak pernah cerita perihal pertunangan kalian kepada Auliya. Secepat ini pula kami nikahkan kalian tanpa pemberitahuan pula kepada Auliya. Kami berpikir hidup kalian seperti masa-masa kami dahulu. Hanya mengikuti kehendak orang tua. Padahal zaman telah berubah!” Sesal keluar dari mulut ibunya Auliya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Tinggal sesal yang tiada guna.
Jarum infus masih menempel di tangan Auliya. Sudah seminggu lamanya ia terbaring di rumah sakit. Tubuhnya kurus hanya berbalut tulang. Mulutnya membisu, diam, enggan untuk menerima semisal sebutir nasi. Pandangan matanya sayu, hambar menatap setiap wajah yang mencoba membujuknya untuk menerima sesuap nasi. Ia seperti berdemontrasi kepada semua orang. Raga bisa dipaksa tapi hati tidak. Bukankah membohongi perasaan sama dengan munafik? Dia tidak menyesal dengan apa yang telah terjadi. Namun ia hanya ingin mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk mencintai dan dicintai. Termasuk dirinya. Ini harga mati. Betapa Tuhan begitu menghargai arti cinta. Bukankah ada yang menjadi syuhada sebab cinta. Mari duduk bersama. Bebicara hak dan kewajiban. Dengan perasa bukan dengan ego. Sampai sejauh mana hak orang tua terhadap anak-anak putrinya? Menentukan calon suami juga hak prerogatif orang tua? Sejauh mana bakti anak kepada orang tua? Menyerahkan sepenuhnya pilihan calon suami kepada orang tua adalah sebagai bakti? Bukankah tujuan sebuah perkawinan lebih kepada untuk membahagiakan kedua mempelai? Sekarang siapa yang lebih mengetahui akan bahagia atau tidak sebuah perkawinan. Anak atau orang tua? Adakah perjalanan hidup menjadi jaminan bagi orang tua akan lebih mengetahui? Jika yang dijadikan ukuran jauhnya langkah dan pandangan. Bukankah boleh jadi anak lebih mengetahui?
Begitulah Auliya berargumentasi. Tidak untuk menyakiti hati orang tua. Lebih kepada mempertanyakan hak yang ia miliki. Apakah tidak boleh dirinya mencintai?.
“Auliya, ini aku Haikal. Anggap aku ini yang mewakili asa dalam dirimu. Mungkinkah akan datang sebuah pengharapan bila tidak ada mentari untuk esok? Berikan aku kesempatan untuk membahagiakan engkau. Mungkin ini teramat sulit bagimu. Tapi yakinlah bahwa aku dapat memahami apa yang engkau rasakan. Jangan engkau siksa dirimu demi ketidakadilan yang engkau dapat.” Haikal berusaha memberi semangat hidup seseorang di hadapannya yang saat ini telah menjadi istrinya. Auliya tetap diam seribu bahasa. Matanya enggan terbuka.
Dengan sabar Haikal mendampingi Auliya. Dia penuhi semua kebutuhan Auliya selama sakit. Tiada yang terlihat dalam jaganya Auliya, terkecuali ada Haikal di sisinya.
“Ibu .. !!!” Tiba-tiba terdengar suara dari Auliya. Pelan hampir tidak terdengar.
Haikal bangkit dari tempat duduknya. Setengah berlari menuju luar rumah. Terlihat ibunya Auliya di halaman rumah.
“Ibu, Auliya memanggil Ibu!”
Segera dihampiri Auliya. Matanya sedikit terbuka. Berusaha untuk dapat bicara dengan wanita yang berdiri di samping tempat tidurnya. Air mata tampak mengalir dari kelopak matanya.
“Ibu, aku minta maaf kepadamu. Aku terlalu egois. Enggan menerima kebaikan yang engkau berikan” Kata-katanya sedikit tertahan.
“Nak, engkau tidak bersalah. Ibu dan ayahmulah yang egois. Tidak pernah bertanya kepadamu mana yang terbaik untuk dirimu” Air matanya tidak dapat tertahan. Menyesali nasib yang menimpa anaknya.
“Sudahlah Bu. Kini aku ingin memulai hidup baru. Melupakan masa lalu. Biarlah yang lalu terkubur bersama mimpiku.”
Kian hari kondisi Auliya semakin membaik. Senyumnya sudah kembali bisa dinikmati oleh setiap orang yang datang menjenguknya. Kini ia menyadari, bahwa lari dari persoalan tidaklah menyelesaikan masalah. Ia harus tegak berdiri untuk kembali menjalani apa yang telah menjadi suratan takdir baginya.
Kurang lebih dua bulan lamanya Auliya bersama Haikal. Selama itu keduanya semakin mengenal kepribadiannya masing-masing. Haikal termasuk suami yang penuh perhatian. Diberikannya kasih sayang yang teramat tulus terhadap Auliya. Dia menyadari betul bahwa hati Auliya tidak mungkin bisa menerima dirinya dalam waktu dekat.
“Auliya, Kakak dapat menyadari apa yang ada dalam hatimu. Kita dipertemukan oleh keadaan. Bukan cinta yang menyatukan kita, tapi kedua orang tua. Walaupun kuakui ada cinta di hatiku sejak pertama kali aku melihatmu. Rasanya semua yang kuimpikan tentang wanita ada padamu. Lebih dari itu, hatimu bagaikan sutra. Engkau telan pil pahit pernikahan. Namun engkau tetap tegar. Dengan senyummu engkau sampaikan kebahagiaan pernikahan kita kepada orang lain. Engkau korbankan dirimu demi kebahagiaan orang tua. Sebagai balasan semua itu, aku berjanji atas nama Tuhan untuk tidak merengkuh tubuhmu bila hatimu belum kudapatkan.” Begitu perkataan Haikal yang pernah diungkapkannya suatu ketika.
“Kak, aku minta maaf padamu. Sampai detik ini aku belum bisa sempurna menjadi istrimu.”
“Perkawinan adalah dua hati untuk satu asa. Mengenyampingkan ego. Sepakat dalam satu biduk. Menerjang riak yang bergelombang. Itu bisa terjadi bila ada rasa cinta. Jangan hukum dirimu untuk mendatangkan paksa cintamu. Biarkan ia datang sendiri. Bila tetap harus menjauh. Itulah takdir.” Yazid selalu memberi semangat hidup untuk Auliya, istrinya.
Auliya ibarat bunga yang sedang mekar. Menarik perhatian setiap kumbang yang lewat. Saat-saat riang yang biasanya dimiliki oleh setiap gadis remaja. Kini tidak sepenuhnya lagi ia miliki. Oleh sebab ikatan perkawinan. Ada perasaan bersalah pada diri Haikal. Dia seperti telah memotong masa bahagia Auliya. Di satu sisi dia sadar bahwa dirinya sangat membutuhkan Auliya. Dia berharap Auliya sebagai tempat pelabuhan akhir cintanya. Maka dia berencana mencari peruntungan kembali ke negeri orang. Melepas sejenak kebersamaan dengan Auliya. Sambil memberi kesempatan kepada Auliya untuk merajut kembali masa remajanya. Menikmati masa indahnya belajar. Ketika rencana tersebut disampaikan. Betapa terkejut Auliya.
“Kak, bukankah kita bisa mencari peruntungan di negeri sendiri?” Tanya Auliya.
“Auliya, aku ingin kelak engkau tidak sekedar menjadi ibu rumah tangga. Engkau bisa gapai cita-citamu yang sejak lama engkau impikan. Untuk sementara waktu engkau tidak perlu disibukkan dengan keberadaanku. Aku pasti tidak lama di rantau. Setelah cukup dapatkan uang, aku segera akan kembali!”
“Apakah sudah Kakak pikirkan masak-masak tentang rencana itu?”
“Aku sudah diskusikan dengan keluargaku di Madura. Awalnya mereka juga keberatan dengan rencanaku. Tapi kemudian mereka sangat memahami keinginanku ini.”
“Apakah orang tuaku juga sudah mengetahui rencana Kakak ini?”
“Nanti bersamamu aku ingin membicarakannya!”
Siang telah berganti malam. Ayah Auliya telah kembali setelah seharian bekerja di toko jamunya. Segera Auliya dan Yazid menuju ruang tengah di mana Ayah dan ibunya berada.
“Bagaimana keadaanmu Auliya? Sudah semakin baik?”
“Alhamdulilah Ayah, keadaanku semakin membaik!”
“Syukurlah jika begitu. Kami turut bergembira”.
“Ayah, Ibu .. !” Haikal diam sebentar. Tampak ragu untuk meneruskan maksud pembicaraannya. Ia melirik ke arah Auliya.
“Ada apa Haikal? Sepertinya ada sesuatu yang ingin engkau sampaikan?”
“Begini Bu ..” Auliya mencoba menyampaikan keinginan Haikal.
“Ada keinginan Kak Haikal merantau kembali ke negeri Malaysia!”
Kedua orang tua Auliya sempat tertegun mendengar ucapan Auliya. Suasana hening sebentar. Haikal sedikit menunduk. Khawatir bila ucapan Auliya menyinggung perasaan kedua orang tua Auliya.
“Apakah benar apa yang telah diungkapkan oleh Auliya, Haikal?” Tanya ayah Auliya memecah keheningan.
“Benar Ayah. Saya sudah pikirkan masak-masak keinginan saya untuk kembali ke Malaysia. Mencari peruntungan demi kehidupan kami ke depan”
“Haikal, apa yang engkau inginkan? Bila butuh modal untuk usahamu, ayah dapat bantu. Ayah cukup mempunyai tabungan teruntuk kalian!”
“Terima kasih Ayah. Biarlah saya menjadi lelaki seperti Ayah. Dapat membahagiakan Auliya, istri saya dengan tangan saya sendiri. Sebagai tanggung jawab saya sebagai suami. Saya berharap suatu saat dapat memberikan sebuah rumah mungil buat kami berdua. Itu dari keringat saya sendiri. Terlebih kami masih teramat muda. Masih banyak waktu untuk mengejar mimpi-mimpi kami yang sempat tertinggal. Saya berharap Auliya dapat kuliah, meneruskan cita-citanya yang sempat putus. Bila ia telah dewasa dengan ilmu pengetahuan. Bukankah itu keuntungan bagi saya sebagai suami?”
Kedua orang tua Auliya hanya terdiam mendengar alasan Haikal yang ingin kembali ke negeri Malaysia. Meninggalkan sementara Auliya.
“Haikal, engkau bisa usaha di sini. Sementara Auliya dapat melanjutkan kuliahnya!” Ibu Auliya mencoba mencari jalan tengah.
“Ibu, saya ingin Auliya kuliah tidak hanya untuk mengisi waktu kosong. Saya ingin ia serius dalam kuliahnya. Tidak disibukkan sementara waktu dengan urusan keluarga. Jika saya tidak di sini, ia total dapat berkonsentrasi dengan kuliahnya.”
Suasana kembali hening. Masing-masing sibuk berpikir mencari jalan keluar yang terbaik.
“Baiklah, kami orang tua tidak berhak memutuskan apa yang menjadi pilihan kalian. Kami hanya sebatas memberi saran. Kalian yang menentukan mana yang terbaik buat kehidupan kalian berdua. Bila ini menjadi kebahagiaan kalian berdua. Kami sebagai orang tua hanya dapat mengiringi doa kemanapun kalian melangkah!”
Haikal terlihat sumringah. Bahagia mendengar izin dari kedua orang tua Auliya. Ia melirik Auliya yang tampak tersenyum. Senyum bahagia atau …?.       
Sungguh mulia hati Haikal. Dia korbankan saat-saat bahagia sebuah mahligai perkawinan yang seharusnya ia miliki. Demi kebahagiaan Auliya. Dia tatap wajah Auliya yang telah tertidur pulas. Wajah cantik bernasib malang. Tubuhnya masih tampak kurus. Derita Auliya baginya lebih banyak disebabkan oleh dirinya. Biarlah ia pergi untuk sementara waktu. Berharap cinta akan datang seiring berlalunya waktu.
Waktu keberangkatan Haikal telah tiba. Di bandara Juanda, Surabaya, Auliya bersama keluarga mengantar kepergian Haikal. Sesaat sebelum perpisahaan, agak lama Haikal memegang jemari Auliya.
“Auliya, jaga kesehatanmu. Berbahagialah engkau dalam belajarmu. Engkau wanita terbaik bagiku. Kuizinkan engkau untuk melangkahkan kakimu ke mana engkau suka. Aku pasti akan kembali menemuimu. Hanya doa darimu yang kuharap.”
Wajah Auliya tertunduk. Tiada kata yang terucap selain butir air mata yang keluar dari kelopak matanya. Rasa sesal tiba-tiba hadir dalam jiwa. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Apakah ini yang terbaik untuk dirinya dan Haikal? Andai saja ia bersikap untuk mencegah kepergian Haikal, pasti Haikal tidak akan pergi meninggalkannya. Dirinya seperti sengaja membiarkan Haikal pergi. Mengapa? Apakah karena tidak ada rasa cinta? Mengapa ketika Haikal ingin pergi dari hadapannya dirinya merasa kehilangan? Perasaan apakah ini? Apakah karena Haikal kini telah menjadi suami baginya? Jika benar Haikal telah menjadi suaminya, mengapa dirinya selama ini belum dapat menerima kehadiran Haikal? Apakah karena Yazid? Ah, betapa berdosa dirinya. Menghukum Haikal demi menjaga perasaan cintanya kepada Yazid. Perasaannya bergejolak, antara rasa bersalah dan kasihan. Dirinya seperti tidak berani menatap wajah Haikal. Tangan kanannya tidak henti menyapu air matanya dengan tissue.  
“Hari ini aku merasa sebagai orang yang paling bahagia di dunia. Karena ada air mata teruntukku dari orang yang paling aku cintai.”
Dia kecup kening Auliya sebagai tanda perpisahan. Sang waktu yang menjadi saksi itu semua. Dan waktu jua yang akan jadi saksi apakah ada atau tidak pertemuan di antara mereka kelak?
Auliya masih berdiri terpaku menatap kepergian Haikal. Sesekali wajahnya dipalingkan ke arah Auliya. Senyum simpul terbersit dari wajahnya. Berat terasa karena meninggalkan seseorang yang teramat dicintainya. Lambat laun tubuh Haikal tertelan di antara calon penumpang lainnya. Tiba-tiba tanpa sadar suara keras keluar dari mulutnya.
“Kak Haikal .. !!!” Suaranya mengeras mengagetkan kedua orang tua Auliya dan beberapa kerabat dari Madura. Auliya seakan ingin berlari mengejar Haikal. Mencegahnya agar mengurungkan kepergiannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Haikal benar-benar telah hilang dari pandangannya.
“Sudahlah Auliya. Jangan buat tangisanmu menjadi beban perjalanannya. Mari kita berdoa bersama-sama agar ia selamat dalam perjalanan dan diberi kesehatan di tempatnya bekerja!” Sang bunda menghibur Auliya sambil membawanya pergi kembali ke rumah.     














