ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN
الحمد لله الذى جعلنا من الناصحين , وافهمنا من علوم العلماء الراسخين
. والصلاة والسلام على من نسخ دينُه أديانَ الكفرة والطالحين , وعلى اله واصحابه
الذين كانوا بتمسك شريعته صالحين .
Kabut hitam seakan terus bergelayut menyelimuti negeriini. Tepat hari
Minggu, 25 September lalu, kembali kita dikejutkan oleh aksi bom bunuh diri di
Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Sebelumnya,
masih terasa terngiang di telinga, 15 April 2011, kejadian bom bunuh diri terjadi
di masjid Polresta Cirebon, Jawa Barat, persis saat seperti ini, ketika kaum muslimin
berkumpul untuk melaksanakan kewajiban ibadah shalat jum’at berjama’ah. Sungguh teramat biadab, pelaku bom bunuh diri tidak lagi melihat di mana tempat kejadian dan siapa korbannya.
Anakku sayang..
Semua agama, dalam tataran normative pasti mengajarkan umatnya kepada perdamaian, kerukunan dan kasihsayang.
Islam pun demikian adanya, dating dengan membawa misi cinta damai, sebagai rahmatan lilalamin yang
mencakup seluruh makhluk, baik manusia, hewan, dan jin.
Sebagaimanafirman Allah SWT:
وما ارْسلناك اِلّا رحمة للعالمين
Dan tidaklah Kami utus kamu, kecuali sebagai rahmat untuk sekalian alam (QS. Al-Anbiya: 107)
Dengan demikian, bila ada penganut agama manapun yang menyalahi nilai universal agama, yaitu cinta damai,
maka dapat dipastikan dia telah menyalahi
agama yang dianutnya.
Anakku sayang..
Syariat Islam turun ke bumi semata-mata untuk mengusung
kemaslahatan bagi umat manusia. Nilai-nilai ajarannya selalu bermuara kepada dua
hal, yaitu menciptakan kebaikan (jalbunnaf’i), dan menolak kemudharatan
(daf’uddharar) bagi umat manusia.
Berangkat dari sinilah,
ada lima pilar pokok (alkulliyatul khams) yang menjadi ruh ajaran
Islam. Yakni, memelihara agama (khifdzud din), memelihara jiwa (khifdzun nafs), memelihara akal (khifdzul aql), memelihara keturunan (khifdzun nasl), dan memelihara harta (khifdzul
mal)
Dari kelima pokok ajaran
Islam ini, dapat dipahami bila Islam sangat menghargai jiwa manusia. Islam melarang keras pembunuhan jiwa manusia yang tak berdosa. Allah SWT berfirman:
منْ قتل نَفْسًا بِغَيْرِ نفْسٍ اَوْ فسادٍ فى الارضِ فكأنّما قتل
النّاسَ جميْعًا
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau karena bukan membuat kerusakan di muka bumi,
maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya (QS. Al-Maidah: 32)
Dalam ayat lain Allah SWT
berfirman:
ولا تَقْتُلُوا انفسَكمْ
Janganlah kamu membunuh dirimu
(QS. An-Nisa: 29)
Dengan jelas, betapa kedua ayat ini bercita-cita agar di muka bumi ini tidak terjadi pertumpahan darah sedikitpun. Baik membunuh orang lain maupun membunuh
diri sendiri. Karena itulah, Islam melarang mengorbankan jiwa untuk kepentingan
apapun tanpa alasan yang sah menurut syara’ (agama). Sebagaimana yang
dikemukakan para mufassir (ahli tafsir al-qur’an), bahwa kata ‘anfusakum’ dalam surah an-Nisaayat 29 bisa berarti membunuh
orang lain maupun diri sendiri. Dengan demikian, jelas bahwa pada dasarnya bom bunuh
diri dilarang dalam Islam. Karena hal itu termasuk membinasakan diri sendiri.
Hal ini secara otomatis tentu bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, yaitu khifdzun
nafs atau memelihara jiwa.
Anakku sayang..
Demikianlah, setiap bentuk kekerasan yang mengatas
namakan agama sangat bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, yaitu rahmat untuk
seluruh alam. Upaya memberantas teroris harus terus dilakukan. Salah satunya dengan
program deradikalisasi. Semua elemen dalam masyarakat harus diikutsertakan. Yang
terpenting adalah keteladanan dari diri kita sebagai pejabat publik. Motto
sebagai pelayan masyarakat bukan hanya sebatas slogan, tapi harus membumi. Kepercayaan masyarakat akan
timbul bila penegakan hukum tidak hanya menyentuh rakyat jelata, tapi bagi semua,
tanpa terkecuali.
Kita juga berharap, kemiskinan yang membelenggu 30
juta lebih penduduk negeri ini dapat teratasi. Sebab kemiskinan juga menjadi salah
satu faktor munculnya benih teroris.
Demikian anakku sayang. Mudah-mudahan kita semua
dapat menjadikan diri kita bagian dari rahmatan lil ‘alamin, berguna bagi orang
lain, siapapun dia, dari manapun agamanya..
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
رُسُلًا مُبَشِّرِيْنَ ومُنْزِرِيْن لِئَلَّا يَكوْنَ لِلنّاسِ على
اللهِ حُجَّةٌ بعد الرُّسُلِ
Artinya: (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
agar supaya tidak ada alas an bag imanusia membantah
Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu (QS. An-Nisa:165)
0 komentar:
Posting Komentar