22
 
BERTEMU SAHABAT KARIB
Keberadaan sesuatu baru akan terasa bila telah tiada. Begitupun dengan kepergian Haikal. Menyisakan kegundahan di hati Auliya. Dia baru tersadar bahwa ada rasa kasihan serta cinta di hati Auliya. Hatinya luluh oleh kesabaran yang telah diberikan Haikal. Sungguh selama ini dia merasa berdosa. Dia egois. Membiarkan Haikal sendirian untuk kepentingan pribadinya. Mencintai orang lain yang semestinya ia lupakan.  
Dalam kegundahan yang menyelimuti jiwa Auliya.
“Auliya ...?”
Iya Bu...!!!”
“Keluarlah sebentar, ini ada temanmu!”
Segera Auliya bangkit dari kamarnya menuju luar rumah.
“Nuraini..??”
“Auliya..??”
Keduanya saling rangkul. Kerinduan masa SMA di pesantren terasa terobati dengan kehadiran Nuraini.
“Ajaklah temanmu masuk Auliya. Kasihan lama ia berdiri di luar rumah!”
“Mari Nur masuk!” Diajaknya Nuraini masuk.
“Sebaiknya kita ke kamar saja!” Rasa bahagia atas kehadiran Nuraini tidak dapat ditutupi dari raut wajah Auliya.
“Sebentar yah, aku ambil air minum dulu. Pasti engkau haus dalam perjalananmu!”
Nuraini hanya tersenyum kecut melihat perilaku Auliya. Ia masih seperti yang dahulu. Murah tersenyum kepada siapapun lawan bicaranya. Hanya saja yang membuat dirinya sedikit aneh adalah kondisi Auliya. Tubuhnya lebih kurus dibanding keadaannya sewaktu di pesantren.
“Silahkan Nur, minumlah dahulu!”  
 “Lama aku tunggu kabarmu, Auliya. Kenapa engkau tidak hadir di acara perpisahan sekolah kita? Oh iya, kamu tahu enggak informasi baru? Adelia jadi menikah dengan Lora Sa’id. Sekarang dia telah menjadi Ibu Nyai di pesantren. Itu berarti kita akan sulit untuk ketemu dia. Sedangkan Maemunah sekarang ini sudah ikut suaminya bertugas ke Irian Jaya!” Nuraini banyak cerita seputar teman-temannya yang sebagian besar tidak melanjutkan kuliahnya di pesantren. Auliya lebih banyak diam mendengar cerita Nuraini.
“Kamu sendiri kabarnya gimana Auliya? Tidak pernah aku dengar tentang kabarmu selepas dari pesantren.”
“Aku minta maaf tidak sempat memberitahukan kepergianku kepadamu.”
Auliya tersenyum kecut. Dia ceritakan sejak awal kepergiannya. Sampai kemudian tiba-tiba dinikahkan kepada laki-laki yang ia tidak kenal sebelumnya.
“Aku turut merasakan kepedihan di hatimu. Maksud kedatanganku kemari hanya ingin menyampaikan pesan surat Kak Yazid teruntukmu. Persis selang satu hari kepergianmu surat tersebut aku terima. Aku minta maaf, karena kesibukanku masuk perguruan tinggi, aku baru bisa memberikan kepadamu hari ini.”
“Oh, mengapa nama itu kembali hadir setelah sejak lama aku berusaha untuk melupakannya?” Auliya membatin.
Perlahan surat itu ia buka, lalu dibacanya.

Teruntuk,
Kekasihku Auliya
Betapa hati ini ingin bertemu engkau. Untuk menatap wajahmu hingga bosan. Namun, aku tidak ingin melihat engkau bersedih oleh karena nasib yang menimpaku.
Auliya sayang,
Selama ini aku bisa bertahan, itu karena ada dirimu di sini. Ketiadaan ayah dan ibu membuatku ingin selalu kembali ke Jakarta. Pamanku yang selalu mencegah. Dia ingin aku selesaikan kuliahku. Agar bisa menjadi kebanggaan keluarga kelak.
Baru saja aku terima telpon dari Jakarta. Mengabarkan bahwa pamanku sakit keras. Aku diharap segera pulang.
Auliya sayang,
Aku yakin, bahwa engkau tercipta untukku. Dan sebaliknya, akupun tercipta untukmu. Bila saat ini aku harus pergi. Bukan berarti akhir dari sebuah pertemuan. Tapi awal dari kerinduan. Engkau pernah mengatakan padaku, bila lulus sekolah kelak akan kuliah di Surabaya. Kuharap engkau tetap menungguku bila esok aku belum kembali. Ku yakin engkau pasti setia selalu. Teruntukku...
Kekasihmu,
Yazid

Setelah surat tersebut dibaca. Dia peluk tubuh Nuraini. “Mengapa ini terjadi padaku? Ia bawa sebuah pengharapan yang teramat sulit aku berikan!”
Perasaan cinta di hati bisa pindah setiap saat. Tapi sulit bagi cinta pertama. Yazid adalah cinta pertama Auliya. Terlalu banyak kenangan yang telah diberikannya. Sampai kemudian Haikal datang. Tidak hanya mengambil dirinya. Di hatinya pun kini ada benih cinta teruntuk Haikal. Satu hati untuk dua orang.
“Nur, apakah salah bila masih ada cinta di hatiku teruntuk kak Yazid?”
“Auliya, kita tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi. Yang terbaik adalah menerima kenyataan. Kak Yazid adalah bagian masa lalumu. Kini kau harus jalani apa yang ada di hadapanmu!”
”Bukannya aku tidak tahu jika ini tidak layak bagi seseorang yang sudah harus melupakan masa lalu. Tapi ini persoalan hati. Di mana ada perasaan yang teramat sulit untuk dihilangkan. Aku harus menerima takdir sebelum waktunya datang. Aku belum siap. Aku merasa sebagian hidupku masih ada pada kak Yazid. Dia telah membawanya pergi jauh bersama asa yang lama kuimpikan. Andai saat ini Kak Yazid dalam kebahagiaan. Tidak terlalu pedih hatiku karena harus melupakannya. Sepanjang hidupnya, dilalui dengan air mata kesedihan!”
“Auliya, kita hidup hanya bisa berandai. Tapi tali nasib yang membawa kita ke suatu tempat yang terkadang kita tidak ingini. Ada kalanya sebuah bintang akan jatuh masuk dalam pelukan kita. Apakah ada jaminan menjadi lagu di setiap pengantar tidur kita? Jauh di ujung sana sebuah rencana besar sudah menanti kita. Yakinlah itu yang terbaik bagi kita. Jangan ditangisi atau disesali. Berdoa pada Tuhan untuk diberi yang terindah!”
Sebuah pilihan yang teramat sulit dilakukan. Melepas seseorang di lautan pengharapan yang tak bertepian. Dan merangkul yang lain untuk bersama mengayuh bahtera. Sambil melihat ajal perlahan merenggut jiwa yang berada di hempasan dahsyat ombak kehidupan. Tangannya menggapai-gapai, mulutnya berteriak meminta selembar papan kasih sayang. Namun, sampan hanya cukup memuat dua orang. Lambat laun tubuh itu tenggelam. Menyisakan duka nestapa bagi yang melihat, mendengar dan merasakan.
“Auliya, aku saat ini kuliah bagian hukum. Aku ingin menjadi praktisi hukum. Biar bisa membantu orang lemah. Sebenarnya aku trauma mengingat musibah yang menimpa keluargaku. Ayahku ditangkap polisi karena dituduh telah menjual tanah milik almarhumah kakekku. Untunglah hanya seminggu di penjara. Seorang pengacara membantu menangani kasus sengketa tanah antara ayahku dengan pengusaha swalayan. Akhirnya ada kesepakatan di antara kedua belah pihak. Kami diberi kompensasi atas tanah yang dahulu milik almarhum kakek. Dari situ sekarang ini aku bisa kuliah. Ada baiknya engkau kuliah Auliya. Engkau bisa memilih fakultas mana yang engkau ingini. Biar perlahan bisa melupakan kenangan bersama kak Yazid!” Bujuk Nuraini.
“Nur, akupun berpikir demikian. Membangun hidup baru bersama Kak Haikal. Melupakan segenap sisa-sisa mimpi indah bersama Kak Yazid, meskipun itu sulit!”
Beruntung Nuraini hadir di saat yang tepat. Dia nyalakan kembali obor kehidupan yang hampir padam dalam diri Auliya. Diajaknya Auliya untuk kuliah di tempatnya.   

23
 
PAKET DARI JAKARTA

Kini Auliya telah disibukkan dengan aktivitas kuliahnya. Suasana baru, serta teman baru, membuatnya melupakan sejenak kejadian selama ini ia alami. Terkadang ketika sendiri, masih terbayang wajah Yazid. Tapi bayangan keluh Haikal bekerja di negeri orang langsung menghapus bayang-bayang Yazid. Terlebih, sudah dua kali Haikal mengirimkan uang teruntuk Auliya. Sebagian dipergunakan untuk keperluannya sehari-hari, sebagian lagi dia tabungkan.
Belum lama Haikal mengirimkan surat, mengabarkan perihal dirinya dan menanyakan kabar Auliya beserta keluarga di Indonesia. Dia juga sempat memberitahukan bahwa dirinya pada hari raya kali ini untuk sementara waktu tidak pulang. Kemungkinan hari raya tahun depan ia baru bisa kembali, sekaligus menyudahi pekerjaannya di Malaysia. Karena saat itu, dia sudah merasa cukup bisa mengumpulkan uang untuk membuka usaha di Surabaya.
Dia balas surat Haikal dengan segenap gairah. Memastikan bahwa cintanya kini telah benar-benar bersemi teruntuk Haikal. Tidak ada lagi aral. Tidak ada lagi tabir. Tidak pula kebohongan. Cinta memang butuh kepastian. Tidak boleh dipaksakan. Ia bisa datang saat pagi menjelang. Dia juga dapat hadir saat hayat berakhir. Cinta butuh waktu. Di ruang tanpa batas itulah cinta memuai. Apakah menggumpal menjadi kebutuhan atau keinginan. Bila berujung kepada kebutuhan akan kasih sayang maka katakanlah itu sebagai cinta. Sekarang cinta telah bersemi dalam jiwa Auliya. Menyatu dalam aliran darahnya. Hangat di setiap desah napasnya. Hanyut dalam perasaannya. Terpompa lewat detak jantungnya. Dia berharap Haikal akan segera datang. Dia tidak akan pernah menjadi penghalang kuliahnya. Dia malah akan menjadi penghalang kuliahnya ketika dirinya tidak berada di sampingnya. Dia butuh Haikal sebagai penyemangat hidupnya. Tidak esok. Tidak juga lusa. Tapi saat ini. Segera jangan sampai tertunda.    
Akhir Oktober, mentari terasa tidak bersahabat kepada semua orang. Auliya bergegas keluar dari mobil angkot yang ditumpanginya. Dia usap keringat yang ada di wajahnya dengan sapu tangan. Kebetulan hari ini mata kuliah cuma sampai setengah hari.
Diketuk pintu rumah. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Seperti biasa, dicium tangan ibunya. Sesampai di kamarnya, dia melihat sesuatu terbungkus rapi.
“Ibu, ini dari siapa?” Tanya Auliya.
“Oh iya, tadi pagi pak Pos datang memberikannya kepada Ibu. Sepertinya dari Jakarta.”
Auliya diam sejenak. Dia mencoba menerka siapa pengirim barang yang hanya mencantumkan alamat pengirim. Lama ia termangu.
“Mungkinkah Kak Yazid?” Dadanya terasa bergetar. Dilepas kertas yang menutupi seluruh isi paket. Matanya tertuju pada sebuah benda yang ternyata berupa diary. Tertera nama Yazid, lengkap dengan alamat rumah.
“Mengapa Kak Yazid mengirim diary ini teruntukku?” Matanya tidak berkedip menatap diary yang ada di hadapannya. Hatinya semakin diliputi oleh perasaan yang tidak menentu. Tangannya mulai membuka lembar demi lembar.

3 Januari ‘02
Bibirnya mungil. Bulu matanya lentik. Pipinya lesung. Kulit tubuhnya putih. Menyatu dalam keindahan senyum yang ditawarkan.
Aku minta maaf pada kalian. Pada gunung yang menjulang di sisi kananku. Pada lautan yang membentang sepanjang perjalananku. Pada-Mu Tuhan yang telah menciptakanku. Hatiku telah terisi olehnya.
Bila sampai detik ini tiada yang teringat selain dirinya. Maka salahkan pertemuan itu!
Asrama


15 Januari ‘02
Aku tak sabar untuk sekedar mengetahui kabar darinya. Sedetik bagai seribu tahun. Aku tersiksa oleh bayang-bayangnya.
Aku tulis. Lalu aku baca. Kemudian kubuang. Aku tulis kembali. Entah sudah berapa kata yang kurangkai. Andai surat itu bisa kembali lagi. Akan kuganti kata-katanya dengan yang lebih baik.
Apakah ada senyum dari bibirnya? Atau sumpah serapah?
Asrama

22 Januari ‘02
Saat ini terasa tubuhku melayang, menggapai bintang-bintang di langit. Dia kabarkan dirinya. Tidak hanya itu, dia juga bertanya tentang kabarku. Dia berharap doa dariku. Karena hari-harinya kini disibukkan dengan persiapan ujian akhir sekolah.
Kubaca suratnya berulang kali. Kusimpan rapi. Dan kubuka di saat menjelang tidurku.
Asrama

12 Februari ‘02
Aku katakan ia sebagai teman. Tapi mengapa hatiku menangis? Berulang kali namanya disebut. Namun kenapa aku yang merasa kehilangan?
Mulut bisa berbohong. Tangan bisa menolak. Pandangan mata juga bisa menipu. Hati yang tidak bisa ingkar. Bahwa ada sesuatu.
Kukirim pesan teruntuknya: Jaga kesehatan!
Asrama

27 Februari ‘02
Masih gelisah terasa hati. Ada kabar ia sakit. Aku hanya termangu, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tidak pernah bisa kudengar suaranya setiap kali kuhubungi lewat telpon. Aku sampaikan salam derita teruntuknya. Dan aku bawakan sepotong cokelat yang aku ambil dari rembulan.
Semoga dikau cepat sembuh. Membawa senyum teruntuk kita semua.
Asrama

5 Maret ‘02
Kuingin dunia tahu. Sekuntum bunga terkirim teruntukku. Indah, dibalut warna yang mempesona, menggambarkan kecantikan wajah pengirimnya.
Terlalu sulit mataku terlelap. Senyum selalu hadir mengiringiku pergi ke alam mimpi.
Selamat tidur… sayang!
Asrama

13 Maret ‘02
Dunia boleh berubah. Tapi tradisi tidak boleh tersentuh oleh zaman.
Maaf bila ketidakbolehan perjumpaan antar laki-laki dan perempuan aku katakan sebagi sebuah tradisi. Apalagi sebuah surat yang hanya berisikan kata-kata.
Jika dikatakan untuk mencegah terjadinya perzinahan. Bukankah lebih naif bila harus menghalangi cinta yang merupakan anugerah Ilahi? Jika dikatakan mengganggu masa belajar. Bukankah lebih mengganggu jika harus bercinta dengan sesama jenis?
Aku dan dia telah dihukum oleh aturan yang tujuannya tidak aku mengerti: “Dilarang bersua lewat surat!”
Asrama

21 Maret ‘02
Nyala obor dalam jiwaku teramat besar. Hanya takdir yang mungkin bisa memadamkannya. Aku telah terbawa arus kasih sayangnya. Jiwaku hilang dari alam sadar.
Biarlah mata ini buta, kuping ini tuli, juga mulut ini bungkam seribu bahasa. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Toh, dia tetap di sisiku. Menuntunku mengecap aroma bahagia. Bersamanya.
Asrama

1 April ‘02
Aku tenggelam dalam lautan cinta. Tubuhku basah oleh bayang-bayangnya. Aku meronta. Berusaha untuk lepas. Namun selalu gagal.
Aku tidak mengerti. Mengapa setiap kidung yang kudendang terkirim teruntuknya? Mengapa acap kali angin lewat, aku harap kabar darinya?
Sungguh, kini ia telah menjadi setan yang kurindu. Mengganggu, tapi kehadirannya kutunggu.
Belum lama aku kirimkan sepucuk surat teruntuknya. Aku menghamba. Mengharap cinta darinya. Bila hatinya tidak sudi. Kemana akan kubawa jiwa ini?
Asrama

15 April ‘02
Duhai, bagai tersiram hujan saat penantian panjang musim kemarau. Doaku terkabul. Mimpiku jadi kenyataan. Setelah lama jiwa ini terkatung dalam ketidakpastian sebuah pengharapan. Akhirnya hatinya berlabuh. Merapat di dermaga penantianku.
Sayangku, marilah kita tanam hamparan ladang cinta kita. Ditebar dengan benih kasih sayang. Kita rawat bersama dengan senyum serta saling pengertian. Jangan lupa untuk ditabur dengan pupuk doa. Semoga kelak menghasilkan buah cinta abadi. Cinta yang tidak lekang oleh waktu. Tidak rapuh karena tempat.
Asrama



2 Mei ‘02
Lihatlah rembulan. Dia telah menjadi milik kami berdua. Enyahlah kalian semua. Biarkan kami berdua menikmati malam-malam kami.
Aku berbisik pada angin. Jangan balut tubuhnya hingga ia menggigil kedinginan. Aku titip salam pada mentari. Esok jangan sakiti kulit tubuhnya. Jika itu terjadi, maka akan menyinggung perasaanku. Biarkan aku berbahagia dengannya.
Asrama

9 Mei ‘02
Dahulu aku sangat takut pada sepi. Kini ia telah menjadi temanku. Karena di sana aku bertemu dengan kekasihku, bercumbu dan berbagi.
Namanya bagaikan jimat. Kusebut setiap saat. Dan kutulis di setiap tempat. Bila ditanya tempat mana yang paling aku suka? Di alam khayal tempatnya. Aku bisa terbang ke rembulan bersamanya. Aku arungi lautan luas dengannya. Di manapun. Kapanpun. Yang terpenting dia di sisiku.
Asrama


18 Mei ‘02
Inikah yang disebut cinta? Hanya perasa yang bicara. Tersimpan dalam jiwa. Mengedepankan setia. Akan terluka oleh dusta.
Aku dan dia. Dia dan aku.
Aku berbicara atas namanya. Dia bernapas dengan ronggaku. Maaf bila banyak yang terluka. Karena dia milikku.
Asrama

29 Mei ‘02
Aku takut akan perpisahan. Walau itu hanya masalah tempat. Aku yakin itu pasti akan terjadi. Dia akan kuliah di Surabaya.
Semakin hari perpisahan itu kian dekat. Meskipun dia berjanji akan selalu setia.
Sungguh, hari itu teramat menakutkan bagiku. Menghantui saat jelang tidurku.
Asrama

4 Juni ‘02
Ini hari bahagia kami. Bertahta pualam. Berhias manik-manik mutiara. Bersulam sutera.
Titah paduka ternoda. Hilang untuk dirasa. Sabdanya pelengkap tawa suka cita. Tersusun tangga nada masuk dalam telinga. Menari-nari riang gembira. Di atas pentas tepat di hadapan kami berdua.
Di sini. Di tempat ini. Kuikrar setia atas nama cinta.
Asrama

18 Juni ‘02
Aku berharap akan bertemu kekasihku tercinta. Di saat ia akan meninggalkanku. Aku akan pandang wajahnya hingga puas. Sejuta kata setia akan kuikrar di hadapannya. Biarlah tubuhnya diambil waktu.
Pasti sang waktu jua yang akan mengembalikannya teruntukku.
Asrama

21 Juni ‘02
Hidup berarti mendaki lautan waktu. Di tangga mana kapan akan terhenti, kita tidak mungkin dapat mengetahui.
Sejak pertama kali kuinjakkan kaki di atas hamparan hari, bulan, serta tahun. Terasa berat beban di pundak. Aku terengah oleh persoalan-persoalan yang silih berganti. Aku mengumpat pada keadaan. Baru saja kugandeng tangannya. Mengecup aroma mewangi bunga-bunga cinta. Mengapa kini ingin dirampas oleh keadaan?
Sapu tangan akan kulambaikan kala tubuh ini menjauh. Barangkali ada yang melihat dan menyampaikan detik-detik kepergianku.
Sayangku, daku pasti kembali kepadamu. Untuk membawa segenap derita hidup yang tiada seorangpun dapat menyembuhkan selain dirimu.
Asrama




22 Juni ‘02
Tadi siang aku tiba di Jakarta. Disambut dengan linangan air mata kesedihan. Aku baru menyadari bahwa pamanku telah pergi untuk selamanya. Selama ini dibalik senyumnya ternyata terdapat penyakit yang tak pernah diceritakannya padaku. Bibi baru bercerita setelah aku desak tentang penyakit paman. Ternyata sakitnya disebabkan bekas pukulan orang-orang yang pernah menyiksanya dahulu.
Kini, orang-orang yang paling kami kasihi telah tiada. Menyisakan derita panjang yang akan kami lalui. Karena beliau, kami di sini bisa tersenyum. Beliau tidak hanya telah menjadi pahlawan bagi istri dan anak-anaknya. Demikian pula bagiku.
Aku panjatkan doa di pusara paman. Teruntuknya, ayah beserta ibuku yang telah mendahuluinya. Aku berjanji akan menjaga istrinya sebagaimana ibuku sendiri. Dan menyanyangi anaknya, seperti adikku sendiri.
Jakarta.

29 Juni ‘02
Seminggu di Jakarta. Aku seperti berada di sebuah persimpangan. Antara maju, bergelut melawan keadaan. Atau mundur, pasrah, lalu mati perlahan.
Bagiku, masalah adalah bagian dari konsekwensi hidup. Tapi menjalaninya yang terkadang membuatku menangis dalam sepi. Aku bingung harus berbuat apa. Tiada terpikir bagaimana esok, terlebih lusa. Yang ada dalam benak adalah hari ini.
Aku langkahkan kaki menyusuri lorong kota Jakarta. Panas terik matahari, asap knalpot, menjadi teman setia. Sementara selembar map, kuapit dengan tangan kiri. Lelah terasa. Tubuhku bermandikan keringat.
Jauh kuberjalan. Aku menepi di setiap pintu yang bisa kuharap. Namun tiada yang dapat membuat hatiku berbunga, selain pasrah menyimpan kata-kata dalam hati : “Tidak ada lowongan!”
Jakarta.

31 Juli ‘02
Kini aku mengetahui. Mengapa banyak senyum yang hilang dari kita. Banyak jiwa yang harus kembali karena jerat tali di leher. Banyak pula adat dan keyakinan yang hilang. Tidak sedikit kekasih yang saling mencintai, namun tidak bisa memiliki. Oleh karena keadaan yang menyebabkan itu semua.
Jiwaku dipenuhi perasaan gundah. Sampai dengan sebulan lamanya di Jakarta. Belum aku dapatkan tempat bersandar teruntuk keberlangsungan hidupku, bibi, serta anak-anaknya.
Kemana akan kucari sesuap nasi di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi?
Jakarta.

15 Sep. ‘02
Waktu terus berjalan. Menyisakan hari-hari tanpa kepastian. Aku telah berlari ke barat, timur, selatan, dan utara kota Jakarta. Belum juga kutemukan apa yang menjadi harapanku.
Aku sangat yakin bahwa jika ada yang tercipta, maka ada yang menciptakan. Akupun yakin, bila di sini tertanam kebaikan, maka ada bahagia yang akan dipetik di sana. Yang aku belum yakin adalah soal sesuap nasi. Apakah juga telah tercipta sebelumnya teruntuk kita semua?
Aku tersadar ketika diingatkan oleh kematian. Tapi kala aku melihat diriku hari ini, menyaksikan derita orang-orang yang kusayangi saat ini, maka aku protes pada Tuhan dalam doaku.
Jakarta.

31 Agustus ‘02
Teruntuk,
Auliya
Aku bagai jasad tak bernyawa. Tidak mampu untuk berlari, terlebih memberi. Aku hanya bisa bersua lewat diary ini.
Auliya, kuharap engkau diselimuti rasa bahagia dalam menjalani hari-harimu. Bila sampai detik ini tak ada kabar yang bisa kuberikan, maka umpatlah keadaan. Namun ketahuilah, tidak sedikitpun cintaku berkurang padamu. Namamu terpatri dalam sanubariku. Sebab ada benih kasih sayang yang pernah kita tanam bersama di masa lalu.
Kini, aku telah menjadi seorang pemarah, pendendam, pendengki. Aku persalahkan mereka yang berkuasa. Aku maki mereka yang katanya punya agama. Mengapa ada derita pada sebagian orang. Sementara ada tawa di sebagian yang lain?.
Jakarta.

9 Sep. ‘02
Teruntuk,
Auliya
Auliya, adakah aku di ujung bibirmu? Terlipat dalam sanubarimu? Menggumpal menjadi air mata rindu?.
Auliya, tubuhku tenggelam. Aku menggigil dalam keputusasaan. Raihlah tanganku. Peluk tubuhku. Meskipun sebatas doa.
Jakarta.


20 Sep. ‘02
Teruntuk,
Auliya
Telah banyak usiaku dimakan waktu. Hanya harap yang bisa menghiburku. Semakin hari terasa jauh jarak di antara kita. Bukankah uang yang bisa mendekatkan yang jauh? Bukankah uang pula yang bisa mencipta khayal menjadi nyata?
Aku bersimpuh pasrah dalam doa. Mengharap suatu ketika, ada hari yang mempertemukan kita. Bukankah terkadang masih ada keajaiban? Semoga.
Jakarta.


29 Sep. ‘02
Sungguh ini sebuah keajaiban. Ikatan derita yang melilit di sekujur tubuh terasa lepas. Ada secercah harapan di depanku. Aku menangis oleh haru yang masuk ke seluruh tubuh.
Hari ini aku bisa tersenyum. Senyum yang timbul bukan karena ada paksa. Setelah sekian lama aku berkubang dalam derita lumpur pengangguran.
Yang membuat hatiku teramat berbunga, bukan sebatas aku bisa mulai bekerja. Lebih dari itu, aku akan segera bertemu kekasihku. Di Surabaya, aku ditempatkan sebagai reporter sebuah koran harian Ibu Kota.
Jakarta.

7 Oktober ‘02
Esok, saat mentari pagi menyapa. Saat setiap orang Jakarta disibukkan oleh urusannya masing-masing. Aku sudah harus berangkat ke stasiun kereta api Senen.
Surabaya, kota kedua yang selalu ada di hatiku. Aku berterima kasih padanya. Karenanya, kekasihku bisa berpijak. Kini, Surabaya bukan hanya akan menjadi tempatku berpijak. Dia akan menjadi saksi bertemunya kembali cinta yang telah lama dipisah oleh waktu dan tempat.
Jakarta.

8 Oktober ‘02
Entah mengapa, kuingin lukis perasaan hati dalam diary.
Angin sore menyapa lembut wajahku. Sementara dari barat memancar sinar mentari, mengenai sebagian gerbang kereta api yang datang dan pergi.
Kujabat tangan Kang Anwar beberapa kali. Tanda terimaksih. Tanda sama-sama ucap selamat menuju tanah pengharapan. Bagiku hidup adalah di ujung waktu. Bila sampai waktu. Maka bukan berarti berakhir. Tapi ada kehidupan baru untuk sampai di ujung waktu yang lain. Esok adalah penghidupanku. Sebab di situ kuberada bersama kekasihku tercinta.
Detik-detik bahagia kian dekat. Kuingin kereta api segera datang menjemput. Akan kuucap “Selamat tinggal Jakarta dan selamat datang Surabaya!”
Stasiun Senen

Demikian akhir tulisan Yazid. Tidak kuasa Auliya menahan air mata.
“Kak, aku tahu betapa teramat besar cintamu padaku. Engkau jalani hari-hari beratmu bersama bayangku. Tanpa engkau kirim diarymu pun, aku tidak sanksi akan cintamu padaku. Namun, aku hanya seorang manusia yang terkadang harus mengalah demi keadaan. Kini engkau mendekatiku saat aku harus menjauh darimu.” Lama Auliya termangu dalam kesendirian.
“Ada apa Auliya?”
“Oh, tidak ada apa-apa Bu!” Auliya mencoba berusaha menyembunyikan masalahnya kepada ibunya.
“Pasti ada sesuatu yang engkau sembunyikan. Engkau tidak bisa berbohong dari ibu. Apakah karena kiriman paket itu? Auliya jujurlah kepada ibu. Seorang ibu punya naluri untuk mengetahui kebahagiaan maupun kesedihan yang menimpa anaknya. Ibu memang memperhatikan perubahan pada dirimu sejak temanmu, Nuraini, datang ke rumah kita. Ada apa Auliya? Berbagi ceritalah kepada ibu!”
Auliya tertunduk. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Isak tangis mengiringi kata-kata yang terucap dari bibirnya.
“Aku minta maaf pada ibu bila selama ini aku enggan untuk bercerita tentang masalah ini kepada ibu dan ayah. Tapi percayalah bu, aku akan menyelesaikan dan segera melupakan masalah ini. Sebelum kak Haikal datang, sebenarnya ada seseorang, namanya Kak Yazid, yang teramat mencintaiku. Sebenarnya lambat laun aku dapat melupakan Kak Yazid. Aku dapat menerima Kak Haikal dengan sepenuh hatiku. Persoalannya Kak Yazid belum tahu jika keadaanku saat ini telah menjadi milik orang lain. Bu, percayalah, aku masih mempunyai iman serta perasaan. Tidak mungkin aku menciderai Kak Haikal yang sudah banyak mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaanku. Oleh karenanya aku hanya ingin bertemu Kak Yazid untuk menyampaikan kabar tentang diriku. Biar tak ada pengharapan lagi teruntuknya. Melupakanku dari ingatannya!”
Tidak ada kata yang terucap dari mulut sang ibu. Hanya dekapan yang diberikan kepada Auliya. Selama ini dirinya hanya melihat Auliya dari sisi dirinya sendiri. Mengorbankan jiwa Auliya yang menyendiri dalam sepi. Sungguh, betapa besar pengorbanan perasaan yang telah ia berikan. Meninggalkan seseorang yang teramat dicintainya. Sakitnya sebagai bentuk protes. Hanya bagi orang yang berjiwa besar yang dapat merelakan masa lalu dan menghadapi masa kini dengan senyum ceria. Dia begitu memahami apa yang sedang terjadi pada diri Auliya. Dia bersyukur, Auliya bersikap dewasa melihat kenyataan yang ada.
Pagi yang cerah. Tidak teruntuk Auliya. Hampir semalaman matanya tidak terpejam. Bayang-bayang Yazid selalu hadir di pelupuk matanya. Setelah tiba di kampus, Auliya langsung menemui Nuraini. Dia berikan diary Yazid untuk dibaca Nuraini.
“Nur, Kak Yazid mengirimkan diarynya padaku. Sepertinya ia ingin mengatakan bahwa hanya aku yang ada dalam hatinya. Yang membuat jiwaku dalam kebimbangan adalah kehadirannya di Surabaya. Walaupun hatiku sampai saat ini masih ada namanya, namun kenyataan yang mengharuskan aku menolak kehadiran dirinya. Nur, bagaimana aku harus berbuat?”
“Menurutku, Kak Yazid adalah orang yang baik. Cintanya beralaskan kasih sayang, bukan nafsu semata. Dia pasti akan menerima kenyataan ini demi kebahagiaan dirimu!”
“Jika demikian, aku harap bisa secepatnya bertemu. Semoga ia bisa menerima ini semua sebagai takdir Tuhan!”
Hari-hari Auliya dipenuhi penantian. Sebelum berangkat kuliah, ia selalu berpesan kepada ayah dan ibunya, bila ada seseorang mencarinya, agar sudi kiranya menunggu kedatangannya.
Seminggu lamanya penantian. Tiada kunjung datang orang yang ditunggu. Entah sudah berapa penerbit koran beserta majalah yang ia datangi. Bersamanya Nuraini menyusuri berbagai tempat yang kemungkinan ada Yazid.
“Nur, mataku terasa sayu oleh panjangnya penantian. Kakiku terasa lelah oleh jauhnya perjalanan. Kak Yazid bagai teka-teki hidup yang teramat sulit kupecahkan. Mengapa ia datang jika hanya untuk menjauh. Aku hanya ingin tutup genderang cinta yang selalu ia tabuh, dan mengibarkan setinggi-tingginya bendera kasih sayang. Aku akan selalu mimpi buruk bila masih ada waktu dan tempat yang menghalangiku untuk sekedar bertemu. Esok adalah awal Ramadhan. Bila sampai hari raya tidak juga aku dapat bertemu dengannya, maka sudi kiranya engkau menemaniku ke Jakarta. Hanya satu yang ingin aku sampaikan padanya: Relakan aku untuk dimiliki orang lain!”    
  

   




24
 
PULANG

Hari raya telah tiba. Saat setiap orang bisa berbagi dengan sanak saudara. Sudah tradisi jika menjelang hari raya semua keluarga yang di rantau kembali untuk sekedar berkumpul, berbagi cerita tentang suka duka di rantau. Di malam hari Idul Fitri suara takbir bertalu di mana-mana. Anak-anak terlihat bergembira menyalakan kembang api. Sesekali mereka pasang petasan sebagai simbol kemeriahan. Dari yang tua sampai yang kecil bersuka cita dengan memakai baju baru. Menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Para ibu sibuk membuat makanan untuk dihidangkan. Yang dari rantau tidak lupa membeli oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Sebagai bukti kesuksesan mereka di rantau. Uang dihabiskan hanya untuk berbagi dengan keluarga. Setelah itu mereka kembali ke rantau. Berpeluh dengan keringat mencari uang untuk bekal kembali lagi di Idul Fitri yang akan datang. Budaya anak negeri yang terus terulang di setiap tahun.
Ritual dilanjutkan di pagi hari dengan berkumpul di masjid-masjid atau lapangan luas untuk shalat Ied bersama. Setelah itu bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak saudara. Meminta maaf atas segala salah yang telah diperbuat.
“Ayah, Ibu, aku ingin ke Jakarta bersama Nuraini. Biar tidak ada luka di hati seseorang. Agar aku dapat bahagia dengan kak Haikal seorang. Tidak lama aku di sana. Kemungkinan lusa aku sudah berada di Surabaya.”
”Auliya, kita akan bersama ke Madura, bersilaturahmi dengan keluarga Haikal di sana. Mungkin dapat mengurangi rasa rindu mereka atas Haikal yang masih di rantau.” Ibu Auliya mencoba menahan keinginan Auliya.
“Ibu, menyadarkan seseorang dari pengharapan yang berlebihan menurutku lebih baik. Sehingga ia dapat menggapai cinta yang lain. Aku merasa sangat berdosa oleh sebab meninggalkannya tanpa ada kata. Semakin hari, aku semakin mengerti akan arti kehidupan ini. Bahwa cinta tidak harus memiliki. Yakin, bahwa luka hari ini adalah bahagia untuk esok!”
Lama Auliya meyakinkan kedua orang tuanya. Dia berjanji, setelah bertemu akan segera kembali ke Surabaya. Kedua orangtuanya pada akhirnya memberikan izin untuk kepergian Auliya. Cukup kejadian yang menyebabkan Auliya sakit berkepanjangan menjadi pelajaran. Auliya sudah dapat mengerti mana yang terbaik untuk dirinya. Mereka meyakini keberangkatan Auliya ke Jakarta semata-mata karena perasaan cintanya yang teramat tulus teruntuk Haikal. Jika masih ada cinta orang lain disaat kesetiaan yang harus dimiliki, bukankah itu munafik?   
Stasiun kereta api Pasar Turi terasa sesak oleh para penumpang. Maklum saat dua hari setelah lebaran sudah banyak   para pemudik yang kembali ke Jakarta. Suasana tidak ubahnya di pasar ketika para penumpang saling berdesak memasuki gerbong kereta api. Semuanya berusaha mencari tempat duduknya masing-masing. Banyaknya barang bawaan membuat suasana dalam kereta teramat panas. Belum lagi para pedagang yang ikut berjejal dengan para penumpang. Kereta api kelas ekonomi, sebuah potret hidup orang-orang yang terpinggir dalam sebuah tempat yang dikhususkan bagi mereka.
Setelah semalaman berada di kereta. Sampailah Auliya dan Nuraini di stasiun Senen, Jakarta. Kemudian dilanjutkan dengan mengendarai bus menuju Pulogadung. Setelah bertanya dengan para penumpang yang berada di sekitar terminal, mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil angkot menuju ke arah timur. Beberapa kali keduanya bertanya alamat Yazid kepada orang yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Hatinya berdebar ketika memasuki sebuah rumah.
“Maaf, apakah betul ini kediaman Yazid?” Auliya bertanya kepada seorang ibu separuh baya yang berada di depan rumah.
Wanita itu hanya terdiam menatap wajah Auliya.
“Kami dari Surabaya, mencari alamat ini.” Auliya mencoba menjelaskan maksud tujuannya dengan menunjukkan alamat yang ia bawa.
“Apakah adik yang bernama Auliya?”
“Betul Bu, saya Auliya dan ini kawan saya, Nuraini namanya.”
Begitu selesai Auliya mengenalkan dirinya. Tiba-tiba wanita tersebut merangkul Auliya. Dia peluk Auliya erat sekali. Lama Auliya dalam pelukannya. Masih tersisa air mata ketika wanita tersebut mempersilahkan Auliya dan Nuraini masuk ke rumahnya.
Auliya dan Nuraini duduk di ruang tamu. Tidak jauh dari tempat duduknya terlihat gadis kecil berusia sekitar enam tahun bersama anak lelaki yang berusia sekitar tiga tahun. Keduanya tampak asyik bermain. Terkadang menoleh untuk melihat seseorang yang baru pertama kali dilihatnya. Wanita yang tidak lain bibinya Yazid masuk ke ruang dalam. Beberapa saat kembali dengan membawa gelas bersisi air minum.
“Minumlah dulu, adik berdua pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh.”
Diminum air yang disediakan. Belum sempat Auliya bertanya tentang Yazid, tuan rumah sudah terlebih dahulu memulai pembicaraan.
“Adik pasti sudah menduga bahwa saya adalah bibinya Yazid.” Senyum kecut keluar dari bibirnya ketika nama Yazid ia sebut.
“Tidak salah Yazid memilih kekasih. Adik cantik, sebagaimana pujian Yazid dalam diarynya.”
Lama wanita itu terdiam. Matanya menerawang jauh ke langit-langit rumah. Raut wajahnya terlihat mendahului usianya yang sesungguhnya. Dahinya mengerut mengingatkan sesuatu. Tiba-tiba butiran air mata jatuh membasahi pipinya.
“Bi, mengapa menangis?” Auliya mencoba bertanya alasan bibinya Yazid menangis.
“Auliya, jujur bila diary itu Bibi yang mengirimnya.” Auliya terkejut mendengar ucapan bibinya Yazid.
“Jadi bukan kak Yazid yang mengirim? Lalu di mana kak Yazid?”
Pandangan matanya kosong. Entah sudah berapa banyak air mata yang membasahi pipinya. Dengan suara yang tertahan, ia teruskan pembicaraannya.
“Dua bulan yang lalu. Tidak seperti biasanya. Wajah Yazid saat itu berseri-seri. Dicium tangan bibi. Dia menitikkan air mata ketika mengatakan bahwa derita yang kami alami segera akan berakhir. Dia mendapatkan pekerjaan yang selama ini ia cari. Rencananya ia akan ditempatkan di Surabaya.
Setelah waktu keberangkatan telah tiba. Jam dinding menunjukkan sekitar pukul sebelas siang. Menurut Yazid, kereta akan berangkat tepat pukul lima sore. Bibi hanya bisa mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah. Dia hanya minta doa dari Bibi, agar selalu sehat ketika berada di Surabaya. Dia cium Lailah berkali-kali. Dia berjanji kelak mengirim boneka cantik teruntuk Lailah. Tidak lupa ciuman teruntuk Ridho. Kami bergembira dibalik kesedihan sebab perpisahan. Kami tetap berdiri di depan pintu rumah. Menatap tubuh Yazid yang menghilang bersama rutinitas warga ibu kota lainnya.
Belum sampai kereta api ke Surabaya, ada rencana lain dari Tuhan teruntuk Yazid…”
Ucapannya terhenti sampai di situ. Mulutnya terasa berat untuk meneruskan kata-kata.
“Bi, apa yang terjadi dengan Kak Yazid???” Auliya sontak berdiri menghampiri.
Dia peluk Auliya yang berada di hadapannya. “Yazid menjadi korban tabrakan kereta api!”
Bibir Auliya bergetar. Tiada kata yang terlontar. Hanya air mata yang keluar dari kedua matanya. Nuraini yang ikut menyaksikan kejadian itu tidak kuasa menahan air mata,
“Beruntung Bibi masih sempat bertemu dengannya di rumah sakit. Saat kematian hampir menjemput. Yazid memberikan diarynya pada Bibi. Dia hanya memohon agar diarynya dikirimkan kepadamu”.
Dipapahnya Auliya menuju tempat duduknya semula.
“Sudahlah Auliya, Bibi dapat merasakan apa yang engkau rasakan.”
Setelah beberapa saat suasana rumah diliputi hening oleh kesedihan yang dirasakan ketiganya. Cerita kemudian dilanjutkan.
“Azan sholat isya baru saja berlalu. Saat itu Bibi menyusui Ridho sambil menonton televisi. Tiba-tiba Bibi dikejutkan dengan siaran langsung yang ada di televisi. Berita tentang tabrakan kereta api jurusan Jakarta Surabaya dengan kereta api yang berasal dari Surabaya. Kejadian tabrakan terjadi di daerah Cirebon. Diberitakan banyak penumpang yang menjadi korban dalam kecelakan itu. Tubuh Bibi terasa lemas saat mengingat Yazid. Terlebih kereta api yang dari Jakarta berangkat pada pukul lima sore. Naluri sebagai ibu membuat Bibi beranjak dari tempat duduk. Bibi gendong Ridho. Sementara Lailah mengikuti di belakang. Setengah berlari Bibi keluar rumah bermaksud memastikan berita tabrakan kereta api tersebut. Rasa cemas atas nasib Yazid membayangi sepanjang perjalanan menuju stasiun Senen. Bibi berharap kecelakan bukan pada kereta yang ditumpangi Yazid. Kalaupun itu, Bibi berharap akan keselamatan Yazid.
Bibi sampai di Stasiun Senen. Suasana haru tampak dari wajah-wajah yang menanti kepastian nasib sanak keluarganya yang menjadi korban dalam kecelakaan. Rasa cemas semakin bertambah ketika mengetahui bahwa musibah menimpa kereta yang membawa Yazid.
Bersama para keluarga korban lain Bibi diangkut dengan kereta api menuju lokasi kejadian. Kemudian kami menuju rumah sakit yang menampung para korban kecelakaan.
Jerit tangis pilu membahana di rumah sakit. Suasana rumah sakit gaduh. Para pengunjung setengah berlari ketika memasuki setiap ruang rumah sakit dengan rasa khawatir yang tampak di raut wajah mereka. Di setiap sudut ruang terlihat isak tangis orang-orang yang telah mengetahui kondisi keluarga mereka. Banyak orang-orang yang pingsan ketika melihat familinya dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Bibi menuntun Lailah sambil menggendong Ridho, berusaha mencari Yazid di antara orang-orang yang juga mencari sanak keluarganya. Beruntung beberapa saat kemudian Bibi dapat bertemu dengan Yazid. Kasihan Yazid. Entah sudah berapa lama ia terbaring sendiri menahan rasa sakit. Sekujur tubuhnya berlumur darah. Bibirnya meringis sebab luka parah yang dialami. Meskipun demikian, wajahnya terlihat gembira ketika bertemu Bibi. Sambil mendekap diary di tangan kanannya, dia minta maaf  karena tidak dapat membahagiakan Bibi, Lailah, dan Ridho. Dia memberikan diarynya pada Bibi. Memohon agar dikirimkan kepadamu. Hanya itu. Setelah itu ia tersenyum kepada kami sebagai tanda perpisahan untuk selamanya. Bibir Bibi terkatup diam. Belum dapat mempercayai dengan apa yang sedang terjadi. Lailah menangis tersedu menjambak tubuh Yazid. Sementara Ridho hanya terdiam merangkul dalam dekapan Bibi. Semua menyatu dalam duka ditinggal orang-orang yang dikasihi.”
Tubuh Auliya bersandar kepada Nuraini. Tangannya berpegang erat di tangan Nuraini. Seakan tiada daya untuk sekedar menegakkan kepala.
Senyum kecut terlontar dari bibirnya. Seperti juga Auliya yang belum percaya dengan apa yang menimpa Yazid. Meskipun kejadian itu telah berlangsung lama.
“Bibi tidak mengerti dengan apa itu konspirasi. Apakah ada relevansinya dengan kejadian yang menimpa Yazid. Yazid memang pernah cerita perihal perkenalannya dengan seorang aktivis mahasiswa yang sering berdemontrasi menentang rezim Orde Baru. Aktivis tersebut mencari tempat perlindungan di pesantren untuk lepas dari kejaran aparat keamanan. Berada satu kamar dengan Yazid. Dia merasa terinspirasi dengan perjuangan aktivis tersebut. Diapun katanya pernah diajak dalam pertemuan para pimpinan demonstran pada suatu tempat di Surabaya. Bibi pernah melihat komentar seorang politikus di televisi yang mengatakan bahwa kecelakaan kereta api jurusan Jakarta Surabaya bukan murni kelalaian manusia, tapi memang ada unsur kesengajaan. Dengan alasan bahwa terdapat banyak para aktivis yang juga menjadi penumpang kereta api tersebut. Mereka dianggap dapat menjadi kunci utama saksi kekejaman aparat pada masa Orde Baru.
Malam hari keberangkatan Yazid. Sebelum menjelang tidur. Yazid sempat mengajak bicara Bibi. Dia mengatakan yang sebenarnya dan berpesan untuk tidak menceritakannya kepada sembarang orang bahwa sebenarnya dia dapat bekerja di Surabaya karena bantuan temannya yang aktivis itu.
Selama Yazid bersama Bibi di sini. Tidak pernah Bibi melihat Yazid mengeluh sebab hidupnya yang selalu dirundung duka. Mungkin ia hanya protes pada keadaan. Seperti menyesal tidak bisa berbuat banyak teruntuk kami di sini. Padahal Bibi sering mengatakan bahwa keberadaannya di sini sangatlah berarti. Dia berikan semua sisa peninggalan almarhumah ibunya kepada Bibi untuk dipergunakan sebagai modal berjualan makanan kecil anak-anak sekolah yang keberadaannya tidak jauh dari sini. Dia baru minta uang ketika hendak keluar mencari pekerjaan. Bibi tahu bila ada rasa kecewa yang disembunyikan di balik senyumnya setiap kali datang dari perjalanan jauh mencari pekerjaan. Dia buang rasa sesalnya dengan bermain bersama Lailah dan Ridho.
Ada satu saat hati Bibi terasa terusik iba manakala melihat Yazid duduk menyendiri. Wajahnya selalu diarahkan jauh ke timur sana. Bibi bisa merasakan ada sesuatu yang tertinggal di kejauhan sana. Bibi pernah mempertanyakan alasan kenapa ia sering melakukan hal itu. Tapi hanya dijawabnya dengan senyum dan mencoba untuk disembunyikannya. Bibi tahu bila Yazid sengaja tidak menceritakan masalahnya itu pada Bibi. Karena ia khawatir akan menambah beban Bibi.
Yazid bagi Bibi seperti anak sendiri. Begitupun Yazid memandang Bibi seperti ibunya sendiri. Dia sering menceritakan masa kecilnya di kampung. Bahagia bersama ibu meskipun berbalut peluh keringat. Bibi menyaksikan hatinya tersayat ketika ia harus berpisah dengan ibunya. Garis hidupnya kembali bersemi ketika memasuki pesantren. Terlebih saat terakhir kali kembali ke pesantren. Lewat surat yang terakhir kali kami terima. Kami dapat merasakan kebahagiaanya. Hingga pada akhirnya rasa bahagia itu harus terpendam ketika ia harus kembali ke Jakarta sebab kematian pamannya, suami Bibi.
Kini Bibi mengetahui dengan sebenarnya bahwa kebahagiaannya itu adalah engkau, Auliya. Bibi merasa ikut bersalah. Mengapa baru sekarang Bibi mengetahui kisah cinta antara Yazid dan engkau. Andai Bibi tahu yang sebenarnya, pasti Bibi akan menyarankan Yazid untuk menemui engkau di Surabaya, meski itu sesaat. Tapi inilah takdir, sepenggal cerita cinta anak manusia yang tak sampai. Kisah cinta yang terukir setia bertahta duka.”
“Nur, mengapa kisah hidup ini berakhir pedih teruntuk Kak Yazid? Kenapa Tuhan tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk sekedar bertemu dengannya?”
“Auliya, sudahlah, ini takdir Tuhan. Kita hanya bisa berdoa teruntuknya. Semoga dia berbahagia di sisi-Nya.” Nuraini mencoba menghibur Auliya.
Ketika jasad telah terpisah. Maka kenangan menjadi laku untuk diingat. Menyusuri lorong waktu. Melihat berjuta asa telah tertoreh. Di sini akhir kisahnya berujung. Mendapat air mata cerita cinta Yazid yang tak sampai. Lama Auliya menatap ruang rumah tempatnya berada. Terasa gores tinta tangan Yazid menghiasi dinding-dinding.
“Bi, antarkan aku ke pusara Kak Yazid. Di sana akan aku sampaikan salam perpisahan terakhir teruntuknya.”
Kurang lebih setengah jam perjalanan mereka sampai ke pemakaman umum. Ketiganya lalu menuju ke sebuah makam yang tanahnya masih terlihat basah. Mereka berdiri tepat di depan makam Yazid.
“Kak Yazid, engkau telah mewarnai perjalanan hidupku. Engkau ajari aku arti kesetiaan. Engkau ajari aku tentang kasih sayang. Jasad kita telah terpisah. Tapi engkau bawa aku dalam cinta keabadian. Cintanya orang-orang yang mengedepankan perasaan sayang ada di atas segala-galanya. Ini sekedar masalah tempat. Engkau hanya lebih dahulu sampai. Di lain waktu pasti aku akan menyusulmu. Dari sini kutemukan jejak langkahmu. Menyusuri aral jalan yang berliku. Aku masih melihat bekas tetes air matamu di atas tumpukan beban hidupmu. Hanya doa yang bisa kuberikan, semoga ada bahagia di sana!”
Dilangkahkan kakinya meninggalkan makam Yazid. Bisik angin mengantar kepergiannya. Membawa pesan sejuta kenangan. Diajak menari si pohon tua penjaga setia. Bersama menyanyikan lagu menyayat hati. Menanti kembalinya jiwa-jiwa yang sunyi. Sesekali dia menoleh ke belakang.
Jakarta, kota tempatnya para pemuja materi. Di mana nurani terkikis sebab memuaskan jiwa yang kosong dari kesetiaan. Kebersamaan diukur dari apa yang didapat. Manusia laksana mesin berjalan. Bergerak mengikuti langkah pemuas nafsu individu. Hilang rasa sosial. Namun di sini Auliya telah menemukan cinta sejati yang terselip di antara gedung yang bertingkat. Di antara cita yang terlepas. Di antara harap yang terselip.
Suasana di stasiun kereta api Senen seperti hari-hari biasanya. Kesibukan dari orang-orag yang datang dan pergi. Ratusan pencari peruntungan tetap setia menanti calon pembeli. Tempat ini telah menjadi perantara suka dan duka. Dari sini pernah dibawa sejuta asa milik Yazid. Dikirim ke hadapan Auliya. Lama Auliya memperhatikan setiap sisi yang ada di dalam stasiun. Semua bisu seperti enggan untuk bercerita. Ada goretan sejuta cerita di setiap dinding. Seuntai cerita tertoreh di dinding gerbong kereta yang merapat. Di situ tertulis saat Yazid memasuki pintu gerbong. Senyum simpul keluar dari bibirnya sambil mengapit sebuah diary. Disapu sekali lagi air matanya ketika bayang Yazid seperti mengajaknya segera pergi meninggalkan Jakarta menuju Surabaya. 
Hari semakin sore ketika kereta api tujuan Surabaya berangkat. Dari jendela kereta, keduanya melihat wanita bersama kedua anaknya yang berdiri sambil melambaikan tangannya. Air mata haru mengiringi kepergian Auliya dan Nuraini.
Hari masih teramat pagi ketika keduanya sampai di Surabaya. Nuraini merasa perlu mengantar Auliya, karena kondisinya yang masih labil.
Tidak lama kemudian keduanya telah sampai. Beberapa orang terlihat keluar dari dalam rumah untuk menyambut kehadiran Auliya. Tampak pula sanak famili dari Madura.
Auliya menduga berkumpulya keluarga dari Madura terkait hari raya. Namun, mengapa ada kesedihan di wajah mereka? Ibunya yang lebih dahulu menghampirinya.
“Auliya…” Dia peluk Auliya.
“Ibu, ada apa?”
“Nak, tabahkan dirimu…”
Auliya semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Semua mata tertuju kepadanya dengan sorot mata kepedihan. Ia dipapah oleh ibunya hingga masuk ke dalam rumah. Detak jantung Auliya semakin keras terasa manakala telinganya mendengar orang-orang membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Terlebih ketika matanya tertuju kepada sesosok tubuh yang terbaring tertutup kain.
“Apakah ayah…?, atau...? Auliya membatin, seraya terus mendekat.
Tangan kirinya mendekap mulut. Sementara tangan kanannya perlahan menyingkap kain penutup mayit.
“Kak Haikal!!!”
Setelah itu yang ada hanya gelap. Tiada lagi suara yang terdengar.

Surabaya,
31 Desember ‘02
Aku bukan ingin melawan takdir Tuhan. Atau mendahului suratan takdir yang tertulis teruntukku.
Apakah salah bila aku katakan bahwa aku telah mati? Andai esok atau lusa jasadku masih berjalan, bukankah senyum dan tangisnya telah masuk ke alam kubur?
Aku teramat bahagia menatap kematian. Karena di sana kulihat ada senyum orang-orang yang kukasihi.
Auliya.

Entah sudah berapa kali tulisan tertanggal akhir Desember itu ia baca. Rasanya baru kemarin kejadian itu berlangsung. Matanya kembali menerawang pada tujuh tahun silam. Saat itu Auliya terbujur lemah di rumah sakit. Derita yang disebabkan oleh kepergian orang-orang yang dicintai. Belum kering air mata karena mengetahui kematian Yazid. Kepiluan lalu ditambah oleh kematian suami tercinta, Haikal, saat bekerja di negeri orang. Status sebagai pekerja ilegal membuat diri Haikal menjadi buruan polisi Malaysia. Hingga akhirnya sebutir peluru menembus dadanya saat ia mencoba berlari dari kejaran polisi Malaysia. Jasadnya terlantar oleh karena alamat yang tidak jelas. Setelah beberapa hari lamanya, jasadnya baru bisa sampai ke Surabaya. Auliya jatuh pingsan saat mengetahui jasad yang terbujur kaku di rumahnya adalah Haikal.
“Nuraini, simpan diary ini. Di dalamnya ada kubangan air mata anak manusia. Diisi oleh tinta tangis milik kak Yazid. Sengaja kututup dengan tulisan air mata bahagia!”
Demikian pesan Auliya kepada Nuraini. Tidak lama kemudian Auliya dijemput oleh kematian.     
          

   
  

0 komentar:

Posting Komentar

 

Followers

About Me

Foto Saya
Ahmad Lahmudin
Saya bekerja sejak awal sebagai guru..
Saya berdoa akhir hayat sebagai guru..
Istri saya juga seorang guru..
Bila takdir anak-anak saya menjadi guru..
Mudah-mudahan kami semua diberkahi menjadi guru..
Amiin..
Lihat profil lengkapku

Translate